tirto.id - Seorang anak laki-laki difabel berinisial Z berusia 10 tahun di Surabaya meninggal dunia pada Sabtu (12/9/2026). Z yang memiliki down syndrome dan sejumlah keterbatasan fisik ditemukan tergeletak di teras rumahnya dengan tali sepatu melilit leher dan mulut terdapat sabun colek.
Ayah korban, S (53) menduga putranya menjadi korban perundungan hingga berujung kematian yang dilakukan oleh dua anak di sekitar tempat tinggal mereka. Dugaan tersebut mencuat setelah keluarga memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV yang memperlihatkan dua anak memasuki area rumah korban pada pagi hari sebelum Z ditemukan dalam kondisi kritis.
Kasus ini telah dilaporkan ke Polrestabes Surabaya dan ditangani melalui proses penyidikan. Ayah korban berharap peristiwa yang menimpa anaknya dapat diusut secara tuntas, sekaligus menjadi perhatian terhadap perlindungan anak difabel dari tindakan kekerasan dan perundungan.
Fakta-Fakta Penting Kasus Anak Difabel Tewas di Surabaya
Berikut fakta-fakta yang terungkap sejauh ini terkait kasus kematian anak difabel di Suraya yang diduga korban perundungan:
1. Z ditemukan meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan
Peristiwa yang menimpa Z terjadi pada Sabtu, 12 September 2026, di rumahnya yang berada di Kecamatan Rungkut, Surabaya. Berdasarkan penuturan S, anaknya saat itu berada di teras depan rumah dengan menggunakan kursi roda, seperti kebiasaannya sehari-hari.Pagi itu, sekitar pukul 07.30 WIB, ibu korban N, berpamitan pergi ke pasar untuk berjualan susu sari kedelai. Ayah korban sendiri sedang dalam kondisi kurang sehat setelah menjalani operasi kencing batu sekitar sebulan sebelumnya. Ia mengaku mengalami sakit hebat di bagian perut dan punggung.
Sebelum beristirahat, sang ayah meminum obat jantung dan obat pereda nyeri ibuprofen. Setelah itu, ia tertidur di dalam kamar, sedangkan Z tetap berada di teras rumah.
Situasi berubah ketika ibunya pulang dari pasar sekitar pukul 09.20 WIB. Ia terkejut mendapati putranya sudah tergeletak dalam kondisi tubuh membiru. Sang ibu kemudian berteriak meminta pertolongan kepada suaminya.
S terbangun langsung bergegas keluar kamar. Saat mengambil Z dari pangkuan istrinya, ia mendapati ada tali sepatu yang melilit leher anaknya. Ia kemudian berusaha melonggarkan ikatan tersebut sebelum membawa korban mencari pertolongan medis.
2. Korban sempat dibawa ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong
Setelah menemukan putranya dalam kondisi kritis, S berusaha mencari bantuan untuk membawa Z ke rumah sakit terdekat. Menurut penuturannya, ia sempat meminta pertolongan kepada orang-orang di sekitar lokasi sebelum akhirnya mendapat bantuan dari seorang perempuan yang melintas.Z kemudian dibawa ke Rumah Sakit Eka Chandra Rini. Namun, setelah tiba di rumah sakit sekitar pukul 09.45 WIB, korban dinyatakan telah meninggal dunia.
Kondisi korban ketika ditemukan menimbulkan kecurigaan keluarga mengenai penyebab kematiannya. S menuturkan bahwa selain terdapat tali sepatu yang melilit leher Z, mulut anaknya juga ditemukan dalam kondisi terdapat sabun colek.
S mengatakan, berdasarkan informasi yang disampaikannya, hasil autopsi juga menemukan cairan sabun colek di dalam lambung putranya. Temuan tersebut menjadi bagian dari informasi yang perlu dicermati dalam penyelidikan untuk mengungkap rangkaian peristiwa dan penyebab pasti kematian korban.
3. Rekaman CCTV memperlihatkan dua anak memasuki area rumah korban
Setelah Z ditemukan dalam kondisi kritis dan dinyatakan meninggal dunia, S mengecek rekaman CCTV kampung untuk mengetahui kejadian yang berlangsung sebelum putranya ditemukan. Dari rekaman tersebut, terlihat dua anak berinisial F (8) dan K (10) memasuki rumah Z pada Sabtu, 12 September 2026, sekitar pukul 08.15 WIB.Menurut ayah korban, kedua anak tersebut merupakan warga yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Salah satunya tinggal di gang yang sama, sedangkan anak lainnya tinggal di gang sebelah.
“Mereka anak kampung sini. Yang satu, satu gang dengan saya, satunya lagi gang sebelah,” ungkapnya.
Berdasarkan rekaman CCTV tersebut, S menduga kedua anak itu terlibat dalam penganiayaan terhadap putranya. Ia juga menyebut salah satu anak kembali memasuki area rumah sekitar pukul 08.37 WIB dan berada di sana selama kurang lebih 10 menit sebelum meninggalkan lokasi.
4. Selain down syndrome, korban juga memiliki sejumlah kondisi kesehatan
Z diketahui memiliki sejumlah kondisi kesehatan yang membatasi aktivitas dan kemampuannya berkomunikasi. Menurut keterangan ayahnya, Z mengalami down syndrome, kelainan jantung yang disebut sebagai jantung bocor, cerebral palsy atau lumpuh otak, serta katarak.Kondisi tersebut membuat Z tidak dapat berjalan, berbicara, maupun melihat dengan baik. Dalam kesehariannya, ia menggunakan kursi roda dan biasa ditempatkan di teras depan rumah.
Selaras menilai keterbatasan tersebut membuat putranya sulit meminta pertolongan apabila mengalami tindakan yang membahayakan dirinya. Ia juga menduga Z tidak mampu melawan atau menjelaskan kejadian yang dialaminya kepada orang lain.
5. Ayah korban mengaku pernah menemukan tali tambang pada putranya
Dugaan bahwa Z sebelumnya mengalami perundungan muncul setelah ayahnya menceritakan kejadian sekitar sepekan sebelum putranya meninggal dunia. Saat itu, ia mengaku menemukan tali tambang atau tali tampar yang melilit bagian tubuh Z ketika anak tersebut berada di tempat yang sama.Selaras sempat menanyakan asal tali tersebut kepada putranya. Namun, Z tidak dapat memberikan jawaban karena keterbatasan kemampuan berbicara dan merespons.
Menurutnya, kejadian tersebut menimbulkan kecurigaan setelah Z ditemukan meninggal dunia dengan tali sepatu melilit lehernya. Ia menduga ada kaitan antara kejadian sebelumnya dan peristiwa pada 12 September 2026.
6. Orang tua kedua anak diduga saling menyalahkan
Ayah korban mengaku sempat meminta keterangan kepada orang tua kedua anak yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut. Namun, menurut penuturannya, ia justru menerima penjelasan yang berbeda dari masing-masing pihak mengenai siapa yang mengajak anak mereka datang ke rumah Z.“Ibu dari F bilang kalau F diajak oleh K. Sebaliknya, ayah K bilang kalau diajak oleh F,” tuturnya.
Perbedaan keterangan tersebut membuat persoalan mengenai keterlibatan masing-masing anak belum sepenuhnya jelas bagi keluarga korban. Selaras menduga kedua anak tersebut terlibat berdasarkan rekaman CCTV dan kejadian yang menimpa putranya.
7. Satu anak berinisial K ditetapkan sebagai tersangka
Kasus kematian Z telah dilaporkan ke Polrestabes Surabaya. Berdasarkan keterangan yang diterimanya, satu anak berinisial K telah ditetapkan sebagai tersangka, sedangkan F disebut belum ditetapkan sebagai tersangka.8. Hasil autopsi sementara menemukan cairan sabun colek di perut korban
Selain tali sepatu yang melilit leher Z, keluarga juga menyoroti adanya sabun colek di mulut korban ketika ditemukan. Sang ayah mengatakan, berdasarkan informasi awal hasil autopsi yang disampaikan kepada istrinya, ditemukan cairan sabun colek di dalam perut Z.“Hasil sementara yang disampaikan kepada istri saya, terdapat cairan sabun colek di dalam perut anak saya,” tuturnya.
Temuan tersebut menambah sejumlah kejanggalan yang ingin diungkap keluarga dalam kasus kematian Z.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































