Mendikbud: Banyak Siswa Mengeluh, Tapi Nilai Matematika UNBK Naik

Oleh: Hendra Friana - 28 Mei 2018
Dibaca Normal 1 menit
Kemendikbud menunjukkan rata-rata nilai matematika meningkatkan dibandingkan tahun lalu.
tirto.id - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyebut bahwa tingkat kesulitan soal dalam Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) SMP tak banyak mempengaruhi nilai siswa.

Meski para siswa banyak mengeluhkan soal-soal yang ada, hasil evaluasi sementara Kemendikbud menunjukkan nilai sempurna pada mata pelajaran matematika meningkatkan dibandingkan tahun lalu.

"Yang menarik saat banyak yang komplain soal nilai yang turun, justru [nilai] sempurna di MTK [Matematika] naik tinggi. Anak-anak yang mencapai nilai 100 itu luar biasa naik, hampir dua kali lipat dibanding tahun lalu," ujar Muhadjir di gedung Metro TV, Kedoya, Jakarta Barat pada Minggu (27/5/2018) malam.

Lantaran itulah, kata Muhadjir, kementeriannya tak akan menurunkan standar ujian nasional berbasis komputer (UNBK) untuk SMP serta SMA. Ia juga memastikan UNBK tahun depan bakal tetap menggunakan soal berstandar standar High Order Thinking Skill (HOTS).

"Pasti akan kami teruskan. Mendikbud bisa saja menurunkan standar, lalu skornya naik semua. Tapi kami tak mau karena ingin membenahi pendidikan," ujarnya.

Menurut Muhadjir, Indonesia telah lama tertinggal dari berbagai negara terkait tingkat kesulitan soal dalam ujian nasional. Sebab dalam ujian, katanya, "standar yang diujikan kepada siswa adalah lower medium order thinking."

Standar yang ia sebut masuk ke dalam kategori Low Order Thinking Skill (LOTS) yang pengujiannya hanya sebatas pada tingkat menyimpan informasi ilmu pengetahuan saja.

Padahal, berbagai negara telah memakai HOST yang ada dalam Programme for International Student Assessment (PISA). Standar soal-soal dalam HOTS mencakup kompetensi analisa, berpikir kritis, memecahkan masalah, meningkatkan kreativitas, hingga menghasilkan inovasi.

"Saya tahu kebijakan ini tidak populer, bahkan saya sempat diminta untuk mundur, karena dianggap tidak sukses. Itu enggak masalah, saya memang tidak cari popularitas. Ini untuk benahi pendidikan," tuturnya.

Muhadjir juga menepis anggapan bahwa selama ini soal HOTS tidak diajarkan dan diterapkan di sekolah. Menurutnya, para guru telah diberikan penyuluhan terkait soal HOTS, baik cara membuatnya maupun menyelesaikannya.

Dalam PISA, kata Muhadjir, persentase soal dengan standar HOTS telah mencakup sebesar 25 persen. Ia berharap, kesiapan sekolah-sekolah di Indonesia untuk menghadapi soal-soal HOTS bisa lebih ditingkatkan sehingga standar kemampuan dan kompetensi siswa bisa meningkat.

Apalagi soal HOTS juga dapat dipakai mengukur pencapaian tertinggi yang bisa digapai para siswa di Indonesia. "Kalau enggak seperti itu kita ketinggalan. Enggak bisa bersaing dengan dunia internasional nanti," tandas Muhadjir.


Baca juga artikel terkait UNBK 2018 atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Yuliana Ratnasari