Menuju konten utama

Koalisi Saudi Serang Fasilitas Minyak Sanaa, Houthi Bidik Aramco

Koalisi militer yang dipimpin Saudi dan Houthi sama-sama melakukan serangan pada hari Selasa. Mereka menargetkan fasilitas minyak di Yaman atau pun Saudi.

Koalisi Saudi Serang Fasilitas Minyak Sanaa, Houthi Bidik Aramco
Asap tebal naik di dekat Bandara Internasional King Khalid di timur laut Riyadh, Arab Saudi, Sabtu (19/9/2026). FOTO /Xinhua/aa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pertempuran antara Arab Saudi dengan kelompok bersenjata Houthi di Yaman terus berlanjut. Kedua belah pihak kini terlibat saling serang fasilitas minyak. Saudi dilaporkan telah menyerang fasilitas minyak di Kota Sanaa yang dikuasai Houthi, sementara Houthi membidik fasilitas perusahaan minyak Saudi, Aramco.

Menukil laporan Al Jazeera, kelompok bersenjata Houthi telah melancarkan serangan ke gedung administrasi Aramco di Yaman Timur pada Selasa (13/10/2026). Kementerian Energi Saudi menyebut serangan itu telah memicu kebakaran, meski tak ada laporan cedera atau korban jiwa karenanya.

Serangan ini dilancarkan Houthi setelah kelompok yang didukung Iran itu mengumumkan peringatan evakuasi kepada semua karyawan dan warga sipil di dekat fasilitas minyak Arab Saudi. Dalam keterangannya, Houthi menyatakan lokasi tersebut sudah ditetapkan sebagai “target yang sah” pada Selasa pagi.

Pada Selasa tersebut, kantor berita Saudi, SPA, juga melaporkan bahwa sistem pertahanan kerajaan telah mencegat rudal yang mengarah ke Riyadh. Sedikitnya empat orang terluka dan 15 rumah rusak akibat puing rudal yang berjatuhan.

Aksi Houthi Merespons Serangan Koalisi Militer yang Dipimpin Saudi

Serangan ke Aramco disebut merupakan respons Houthi atas serangan Saudi yang dilancarkan ke Ibu Kota Yaman, Sanaa, tak lama sebelumnya di hari yang sama. Koalisi militer yang dipimpin Saudi sebelumnya telah mengumumkan perintah evakuasi bagi warga sipil di sekitar stasiun pusat al-Sabah, milik perusahaan minyak Yaman yang dikuasai Houthi di Sanaa.

Tak lama setelah perintah evakuasi itu, media yang berafiliasi dengan Houthi melaporkan pasukan yang dipimpin Saudi telah melancarkan serangan udara untuk menghantam fasilitas minyak di al-Sabah.

Akan tetapi, laporan Al Jazeera menyebut serangan Saudi itu tampaknya telah diantisipasi. Perusahaan minyak yang jadi target serangan menyatakan bahwa fasilitas mereka telah dikosongkan ketika serangan dilancarkan dan tidak memengaruhi cadangan minyak ataupun pasokan untuk penduduk.

Meski begitu, CNN melaporkan bahwa serangan Saudi di Sanaa itu telah menewaskan dua warga sipil dan melukai dua orang lainnya. Selain itu, beberapa SPBU di Sanaa juga dilaporkan mengalami antrean panjang, imbas kekhawatiran akan kekurangan pasokan akibat serangan Saudi.

Selain menargetkan fasilitas minyak di Sanaa, Saudi juga melakukan dua serangan udara lain di Pelabuhan Ras Isa dan sebuah stasiun minyak di Provinsi Hodeidah yang dikuasai Houthi. Juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, mengklaim bahwa dua fasilitas tersebut telah digunakan untuk menyokong kebutuhan persenjataan rudal dan drone Houthi.

Sementara aksi saling balas serangan terjadi, media Al Masirah TV yang dikelola Houthi melaporkan jatuhnya korban di berbagai tempat. Laporan itu belum dikonfirmasi secara independen, namun dua warga sipil di Sadaa dilaporkan tewas, sementara 8 lainnya terluka—termasuk dua warga Afrika di distrik Baqim.

Laporan itu dirilis tak lama setelah Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengumumkan kemajuan operasi militer bernama “Fajar Yaman”. Melalui operasi itu, Pemerintah Yaman yang diakui mengeklaim telah melakukan 2.200 serangan ke pos-pos Houthi dalam 24 jam terakhir, menewaskan sekitar 1.200 pejuang dan melumpuhkan lebih dari 440 kendaraan militer mereka.

Situasi tersebut merupakan perkembangan terbaru setelah Houthi menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada akhir pekan lalu. Serangan itu membunuh sedikitnya 14 orang dan melukai ratusan orang, selain mengungkap kerentanan sistem pertahanan Saudi yang tak menyala selama serangan terjadi.

Situasi pertempuran baru-baru ini membuat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut Houthi telah “berperilaku sangat buruk”. Dalam keterangannya pada Selasa, Trump mengindikasikan kemungkinan AS mulai berkontak dengan Turki terkait pertempuran tersebut.

Trump menyatakan bahwa ia “mungkin” akan meminta Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk campur tangan dalam pertempuran dan mendukung kepentingan Saudi.

“Presiden Erdogan, saya pikir, akan melakukan seperti yang saya minta,” tutur Trump.

Baca juga artikel terkait PERANG YAMAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar