tirto.id - Ratu Thailand, Suthida Bajrasudhabimalalakshana, berhasil menerbangkan pesawat Saab JAS 39C Gripen secara solo pada 8 Oktober 2026 di Pangkalan Udara Kerajaan Thailand (RTAF) Wing 8, Surat Thani.
Penerbangan tersebut berlangsung selama 41 menit, dan Sang Ratu tercatat sebagai pilot Gripen perempuan pertama Thailand.
Terkait pesawat Gripen buatan Swedia ini, Angkatan Udara Thailand juga sudah memesan tambahan Gripen generasi terbaru untuk menambah kekuatan tempurnya.
Lalu apa saja keistimewaan jet tempur JAS Gripen? Apa keunggulan Gripen jika dibandingkan jet tempur sekelas yang lainnya?
Mengenal Jet Tempur Saab JAS 39C Gripen yang Diterbangkan Ratu Thailand
Penerbangan solo oleh Ratu Suthida cukup menjadi perhatian dunia penerbangan militer. Ia menerbangkan jet tempur Saab JAS 39C Gripen milik Angkatan Udara Kerajaan Thailand (Royal Thai Air Force/RTAF).
Gripen merupakan jet tempur buatan Swedia yang sudah menjadi bagian penting dari sistem pertahanan udara Thailand selama lebih dari satu dekade.
Gripen merupakan pesawat tempur multirole buatan perusahaan kedirgantaraan dan pertahanan Swedia, Saab. Sedangkan tambahan nama JAS merupakan singkatan dari Jakt, Attack, dan Spaning. Pesawat ini dirancang untuk menjalankan 3 jenis tugas utama: pertempuran udara, serangan ke sasaran darat, serta pengintaian.

Gagasan pengembangan pesawat ini muncul ketika Swedia butuh pesawat tempur pengganti untuk generasi sebelumnya, termasuk Saab Viggen. Kajian pesawat sudah dilakukan sejak 1970-an. Sementara prototipe Gripen pertama terbang perdana pada 1988.
Pesawat yang diterbangkan Ratu Suthida adalah JAS 39C, yakni varian Gripen dengan satu kursi pilot. Sementara Gripen D merupakan versi 2 kursi, yang umumnya digunakan untuk pelatihan dan penerbangan bersama instruktur. Keduanya masuk dalam tiper Gripen C/D.
Sebelum menerbangkan Gripen C seorang diri, Ratu Suthida sudah menjalani serangkaian persiapan, termasuk latihan bersama instruktur dengan pesawat tipe D, maupun latihan menggunakan simulator.
Dalam klasifikasi umum, Gripen C/D digolongkan sebagai pesawat tempur generasi keempat, yang sudah mengalami berbagai modernisasi.
Angkatan Udara Thailand mulai mengoperasikan Gripen C/D sejak 2011 silam. Secara keseluruhan, Thailand membeli 12 unit Gripen C/D. Tapi 1 pesawat JAS 39C hilang pada kecelakaan Januari 2017. Sampai Oktober 2026, Angkatan Udara Thailand tercatat mengoperasikan 11 unit Gripen.
Thailand pun berencana memperbarui dan memperkuat armada Gripen. Pada 25 Agustus 2025, Saab mengumumkan kontrak pengadaan 4 pesawat generasi terbaru Gripen E/F. Pesanan terdiri 3 Gripen E (kursi tunggal) dan 1 Gripen F (kursi ganda).
Teknologi JAS 39 Gripen, dari Kecepatan hingga Persenjataan
Salah satu keunggulan Saab JAS 39 Gripen terletak pada kemampuannya menggabungkan kecepatan tinggi, kelincahan, sistem deteksi, serta persenjataan. Kombinasi teknologi tersebut membuat Gripen bisa menjalankan berbagai misi.
Pada varian C/D, kemampuan itu ditunjang oleh mesin turbofan tunggal, desain aerodinamis sayap delta-canard, serta sistem radar dan peperangan elektronik.
Gripen C menggunakan satu mesin turbofan Volvo RM12 yang dikembangkan berdasarkan mesin General Electric F404. Mesin ini dilengkapi afterburner, sistem tambahan yang menyemprotkan bahan bakar ke aliran gas buang setelah melewati turbin.
Teknologi afterburner berguna ketika pesawat membutuhkan akselerasi cepat, misalnya saat lepas landas, melakukan manuver, atau mengejar dan menghadapi pesawat lain. Gripen mampu melaju pada kecepatan supersonik. Menurut Swedish Defence Materiel Administration (FMV), kecepatan maksimum Gripen C/D mencapai Mach 2.

Gripen memiliki konfigurasi sayap delta yang dipadukan dengan canard, yaitu sepasang bidang sayap kecil di bagian depan pesawat. Bentuk sayap delta menyerupai segitiga dan dirancang untuk mendukung penerbangan pada kecepatan tinggi.
Kemampuan mendeteksi sasaran jadi faktor penting dalam pertempuran udara. Gripen C/D menggunakan radar PS-05/A yang dikembangkan Saab. Radar multifungsi ini dapat mencari dan melacak target di udara, sekaligus mendukung misi serangan ke permukaan darat maupun laut.
Gripen C/D dilengkapi sistem peperangan elektronik atau electronic warfare (EW). Teknologi ini berkaitan dengan penggunaan spektrum elektromagnetik, terutama gelombang radio dan radar. Hal ini untuk mendeteksi, mengidentifikasi, mengganggu, atau melindungi diri dari sistem elektronik lawan.
Sebagai pesawat tempur multirole, Gripen C dirancang untuk membawa berbagai jenis persenjataan sesuai kebutuhan misi. Saab mencatat varian ini memiliki delapan titik pemasangan atau hardpoints.
Titik tersebut digunakan untuk memasang rudal, bom, tangki bahan bakar tambahan, maupun perangkat misi lainnya. Total beban eksternal maksimum Gripen C/D mencapai sekitar 5.300 kilogram.
Apa Keunggulan Jet Tempur Gripen Dibanding Pesawat Lain yang Sejenis?
Keunggulan jet tempur tidak hanya ditentukan oleh kecepatan maksimum serta kecanggihan persenjataan. Biaya operasional, kemudahan perawatan, kebutuhan landasan pacu, dan kemampuan menjalankan berbagai misi juga menjadi pertimbangan
Salah satu keunggulan yang kerap dikaitkan dengan Gripen adalah rancangan yang menekankan efisiensi pengoperasian. Pesawat ini dirancang agar bisa dirawat oleh tim darat yang relatif kecil, menggunakan peralatan pendukung yang sederhana, lalu kembali menjalankan misi dalam waktu singkat.
Gripen dirancang untuk beroperasi dengan landasan yang relatif pendek. Menurut Saab, Gripen C/D dapat menggunakan landasan sepanjang sekitar 800 meter, dengan lebar 16 meter. Pesawat ini bahkan dirancang mendukung operasi dari jalan raya.
Akan tetapi kemampuan lepas landas dari landasan pendek tetap dipengaruhi oleh bobot pesawat, bahan bakar, persenjataan, cuaca, serta kondisi permukaan landasan.

Dari sisi misi militer, Gripen dapat menjalankan tugas udara-ke-udara, udara-ke-permukaan, serta misi pengintaian. Pilot dapat mengubah peran pesawat selama penerbangan sesuai kebutuhan operasi.
Gripen bukan satu-satunya jet tempur multirole. Kemampuan tersebut juga dimiliki oleh F16, juga Rafale dan Eurofighter Typhoon. Namun perbedaan utamanya terletak pada pendekatan desain, biaya, dan kebutuhan operasional.
Gripen menawarkan ukuran yang relatif ringkas serta rancangan yang menekankan efisiensi perawatan dan kemampuan beroperasi dari pangkalan yang tersebar.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id






























