tirto.id - Robohnya tiang listrik lengkap dengan trafo berkapasitas 400 KVA hingga menimpa rumah warga di Jalan Ceger Raya, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), menyisakan sejumlah persoalan. Selain dugaan lemahnya konstruksi penyangga tiang, keluarga korban mengaku telah mengingatkan kontraktor mengenai kondisi tanah di sekitar pondasi yang mulai terkikis akibat penggalian proyek saluran air.
Peristiwa robohnya tiang listrik terjadi pada Minggu (1/11/2026) sekitar pukul 20.00 WIB, setelah hujan deras mengguyur kawasan Pondok Aren. Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian itu. Namun, bagian rumah milik keluarga Angga mengalami kerusakan setelah tertimpa tiang dan trafo.
Angga mengatakan, kekhawatiran terhadap kondisi pondasi tiang sebenarnya telah disampaikan kepada pihak kontraktor sejak Jumat (30/10/2026), atau dua hari sebelum kejadian.
Peringatan itu disampaikan karena penggalian proyek saluran air yang telah berlangsung sejak 24 Oktober 2026 berada sangat dekat dengan pondasi tiang dan gardu listrik.
“Dari hari Jumat itu sudah me-reminder ke kontraktor bahwasanya ini sepertinya agak riskan nih di bagian bawah dari trafo yang listrik ini,” kata Angga saat ditemui di lokasi, Senin (2/11/2026).
Menurut Angga, warga bersama pengurus RT juga telah melihat kondisi pondasi yang dinilai rentan. Bahkan, kondisi tersebut sempat direkam dalam video sebagai bahan peringatan kepada kontraktor.
“Sudah ada videonya. Tolong segera di-follow up karena mengingat ini hujan, takutnya semakin lama semakin tergerus, akan jatuh,” ujarnya.
Namun, menurut Angga, tindak lanjut atas peringatan tersebut belum sempat dilakukan hingga akhirnya tiang listrik beserta trafo roboh dan menimpa rumah orangtuanya.
“Belum sampai di-follow up lagi, ini sudah keburu rubuh,” katanya.
Detik-Detik Evakuasi Lansia dari Dalam Rumah

Saat kejadian, ibu Angga yang merupakan lansia berada di dalam rumah. Beruntung, ia tidak berada di bagian yang tertimpa tiang dan trafo.
Warga sempat membantu proses evakuasi dengan hati-hati karena sejumlah kabel listrik masih dalam kondisi bertegangan. Bahkan, bambu digunakan untuk membantu menahan kabel agar tidak menyentuh warga.
“Alhamdulillah Ibu sehat. Cuman memang waktu pas kejadian, Ibu ada di dalam rumah,” kata Angga.
Peristiwa ini menyisakan persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan kerugian material warga, tetapi juga koordinasi antarinstansi dan pengamanan aset infrastruktur di sekitar pekerjaan konstruksi.
Terlebih, keluarga korban mengaku telah menyampaikan peringatan sebelum kejadian. Sementara Pemkot menyoroti konstruksi penyangga tiang PLN yang dinilai tidak memadai menghadapi perubahan kondisi tanah.
Pemeriksaan teknis terhadap penyebab robohnya tiang dan trafo, termasuk evaluasi pengamanan pekerjaan galian serta konstruksi penyangga aset kelistrikan, menjadi penting agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Pemkot Soroti Konstruksi Tiang PLN
Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) turut menyoroti konstruksi tiang dan gardu PLN yang berada di sekitar lokasi proyek. Pemkot menilai struktur penyangga tersebut tidak memiliki daya dukung yang cukup untuk menghadapi perubahan kondisi tanah setelah dilakukan penggalian.
Eka Pribawa Achirudin selaku Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (DSDABMBK) Tangsel mengatakan pihaknya sebelumnya telah berkoordinasi dengan PLN terkait keberadaan aset kelistrikan di lokasi pembangunan.
Menurut Eka, PLN sempat meminta agar pelaksana proyek berkoordinasi apabila pekerjaan dilakukan di sekitar aset milik perusahaan listrik negara tersebut.
“Ya dia bilang begini, ‘Kalau misalnya lagi mau ngebangun, omong ke saya, Pak.’ Ya kan? Ya namanya kan di pinggir kan, ini dalam, kan namanya juga ada gardu,” kata Eka.
Namun, setelah penggalian dilakukan, Eka menyebut konstruksi penyangga tiang ternyata tidak cukup kuat menghadapi perubahan struktur tanah di sekitarnya.
“Ternyata nggak ada dalam, sama aja kayak tiang listrik yang ada, kedorong,” ujarnya.
Eka menjelaskan, posisi galian proyek berada cukup dekat dengan tiang dan gardu PLN. Ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut, air merembes ke tanah di sekitar galian sehingga tanah yang sebelumnya menopang struktur tiang menjadi terkikis dan labil.
“Kedorong, ketarik. Iya. Kan ya kan nahan tanah tuh sebelumnya,” katanya.
Menurut Eka, kondisi tersebut kemudian membuat tiang listrik dan trafo kehilangan daya dukung hingga akhirnya roboh.
Meski demikian, penjelasan mengenai konstruksi tiang tersebut merupakan keterangan dari pihak Pemkot. Penyebab teknis pasti robohnya gardu masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut terhadap kondisi pondasi, struktur tanah, dan pekerjaan galian di lokasi.
Sementara itu, Manager PLN UP3 Bintaro, Yudho Rahadianto, mengatakan petugas PLN merespons laporan insiden kelistrikan di kawasan Ceger, Pondok Aren, Tangerang Selatan, pada Minggu (1/11/2026). Petugas tiba di lokasi pukul 20.12 WIB untuk melakukan pengamanan dan penormalan jaringan listrik.
Yudho memastikan pasokan listrik kepada masyarakat telah kembali normal sepenuhnya. Ia juga menyebut kabel milik PLN berada pada posisi paling atas dengan ciri fisik kabel terpilin.
"Untuk keluhan warga kepada PLN saat ini tidak ada, karena semalam jaringan kami sudah pulih 100 persen. Untuk kabel PLN bisa kami pastikan rapi berada paling atas dengan ciri kabel terpilin," ujarnya. Senin (02/11/2026).
Meski jaringan listrik telah pulih, PLN masih melakukan penanganan terhadap gardu yang roboh. Yudho mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati instalasi listrik yang berpotensi membahayakan.
Proyek Long Storage untuk Atasi Genangan
Petugas PLN sedang merapihkan trafo yang meledak akibat roboh menimpa rumah warga di Pondok Aren. (Foto: Jupri Nugroho)

Eka menjelaskan, penggalian tersebut merupakan bagian dari pembangunan long storage di Jalan Ceger. Infrastruktur itu dibangun untuk mengatasi genangan yang selama ini kerap terjadi di kawasan Pasar Ceger dan jalan sekitarnya.
Long storage direncanakan memiliki panjang sekitar 80 meter dengan dimensi galian sekitar 1,2 x 1,2 meter. Fungsinya sebagai tempat penampungan sementara air sebelum dialirkan menggunakan pompa menuju Kali Ciputat.
“Kalau konsep long storage, long storage itu adalah kolam tampungan yang memanjang. Nah, itu dibangun di lahan-lahan yang ada banjir atau genangan,” jelasnya.
Menurut Eka, pembangunan tersebut dilakukan agar air tidak lagi menggenangi badan jalan, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
“Biar nggak genang di jalan lagi kan. Selama ini kan ininya genang, jadi genang di jalan dia,” ujarnya.
Untuk pekerjaan pada bagian yang ditanyakan, Eka menyebut nilai kontraknya berada di kisaran Rp800 juta.
Kontraktor Janji Ganti Kerugian Rumah
Pasca kejadian, petugas PLN mendatangi lokasi untuk melakukan penanganan dan mengevakuasi tiang serta trafo yang roboh. Area sekitar kejadian juga diamankan untuk mencegah warga mendekati jaringan listrik yang berbahaya.
Angga mengatakan, pihak kontraktor telah mendatangi rumah keluarganya pada Senin (2/11/2026). Dalam pertemuan tersebut, kontraktor menyatakan kesediaannya bertanggung jawab atas kerusakan rumah.
“Kalau untuk dari kontraktor sih tadi sudah sempat datang sekitar jam 1 ya, sudah sempat datang menemui saya. Mereka sih bilang akan bertanggung jawab sih untuk perbaikan rumahnya,” kata Angga.
Hal senada disampaikan Eka. Ia memastikan kerugian rumah warga akibat robohnya tiang dan trafo akan menjadi tanggung jawab pelaksana proyek.
“Terus nanti untuk kerugian rumah ditanggung sama pelaksana,” katanya.
Menurut Eka, nilai kerugian akan dihitung berdasarkan tingkat kerusakan sebelum perbaikan dilakukan.
“Udah ada, tinggal nanti dihitung berapa kerugian, berapa yang harus dibenerin, berapa rupiah,” ujarnya.
===============
adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.
Penulis: Tangsel_Update
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































