tirto.id - Bayangkan tumpukan speaker dan subwoofer di belakang sebuah mobil. Terkadang, tinggi tumpukan itu bisa mencapai beberapa meter dan bunyi yang dihasilkannya begitu menggelegar sampai-sampai polisi harus ikut turun tangan. Tak lupa, kelap-kelip lampu turut mengiringi dentuman sonik yang menyembur dari corong-corong audio tersebut.
Dari situ, jika bayangan Anda adalah sound horeg, Anda tidak salah. Faktanya, memang begitulah wujud dan "perilaku" dari subkultur akar rumput tersebut. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa fenomena semacam itu tidak cuma ada di Indonesia? Nun jauh di Amerika Selatan sana, Brasil pun memiliki subkultur sound horeg-nya sendiri. Namanya paredão de som.
Puluhan speaker dan subwoofer itu dapat menghasilkan suara dengan level kebisingan 120 dB alias setara dengan gemuruh mesin jet. Sebagai perbandingan, Kementerian Kesehatan Brasil sudah menyatakan bahwa paparan suara di atas 75 dB selama delapan jam sehari saja sudah bisa merusak pendengaran.
Oleh karenanya, tak mengherankan jika para pelaku paredão de som acap berurusan dengan aparat penegak hukum. Pada April 2024, misalnya, polisi di Teresina, ibu kota negara bagian Piauí, menyita sebuah instalasi paredão di Avenida Maranhão setelah alat pengukur memperlihatkan angka 81 dB. Artinya, tingkat kebisingan paredão itu berada 20 dB di atas batas yang telah ditetapkan. Sebelum itu, selama lima tahun lamanya, warga kota Timon dari negara bagian sebelah sudah secara konstan mengadukan kebisingan dari paredão de som tersebut.
Bagaimana Paredão de som Bermula?
Cerita bermula dari Kingston, Jamaika, pada dekade 1940-an. Kala itu, DJ di sana sudah mulai memasang generator listrik, piringan hitam, dan speaker besar di atas truk untuk menggelar pesta jalanan di kawasan kumuh kota. Mereka menjadikan itu sebagai alternatif hiburan murah bagi masyarakat miskin yang tidak mampu membeli tiket pertunjukan musik "sungguhan". Sistem suara portabel itulah yang kemudian dikenal dengan nama sound system.
Di Maranhão, sound system berevolusi menjadi radiola. Menurut antropolog Carlos Benedito Rodrigues alias Carlão Rasta, yang menulis buku Da Terra das Primaveras à Ilha do Amor, radiola sudah beroperasi di sana bahkan sebelum popularitas reggae meledak di negara bagian itu pada tahun 1970-an. Salah satu radioleiro paling awal adalah José Ribamar Maurício da Costa alias Carne Seca, yang pertama kali tercatat mengoperasikan radiola portabel bertenaga generator di distrik Itamatatiua pada 1974.
Yang menarik dari radiola Maranhão adalah inovasinya yang cukup nyeleneh secara teknis. Para pembuatnya sengaja memperkuat frekuensi treble dan menggunakan output mono alih-alih stereo. Ini bukan karena tidak memahami teknik audio yang benar, melainkan karena mereka paham persis itulah cara terbaik membuat reggae terdengar nyaring dan khas di sistem mereka.
Di Pará, sound system tumbuh menjadi pertunjukan aparelhagem yang lebih mewah. Aparelhagem seperti Super Pop, Rubi, dan Crocodilo bisa menarik puluhan ribu orang dalam satu malam dan menghasilkan miliaran rupiah dari satu acara saja. Super Pop, yang dijalankan oleh DJ Élison dan DJ Juninho bersaudara, adalah perusahaan dengan sekitar 70 karyawan, dan satu unit aparelhagem besar bisa menelan biaya hingga sekitar R$3 juta (sekitar Rp 10,8 miliar).
Di luar Maranhão dan Pará, peredão berkembang melalui jalur lain. Karnaval Salvador tahun 1951 menjadi momen kunci, di mana dua musisi, Dodô dan Osmar, tampil di atas sebuah Ford keluaran 1929 yang dilengkapi dengan amplifier. Itulah salah satu benih dari kultur som automotivo, atau sound system otomotif, yang kelak memunculkan paredão de som dalam wujudnya yang paling dikenal sekarang.
Memasuki dekade 2000-an, kotak speaker semakin mengecil namun semakin bertenaga. Perangkat ini pun semakin banyak mengisi bagasi mobil-mobil pribadi. Salah satu pelopor kultur som automotivo ini adalah Tico Som, seorang perancang paredão dari Ceará yang sudah berkiprah lebih dari 30 tahun dan telah merancang paredão untuk pelanggan di seluruh Brasil hingga ke Argentina, Uruguay, Spanyol, bahkan Amerika Serikat. Tico Som terkenal dengan inovasi caixa cachorro-nya, yakni kotak speaker yang secara khusus menonjolkan frekuensi antara 70 hingga 270 Hz untuk menangkap karakter khas ketukan forró, dengan suara mirip gonggongan anjing.
Salah satu paredão paling ikonik di São Paulo adalah Megatron, dengan lebih dari 100 kotak speaker, pencahayaan menyilaukan, dan lebih dari 60.000 pengikut di Instagram. Kepopulerannya bahkan diabadikan dalam dua lagu funk populer: "Rave do Megatron" karya MC GW dan "Bailão" hasil kolaborasi MC Kevin dan MC Davi.

Bukan Asal Nyaring
Membangun sebuah paredão adalah pekerjaan yang serius dan sangat teknis. Prosesnya berlangsung di garasi khusus yang disebut montadora, tempat para pekerja memotong kayu, mengelas rangka besi, memasang kabel, dan merakit speaker. Namun, sebuah paredão belum dianggap hidup sebelum melalui satu tahap krusial yang disebut alinhamento, atau penyelarasan.
Alinhamento adalah momen ketika seorang ahli audio berdiri beberapa meter di depan paredão yang baru selesai dirakit dan "mendengarkan" suaranya dengan seluruh tubuh. Ia menyesuaikan delay, amplitudo, dan berbagai parameter akustik lainnya sampai semua frekuensi berpadu sempurna dan suaranya bisa mendominasi kerumunan.
Namun, investasi besar itu tidak menghalangi banyak orang karena paredão adalah bisnis yang nyata. Natanael da Silva, yang dikenal sebagai Chacal Paredão, sudah berkecimpung di dunia peredão selama bertahun-tahun dan menerima pesanan dari pesta-pesta, acara keagamaan, hingga kelas zumba di berbagai penjuru Bahia.
Para pemilik paredão juga kerap menyewakan jasanya untuk kampanye politik, khususnya menjelang pemilu. Ketika sebuah paredão beroperasi di satu kawasan, seluruh rantai ekonomi informal ikut bergerak. Mulai dari salon kecantikan, toko pakaian, warung makan, hingga pedagang minuman, semuanya kebagian pelanggan.
Meski demikian, para pemilik dan penggemar paredão tidak pernah benar-benar bebas dari tekanan hukum. Di São Paulo, sebuah peraturan yang dikenal sebagai "anti-pancadão" (anti-pesta jalanan) mulai berlaku pada 2014 dan membatasi emisi suara kendaraan yang parkir, dengan ancaman denda R$1.000 s/d R$4.000(Rp3,5 s/d Rp14 juta). Di Fortaleza, larangan serupa atas penggunaan paredão di tempat umum sudah berlaku lebih awal.
Puncak tekanan hukum itu datang pada 2019, ketika Badan Lalu Lintas Nasional (CONATRAN) mengeluarkan resolusi yang melarang paredão secara nasional. Paredão dikategorikan sebagai pelanggaran berat lalu lintas, dengan sanksi berupa pengurangan 5 poin SIM, denda R$195,23 (Rp700 ribu), dan penahanan kendaraan.
Meski demikian, beberapa kota punya pendekatan yang lebih pragmatis. Natal, misalnya, sejak 2016 memiliki peraturan yang menciptakan kawasan khusus dan legal bagi pertemuan som automotivo, sehingga komunitas paredão bisa beroperasi tanpa melanggar hukum dan tanpa mengganggu warga sekitar.
Adapun, pada 2017, Dewan Kota Belém sempat mengesahkan rancangan peraturan yang mengakui som automotivo sebagai warisan budaya tak benda kota itu. Wali Kota Zenaldo Coutinho memvetonya, berargumen bahwa paredão tidak merepresentasikan "manifestasi budaya yang signifikan" bagi masyarakat Pará. Pro-kontra atas paredão de som ini sedikit banyak mirip dengan apa yang dialami sound horeg di Indonesia.
Di tengah berbagai tekanan itu, paredão terus menemukan ruang-ruang baru. Di Pernambués, salah satu kawasan dengan populasi kulit hitam terbesar di negara bagian Salvador, DJ Paulilo menciptakan Paulilo Paredão, yang diklaim sebagai pesta paredão 100% LGBTQIA+ pertama di Nordeste (kawasan Timur Laut Brasil). Lingkungan paredão selama ini memang dikenal sangat didominasi norma heteroseksual, sehingga banyak orang dari komunitas LGBTQIA+ merasa tidak aman atau tidak disambut di sana. Paulilo Paredão muncul untuk menjawab tantangan itu.
Paredão de som, pada akhirnya, lebih dari sekadar tumpukan speaker. Ia adalah infrastruktur hiburan rakyat yang lahir dari kebutuhan untuk bersenang-senang secara kolektif tanpa harus membayar mahal. Di sepanjang perjalanannya, paredão menyerap musik, budaya, dan pergulatan sosial dari setiap kota yang dilaluinya. Dari reggae Maranhão hingga funk São Paulo; dari pagodão Bahia hingga forró Ceará.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































