Advertorial:

Menunggu Hasil Perkawinan Jose Mourinho dan Tottenham Hotspur

Oleh: Advertorial - 22 November 2019
Dibaca Normal 3 menit
José Mourinho resmi memasuki babak baru di Tottenham Hotspur sebagai pelatih pada laga kontra West Ham akhir pekan ini.
tirto.id - José Mourinho adalah pelatih dengan garansi gelar. Tottenham Hotspur sudah 11 musim tak meraih gelar. Kedua entitas itu kini bersatu, dan memulai petualangan bersama sejak pertandingan kontra West Ham United dalam lanjutan Premier League pada Sabtu (23/11/2019) pukul 19.30 WIB di London Stadium. Apa yang bisa dihasilkan dari perpaduan Mou-Spurs?


Mourinho Sang Pemenang

Di bawah pelatih Mauricio Pochettino selama lima musim lebih, Tottenham memang mendapatkan respek besar. Mereka mampu menjaga persaingan dengan kesebelasan elite Inggris. Spurs bahkan musim lalu menembus final Liga Champions UEFA. Namun, bagaimana pun, Tottenham butuh gelar.

Trofi terakhir yang dirasakan The Lily Whites adalah Piala Liga Inggris 2007/08. Sebaliknya, Mourinho adalah jaminan gelar. Di Manchester United, dia dapat mengantarkan trigelar pada 2017: Community Shield, Piala Liga Inggris, dan Liga Europa UEFA.

Di Chelsea pada musim 2004/05, Mourinho mampu menyodorkan gelar juara Premier League pertama dalam 50 tahun terakhir. Sementara pada 2009/10, pelatih berkebangsaan Portugal ini menghadiahkan gelar Liga Champions pertama untuk Internazionale Milan dalam 45 musim terakhir.

Bisa mendapatkan trofi di Porto, Chelsea (dalam dua periode), Inter, Real Madrid, lalu Manchester United, kini tantangan bagi Mourinho adalah Tottenham. Di kesebelasan ini, ada banyak pemain bintang dalam usia emas, mulai dari penyerang ulung Harry Kane (26 tahun), Son Heung-min (27), Bamidele Alli (23), Christian Eriksen (27), hingga Jan Vertonghen dan Hugo Lloris (sama-sama 32 tahun).

Namun Mourinho, yang mengaku lebih rendah hati daripada sebelumnya, sejak awal mengingatkan bahwa trofi adalah hasil kerja keras semua elemen kesebelasan, bukan hanya dirinya seorang.

“Jika kami memenangi gelar, hal tersebut bukanlah konsekuensi [kehadiran] saya, tapi konsekuensi kinerja kesebelasan. Segalanya dimulai dari visi [kesebelasan]. Kontrak saya 3,5 tahun, tapi jika kami memiliki trofi dalam periode saya, ini adalah konsekuensi natural dari visi dan rencana [kesebelasan],” terang Mourinho dalam konferensi pers pertamanya untuk Spurs.

Tottenham Meniru Real Madrid

Pemilik Spurs, Daniel Levy, punya contoh bagus tentang pentingnya mengangkat Mourinho sebagai pelatih. Contoh itu datang dari Real Madrid, kesebelasan yang membajak Luka Modric dan Gareth Bale dari kesebelasan asal London tersebut.

Sebelum Mourinho hadir, Real Madrid sedang dalam “krisis besar”. Disebut demikian karena di hadapan mereka ada FC Barcelona yang pada tahun pertama bersama Pep Guardiola, 2009, menyapu bersih enam gelar yang tersedia: La Liga Spanyol, Copa del Rey, Liga Champions, Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub.

Pada musim kedua, Barcelona nyaris mengulang hal sama. Namun di semifinal Liga Champions 2009/10, kesebelasan Katalunya itu dihentikan oleh Inter Milan era Mourinho, dalam dua laga yang menghasilkan kutipan spektakuler: “Semua orang berkata kami memarkir bus [di Camp Nou], tetapi itu tidak benar karena kami memarkir pesawat.”

Ketika Mourinho datang ke Real Madrid, dia berhasil membawa Los Blancos bersaing dengan Barcelona. Memang, Mourinho hanya menghasilkan tiga trofi di Madrid dalam tiga musim, sementara Barcelona mampu memperoleh delapan piala. Namun dia membawa mentalitas penting untuk kubu Santiago Bernabéu.

Faktanya selama Mourinho berada di Real Madrid, kesebelasan tersebut selalu hanya terhenti di babak semifinal Liga Champions. Padahal dalam enam edisi sebelumnya, Los Blancos cuma bisa menembus babak 16 besar. Mentalitas itu kemudian diklaim Mourinho berguna untuk gelar Liga Champions ke-10 yang ditunggu-tunggu Madrid di era Carlo Ancelotti, semusim setelah Mourinho pergi.

“Ketika saya tiba di Real Madrid, mereka tidak pernah menembus perempat final hampir dalam satu dekade. Ketika kami berjumpa Lyon di 16 besar (musim 2010/11, musim pertama Mourinho) kesebelasan panik. Kami melewati dinding penghalang, dan kesebelasan berubah, pemain berubah: Kami berpikir bisa memenangi kompetisi,” kata Mourinho dikutip Marca.

Jika melihat yang dilakukan Mourinho di Real Madrid, bukan tidak mungkin tujuan Levy memberikan kesempatan untuknya di Tottenham adalah memberikan mentalitas juara. Pasalnya, inilah yang kurang dari skuad Spurs di era Pochettino.

Tottenham bisa masuk final Piala Liga Inggris 2014/15, tetapi kalah dari Chelsea. Selain itu, sejak 2015/16 hingga 2017/18, Spurs selalu finis di tiga besar Premier League, tetapi tak pernah jadi juara. Musim lalu, kesebelasan ini cuma jadi finalis Liga Champions.

Tidak Aneh Jika Tottenham Langsung Melesat

José Mourinho identik dengan sepakbola bertahan. Selain ucapannya soal Inter Milan yang “parkir pesawat” di Camp Nou pada 2010, Mourinho juga pernah memakai tiga pivot sekaligus dalam beberapa kali laga Real Madrid kontra Barcelona.

Namun pertahanan menjadi masalah besar Mourinho pada musim terakhirnya di Manchester United. Dalam 17 laga perdana Premier League 2018/2019, United hanya menang tujuh kali dan terbobol 29 kali.

Sementara itu, Tottenham Hotspur hingga pertandingan ke-12 musim ini sudah kebobolan 17 kali dan hanya menang tiga kali. Di sisi lain, Spurs memiliki 14 poin dan duduk di peringkat ke-14. Seolah ini petaka, padahal mereka hanya berjarak tiga poin (setara satu kemenangan) dengan Sheffield United yang ada di peringkat kelima klasemen.

Perbedaan poin tipis namun jarak klasemen lebar ini menandakan sebenarnya tidak mengejutkan jika nantinya Mourinho bisa mengangkat Spurs ke papan atas. Sederhananya, level persaingan Premier League sekarang sedang sengit. Ada 11 kesebelasan di peringkat kelima hingga ke-15 yang saat ini cuma berbeda tiga poin.

Namun, sejak awal Mourinho bahkan sudah mewanti-wanti agar fans Tottenham tidak berharap banyak kepadanya musim ini. Sang pelatih asal Portugal ini sebelumnya pernah datang ke sebuah kesebelasan pada tengah musim, yaitu ketika menangani Porto pada Januari 2002, menggantikan Octávio Machado.

Saat itu, Mourinho membawa Porto yang awalnya di peringkat kelima menembus tiga besar di klasemen akhir Liga Portugal. Kemudian dalam dua musim beruntun, dia menghadirkan gelar liga untuk kesebelasan tersebut.

Meski begitu, untuk Tottenham, Mourinho tak ingin bercermin kepada Porto untuk bernostalgia. “Kami tidak bisa menjadi juara Liga Inggris musim ini. Kami bisa—saya tidak berkata akan—juara musim depan,” kata Mourinho.

Pertandingan pertama Mourinho bersama Tottenham adalah laga kontra West Ham United pada Sabtu (23/11/2019) pukul 19.30 WIB. Pertandingan ini dapat ditonton melalui live streaming Mola TV, baik melalui perangkat Mola Polytron Streaming atau melalui aplikasi Mola TV di mobile.
DarkLight