tirto.id - Dewasa ini kendaraan listrik makin menarik minat masyarakat, terutama dengan tawaran biaya operasional yang relatif efisien. Namun umumnya ada hal yang masih mengganjal pada calon pengguna. Apakah mengecas kendaraan listrik di rumah perlu daya besar?
Sejatinya kebutuhan daya untuk mengecas kendaraan listrik di rumah tergantung pada jenis kendaraan, kapasitas baterai, serta perangkat pengisian.
Hal tersebut membuat kapasitas listrik di rumah menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum memutuskan membeli kendaraan listrik. Pemilik perlu menghitung kebutuhan charging baterai serta pemakaian peralatan rumah tangga lain agar pasokan listrik tetap mencukupi.
Lantas, berapa daya listrik untuk mengecas kendaraan listrik di rumah? Apakah kapasitas listrik rumah tangga pada umumnya sudah memadai?
Perbandingan Kapasitas Listrik Rumah Tangga dan Daya Pengisian Kendaraan
Sebagaimana dijelaskan Total Energies, sebelum menghitung kebutuhan daya, ada 3 satuan listrik yang perlu dipahami, yaitu kilowatt (kW), kilowatt-hour (kWh), dan volt-ampere (VA). Masing-masing mengukur aspek kelistrikan berbeda.
Kilowatt (kW) merupakan satuan daya untuk menyatakan besarnya energi listrik dalam satu waktu (1 kilowatt setara dengan 1.000 watt). Terkait mengecas kendaraan listrik, angka ini mengacu besarnya daya dari charger saat mengisi baterai.
Sementara kilowatt-hour (kWh) merupakan satuan energi untuk menghitung jumlah listrik selama periode tertentu. Kapasitas baterai kendaraan listrik memakai satuan tersebut. Sebagai contoh, baterai berkapasitas 40 kWh bisa menyimpan energi 2 kali lebih banyak ketimbang baterai 20 kWh.
Kemudian volt-ampere (VA) dalam konteks ini mengacu satuan daya semu yang dipakai PLN untuk menentukan kapasitas listrik rumah. Angka di meteran listrik rumah (misalnya 1.300 VA, 2.200 VA, atau 3.500 VA) menunjukkan batas maksimal listrik yang bisa dipakai secara bersamaan di rumah.

Kalau total daya semua peralatan termasuk charger kendaraan listrik melebihi kapasitas VA di rumah, maka listrik bisa putus atau meteran trip alias njegleg.
Dengan kata lain, kW menunjukkan daya pengisian, kWh menggambarkan jumlah energi dalam baterai, sementara VA menyatakan kapasitas listrik terpasang di rumah.
Di Indonesia, pelanggan rumah tangga memiliki beberapa pilihan kapasitas daya. Menurut Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2024, pelanggan rumah tangga kecil berada pada golongan 900 VA-RTM, 1.300 VA, dan 2.200 VA. Adapun rumah tangga menengah (R-2/TR) memiliki daya 3.500 VA hingga 5.500 VA.
Kapasitas tersebut menjadi batas bagi seluruh peralatan listrik di rumah, seperti lampu, kulkas, televisi, pompa air, hingga pendingin ruangan. Rumah berdaya 2.200 VA, harus membagi kapasitas yang ada untuk memenuhi semua kebutuhan listrik penghuni rumah.
Jika total pemakaian melampaui kapasitas terpasang, pemutus arus atau MCB bakal menghentikan aliran listrik secara otomatis. Kondisi ini bisa terjadi ketika charger kendaraan listrik menyala bersamaan dengan AC, pompa air, atau mesin cuci.
Butuh Berapa Daya untuk Charging Kendaraan Listrik?
Kebutuhan daya untuk mengecas kendaraan listrik bergantung jenis kendaraan dan perangkat pengisian yang dipakai. Sepeda motor listrik umumnya membutuhkan daya lebih kecil ketimbang mobil listrik. Karenanya kapasitas listrik rumah tangga 900 VA atau 1.300 VA masih dapat mencukupi untuk sejumlah model motor listrik.
Sebagai contoh, Polytron mencantumkan kebutuhan daya charger sebesar 450 watt untuk Fox 200, serta 900 watt untuk Fox 350 dan Fox 500. Produsen tersebut merekomendasikan kapasitas daya listrik rumah minimal 900 VA untuk Fox 200, dan 1.300 VA untuk Fox 350 maupun Fox 500.
Kebutuhan daya lebih besar muncul ketika pemilik beralih ke mobil listrik. Wuling Air ev, misalnya, menyediakan 2 pilihan perangkat pengisian di rumah. Berdasarkan penjelasan resmi Wuling, perangkat Socket Box memiliki daya pengisian 2.200 watt, sementara Charging Pillar mampu menyalurkan daya hingga 7.700 watt.

Perbedaan daya tersebut menentukan kapasitas listrik rumah yang perlu disiapkan. Penggunaan Socket Box berdaya 2.200 watt butuh pasokan listrik besar. Jika rumah hanya memiliki kapasitas 2.200 VA, maka pemilik perlu memperhitungkan pemakaian peralatan lain seperti AC, kulkas, dan pompa air, agar total beban tidak melampaui kapasitas daya yang terpasang.
Kebutuhan daya kian besar jika pemilik memakai perangkat wall charger. Sebagai contoh, Hyundai menjelaskan bahwa perangkat wall charging untuk Kona Electric dan Ioniq Electric memiliki keluaran daya 7,2 kW atau setara 7.200 watt.
Guna mendukung berbagai kebutuhan mengecas kendaraan listrik, PLN menyediakan layanan penyambungan listrik khusus home charging. Kapasitas yang ditawarkan mencapai 7.700 VA untuk instalasi satu fase, serta 13.200 VA untuk instalasi 3 fase.
Sebagai alternatif, apabila kapasitas listrik di rumah masih terbatas, pemilik kendaraan listrik bisa mengisi baterai di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) milik PLN. SPKLU tersedia di berbagai lokasi strategis, termasuk pusat keramaian dan rest area di jalur perjalanan jauh.
PLN menyediakan 4 kategori pengisian, yakni standard charging hingga 7 kW, medium charging 7-22 kW, fast charging 22-50 kW, lalu ultra fast charging di atas 50 kW. Pemilik kendaraan dapat mencari SPKLU terdekat melalui aplikasi PLN Mobile, kemudian melakukan transaksi secara digital.
Faktor yang Memengaruhi Kebutuhan Daya dan Lama Pengisian Baterai
Setelah mengetahui kebutuhan daya dari tiap metode pengisian, muncul pertanyaan lain, mengapa 2 kendaraan listrik dengan sumber listrik rumah berkapasitas sama bisa memakan waktu pengisian berbeda?
Perbedaan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kapasitas baterai, kemampuan charger, tingkat keterisian baterai, serta kondisi instalasi listrik di rumah.
1. Kapasitas baterai kendaraan
Kapasitas baterai menentukan jumlah energi yang perlu diisi. Baterai berkapasitas 40 kWh butuh energi lebih banyak ketimbang baterai 20 kWh, untuk mencapai tingkat keterisian penuh.Sebagai gambaran, pengisian baterai 40 kWh menggunakan perangkat berdaya 7 kW secara teoritis perlu waktu sekitar 5,7 jam dari kondisi kosong sampai penuh. Sementara baterai 20 kWh membutuhkan sekitar 2,9 jam.
Perhitungan tersebut menggunakan asumsi daya pengisian konstan. Dalam praktiknya, waktu pengisian bisa lebih lama karena adanya kehilangan energi serta perubahan kecepatan pengisian selama proses charging.
2. Kemampuan charger dan kendaraan
Daya pengisian juga tergantung kemampuan perangkat charger dan sistem pengisian internal kendaraan (onboard charger). Menurut US Department of Energy melalui Alternative Fuels Data Center, kecepatan pengisian ditentukan kemampuan perangkat pengisian, kapasitas onboard charger, serta spesifikasi kelistrikan kendaraan.Sebagai contoh, kendaraan dengan pengisian AC maksimal 3,3 kW tidak akan menerima daya 7 kW secara penuh meski terhubung ke wallbox berdaya 7 kW. Sistem kendaraan bakal membatasi daya sesuai kemampuan perangkat internalnya.

3. Tingkat keterisian baterai
Persentase baterai atau state of charge (SoC) turut memengaruhi kecepatan pengisian. Pengisian baterai dari kondisi kosong hingga sekitar 80 persen, umumnya berlangsung lebih cepat ketimbang proses menuju 100 persen.Menjelang kapasitas penuh, sistem pengelolaan baterai (battery management system) mengurangi daya pengisian untuk menjaga keamanan dan kondisi baterai. Karena itu, pengisian dari 80 persen menuju 100 persen butuh waktu relatif lebih lama dibanding pengisian pada tingkat baterai yang lebih rendah.
4. Kondisi suhu dan instalasi listrik
Suhu baterai juga memengaruhi proses pengisian. Sistem pengelolaan baterai memantau temperatur untuk menyesuaikan arus listrik yang masuk. Suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah berpotensi membuat sistem membatasi kecepatan pengisian.Selain kondisi baterai, instalasi listrik rumah perlu mendukung penggunaan perangkat pengisian. Pemilik sebaiknya memastikan kabel, stopkontak, MCB, dan jalur instalasi sesuai dengan kebutuhan daya charger.
Untuk penggunaan wallbox, pemasangan sebaiknya dilakukan oleh teknisi yang kompeten dengan jalur listrik serta pengaman yang sesuai spesifikasi perangkat.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id
































