Menuju konten utama

Kenapa Houthi Menyerang Arab Saudi? Ini Situasi Terbarunya

Houthi kembali menyerang Arab Saudi dengan rudal dan drone. Simak alasan serangan, sejarah konflik Yaman, dan situasi terkini di Timur Tengah.

Kenapa Houthi Menyerang Arab Saudi? Ini Situasi Terbarunya
Para penumpang yang hendak menuju Arab Saudi masih terlantar di Bandara Internasional Hazrat Shahjalal di Dhaka pada 12 Oktober 2026, setelah penerbangan mereka dibatalkan sehari pascaserangan Houthi terhadap bandara internasional Riyadh. Pada 12 Oktober, otoritas penerbangan sipil Arab Saudi memperpanjang penangguhan operasional di bandara internasional Riyadh menyusul serangkaian serangan mematikan oleh kelompok Houthi di tengah perang Yaman. (Foto oleh Piyas BISWAS / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi kembali meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang diluncurkan Houthi ke arah Riyadh, ibu kota Arab Saudi.

Konflik Houthi dan Arab Saudi tidak dapat dipisahkan dari perang saudara Yaman yang berlangsung sejak 2014 dan keterlibatan militer Arab Saudi sejak tahun berikutnya. Perseteruan tersebut semakin kompleks karena Houthi memiliki hubungan dengan Iran, sedangkan Arab Saudi mendukung pemerintah Yaman.

Mengutip NDTV, Selasa(13/10/2026), konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi berawal dari persoalan politik, ketimpangan sosial, serta perebutan pengaruh di Yaman. Houthi merupakan gerakan politik, militer, dan keagamaan yang muncul di wilayah utara Yaman pada dekade 1990-an.

Gerakan ini berawal dari upaya menghidupkan kembali tradisi Zaidiyah, salah satu cabang Syiah yang secara historis memiliki pengaruh kuat di Yaman utara. Wilayah tersebut sebelumnya pernah menjadi pusat kekuasaan kelompok Zaidiyah, tetapi masyarakatnya kemudian menghadapi kemiskinan dan merasa terpinggirkan dalam kehidupan politik maupun ekonomi nasional.

Nama Houthi berasal dari Hussein Badruddin al-Houthi, tokoh yang mendirikan gerakan tersebut. Kelompok ini juga menyebut dirinya Ansar Allah, yang berarti pendukung atau pembela Tuhan.

Seiring waktu, gerakan yang awalnya berfokus pada identitas keagamaan dan persoalan masyarakat utara Yaman itu berkembang menjadi kekuatan politik dan bersenjata.

Houthi kemudian terlibat dalam sejumlah pertempuran gerilya melawan tentara nasional Yaman, termasuk konflik perbatasan singkat dengan Arab Saudi yang mayoritas penduduknya beraliran Sunni.

Kejatuhan Presiden Ali Abdullah Saleh pada 2011

Perkembangan penting terjadi pada 2011, ketika gelombang demonstrasi Arab Spring melanda Yaman dan menuntut Presiden Ali Abdullah Saleh mundur setelah berkuasa selama puluhan tahun.

Peralihan kekuasaan yang menyusul kejatuhan Saleh membuka persaingan baru di antara berbagai kelompok politik dan bersenjata di negara tersebut. Namun, proses transisi yang didukung negara-negara Teluk tidak berhasil menyelesaikan persoalan mendasar Yaman, termasuk perebutan kekuasaan, ketimpangan wilayah, dan ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat.

Dalam situasi tersebut, Houthi memperkuat pengaruhnya di wilayah utara dan menolak proses transisi politik yang dianggap tidak memenuhi kepentingan mereka. Di bawah kepemimpinan Abdul Malik al-Houthi, kelompok tersebut berkembang dari pasukan yang beroperasi di wilayah pegunungan menjadi kekuatan bersenjata yang jauh lebih besar.

Peringatan Tiga Tahun Houthi

Pendukung pergerakan Houthi meneriakkan slogan dalam sebuah reli memperingati tiga tahun pengambilalihan Houthi atas Sanaa, Yaman, Kamis (21/9). ANTARA FOTO/REUTERS/Mohamed al-Sayaghi

Houthi Merebut Sanaa pada 2014

Pada 2014, Houthi mengambil alih Sanaa, ibu kota Yaman, dan memaksa pemerintah yang diakui secara internasional meninggalkan ibu kota serta bergerak ke arah selatan, menuju Aden.

Perebutan Sanaa menjadi titik balik penting karena Houthi tidak lagi sekadar menjadi kelompok bersenjata regional, tetapi berubah menjadi kekuatan yang menguasai pusat pemerintahan dan sebagian besar wilayah strategis di utara negara tersebut.

Pengambilalihan ibu kota itu dipandang Arab Saudi sebagai ancaman langsung terhadap keamanan perbatasannya. Riyadh juga khawatir bahwa semakin kuatnya Houthi akan memperbesar pengaruh Iran di Yaman, tepat di dekat wilayah selatan Arab Saudi.

Arab Saudi Memimpin Intervensi Militer pada 2015

Pada awal 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk melawan Houthi. Tujuan yang dinyatakan adalah mengusir kelompok tersebut dari wilayah yang direbut, memulihkan pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional, dan menghidupkan kembali proses transisi politik. Uni Emirat Arab turut menjadi bagian dari koalisi tersebut.

Intervensi militer itu justru membuat konflik berkembang menjadi perang berkepanjangan. Arab Saudi dan sekutunya melancarkan serangan udara terhadap posisi Houthi, sedangkan kelompok tersebut mempertahankan wilayah yang telah dikuasainya dan meningkatkan kemampuan serangan balasan.

Tidak ada pihak yang berhasil memperoleh kemenangan menentukan. Medan pegunungan Yaman yang sulit dijangkau membuat operasi militer untuk mengusir Houthi dari basis-basis mereka menjadi sangat sulit.

Dalam perang tersebut, Houthi juga mengembangkan kemampuan meluncurkan rudal balistik dan drone ke wilayah Arab Saudi, termasuk ke fasilitas energi dan infrastruktur vital.

Pejuang Houthi

Pejuang Houthi yang baru direkrut mengangkat tangan saat mereka menaiki mobil menuju garis depan untuk bertempur melawan pasukan pemerintah di Sanaa, Yaman, Kamis (16/1/2017). ANTARA FOTO/REUTERS/Mohamed al-Sayaghi

Gencatan Senjata 2022

Setelah bertahun-tahun berperang, gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2022 berhasil menghentikan sebagian besar pertempuran langsung antara pihak-pihak yang bertikai. Kesepakatan tersebut membantu mengurangi kekerasan, meskipun tidak menyelesaikan akar konflik dan belum menghasilkan penyelesaian politik permanen.

Houthi tetap menguasai sebagian besar wilayah barat laut Yaman, termasuk Sanaa, tempat sebagian besar penduduk negara itu tinggal. Kelompok tersebut juga tetap memiliki persenjataan rudal dan drone yang dapat menjangkau sasaran jauh di luar wilayah Yaman.

Serangan di Laut Merah sejak November 2023

Pada November 2023, Houthi mulai menyerang kapal-kapal di Laut Merah serta meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel. Kelompok tersebut menyatakan serangan itu sebagai bentuk dukungan kepada warga Palestina setelah perang Israel di Gaza dimulai pada Oktober 2023.

Meski serangan terhadap kapal-kapal tersebut dikaitkan Houthi dengan perang Gaza, ketegangan di Laut Merah juga memperkuat posisi strategis kelompok itu. Yaman terletak di dekat Selat Bab al-Mandeb, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Pengaruh Houthi di kawasan pesisir memberikan mereka kemampuan untuk mengganggu salah satu jalur perdagangan dan energi penting dunia.

Perang Amerika Serikat dan Iran

Serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal di Laut Merah kembali meningkat pada 2026, sebagai respons terhadap perang Amerika Serikat dengan Iran, sekutu dekat kelompok tersebut.

Setelah pasukan Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran, Teheran dilaporkan mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Kondisi itu mendorong Arab Saudi mengalihkan lebih banyak ekspor minyak melalui pelabuhan-pelabuhan di Laut Merah dan jalur Bab al-Mandeb.

Perubahan rute ekspor tersebut membuat infrastruktur energi dan pelayaran Arab Saudi semakin bergantung pada keamanan kawasan Laut Merah. Bagi Houthi, gangguan terhadap jalur tersebut dapat menjadi cara untuk meningkatkan tekanan terhadap Arab Saudi dan sekutu-sekutunya.

Serangan terhadap fasilitas energi dan kapal juga berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih luas, karena Arab Saudi merupakan salah satu produsen minyak utama dunia dan memiliki peran besar dalam pasokan energi global.

Namun, serangan tersebut tidak dapat dijelaskan hanya sebagai bentuk dukungan Houthi kepada Iran. Kelompok ini juga mempunyai kepentingan sendiri di Yaman, terutama mempertahankan kekuasaan dan wilayah yang dikuasainya serta menghadapi pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi.

Houthi Merebut Pulau Perim dan Kota Mocha

Ketegangan kembali meningkat pada September 2026, ketika Houthi dilaporkan merebut Pulau Perim yang juga dikenal sebagai Pulau Mayyun, terletak di mulut Laut Merah, serta Kota Mocha di pesisir barat Yaman.

Kedua lokasi tersebut memiliki nilai strategis karena berdekatan dengan Selat Bab al-Mandeb, jalur yang dilalui kapal-kapal perdagangan dan pengangkut energi.

Penguasaan wilayah itu dinilai berkaitan dengan upaya Houthi memperkuat kendali atas jalur pelayaran tersebut dan membantu kepentingan Iran dalam konflik regional. Sekitar 10–12 persen perdagangan maritim dunia disebut melintasi Selat Bab al-Mandeb.

Bangkai Pesawat Arab Saudi

pejuang yang berafiliasi dengan otoritas Houthi di tengah puing-puing—yang menurut militer Houthi merupakan bangkai jet tempur F-15 milik Arab Saudi—yang ditembak jatuh di provinsi Marib, wilayah tengah Yaman. foto/AFP

Pertempuran Pecah Lagi pada Oktober 2026

Pada Oktober 2026, konflik semakin memanas ketika pasukan Yaman yang didukung Arab Saudi berusaha merebut kembali wilayah dari Houthi. Arab Saudi juga kembali melakukan operasi militer terhadap kelompok tersebut. Houthi kemudian meningkatkan serangan terhadap sasaran di Arab Saudi, termasuk fasilitas strategis, dengan menggunakan rudal dan drone.

Houthi juga relatif sulit dikalahkan karena beroperasi di medan pegunungan dan gurun yang luas. Mereka menggunakan kombinasi persenjataan, termasuk rudal dan drone dengan jangkauan berbeda, untuk menyulitkan sistem pertahanan udara lawan.

Situasi Terkini Serangan Houthi ke Arab Saudi

Berikut situasi terkini dalam serangan kelompok Houthi ke Arab Saudi:

1. Rudal menuju Riyadh berhasil dicegat

Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan dua rudal jelajah yang diluncurkan ke arah Riyadh pada Selasa, 13 Oktober 2026. Menurut keterangan Pertahanan Sipil Arab Saudi yang diberitakan Saudi Gazette, serpihan rudal yang berhasil dicegat jatuh di kawasan permukiman, menyebabkan empat orang, termasuk seorang anak dan dua perempuan, mengalami luka-luka. Serpihan tersebut juga merusak 15 rumah, meskipun kerusakan dilaporkan terbatas.

Insiden ini menambah kekhawatiran setelah serangkaian serangan sebelumnya menghantam fasilitas penerbangan di Arab Saudi. Pada Sabtu, 10 Oktober, serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang, menurut laporan yang dikutip Al Jazeera.

Sehari kemudian, serangan lain di bandara yang sama menewaskan satu orang dan melukai 11 orang. Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas sejumlah serangan tersebut.

Dampak serangan juga meluas ke sektor penerbangan. Operasional Bandara Internasional King Khalid dilaporkan ditangguhkan hingga 17 Oktober. Sejumlah maskapai membatalkan atau mengubah jadwal penerbangan ke Riyadh dan kota-kota lain di kawasan tersebut.

2. Houthi ancam targetkan bandara dan fasilitas minyak pada serangan selanjutnya

Serangan terhadap Riyadh terjadi di tengah meningkatnya ancaman Houthi terhadap sejumlah fasilitas penting Arab Saudi, termasuk bandara dan infrastruktur energi.

Kelompok tersebut juga memperingatkan maskapai internasional agar tidak terbang ke bandara-bandara Saudi karena dianggap tidak aman, dengan pengecualian yang mereka nyatakan untuk Makkah dan Madinah.

Pada Selasa, 13 Oktober, The Guardian melaporkan bahwa Arab Saudi merespons ancaman tersebut dengan melancarkan serangan udara terhadap fasilitas penyimpanan minyak di wilayah yang dikuasai Houthi, termasuk di sekitar Sanaa dan pelabuhan Ras Isa.

3. Pertempuran di Taiz kembali meningkat

Ketegangan tidak hanya terjadi di wilayah Arab Saudi. Di Yaman, pasukan yang setia kepada pemerintah yang diakui secara internasional melaporkan telah melancarkan sembilan serangan udara terhadap posisi dan peralatan militer Houthi di Provinsi Taiz pada Selasa (12/10). Lima serangan dilaporkan terjadi di Distrik Dhubab, sedangkan empat lainnya menyasar Distrik Al-Masrakh.

Pusat Media Poros Militer Taiz, yang berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan Yaman, juga menyatakan bahwa pertempuran antara pasukan pemerintah dan Houthi masih berlangsung di wilayah Al-Shaqab, bagian selatan Taiz. Kawasan ini menjadi salah satu titik penting dalam perebutan pengaruh dan wilayah di Yaman barat daya.

Mengutip Yemeni Network for Rights and Freedom, sedikitnya lima warga sipil, termasuk seorang anak perempuan berusia lima tahun, tewas akibat serangan Houthi di Taiz dalam kurun 24 jam. Sebanyak 17 orang lainnya dilaporkan terluka.

Baca juga artikel terkait HOUTHI atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra