Apa saja istilahnya?

Daftar Istilah Obskur untuk Menerjemahkan Kegelisahan Sahabat Indie

Ilustrasi buku kamus. FOTO/iStockphoto
Oleh: Eddward S Kennedy - 8 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Menyelidiki beberapa istilah obskur dari kamus The Dictionary of Obscure Sorrows
tirto.id - Seseorang bisa saja mengutip potongan ayat di dalam kitab suci lalu yakin bahwa dengan pedang atau mesiu, melalui pembunuhan dan kekerasan, dunia akan jadi bersih dan setan dapat dikalahkan.

Agaknya itulah yang dibayangkan Timothy McVeigh, ketika pagi hari pada 19 April 1995, ia memarkir truk berisi 2.000 kilogram pupuk amonium nitrat dan bahan bakar diesel, lalu meledakkannya di luar gedung federal Alfred P. Murrah di Oklahoma City, Oklahoma, AS. Seketika tempat pemerintah federal berkantor untuk urusan kesejahteraan sosial, pengawasan tembakau, alkohol, dan senjata api itu pun luluh lantak, menewaskan 168 orang, di antaranya anak-anak, dan lebih dari 500 luka-luka.

Teror dari mantan prajurit berusia 27 tahun yang pernah bertugas dalam Perang Teluk itu membuat seantero Amerika dicekam ketakutan. Selama beberapa pekan negara yang kerap mendaku terkuat di dunia itu putus asa. Sejarah mencatat bahwa itulah serangan teror terbesar sebelum gedung World Trade Center dihancurkan dua pesawat pada tanggal 11 September 2001.

16 tahun berselang, Juli 2011, seorang lelaki bernama Anders Behring Breivik, dengan memakai seragam polisi, menembaki secara brutal anak-anak muda yang sedang berkemah di Pulau Utoeya, Oslo, Norwegia. Sebanyak 69 orang terbunuh di pulau yang terletak di Danau Tyrifjorden itu. Tragedi itu mengerikan sekaligus membuat tanda tanya besar: bagaimana mungkin terjadi kekerasan yang begitu mengerikan di sebuah negeri tempat pemberian Hadiah Nobel Perdamaian?

Dunia adalah tempat di mana mala tak pernah lenyap dan orang-orang degil akan selalu bermunculan dari sudut paling merah jambu sekalipun. Atas nama agama atau politik, demi uang atau pelampiasan dendam, di zona perang atau di jalanan sepi tengah malam, lewat bom, parang, atau gas beracun, kejahatan selalu mengintai hingga membuat banyak dari kita frustasi dan putus asa karena tak sanggup berbuat apa-apa.

Dalam bahasa Jepang, istilah untuk menjelaskan ekspresi kefrustasian macam itu disebut: ‘Kuebiko’ (久延毘古).

Secara literal, ‘Kuebiko’ berarti "bantuan jangka panjang". Kata itu ditakik dari karakter mitologis bernama Kuebiko, yakni seorang dewa pengetahuan dan pertanian dalam ajaran Shinto. Dewa tersebut digambarkan seperti orang-orangan sawah yang tidak bisa bergerak, tetapi memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang segala hal di dunia.

Di Jepang sendiri istilah ‘Kuebiko’ sebenarnya tidak digunakan untuk merujuk kepada perasaan. Pemaknaannya berubah setelah John Koenig, seorang filmmaker yang membuat kamus multimedia berjudul The Dictionary of Obscure Sorrows, mengadopsi ‘Kuebiko’ ke dalam bahasa Inggris sekaligus memberikannya senarai atribusi melankolis. Koenig melakukannya karena beranggapan bahasa Inggris amat kekurangan istilah yang dapat menerjemahkan perasaan.

Selain ‘Kuebiko’, masih banyak istilah obskur lainnya yang dapat digunakan untuk menjelaskan perasaan tertentu terkait hal-hal spesifik. Sebagian istilah terdapat dalam kajian psikologi, sementara yang lain merupakan invensi dari Koenig.



Dari Altschmerz hingga Rückkehrunruhe

Jika Anda sedang menjelajahi Pinterest untuk mencari kata-kata inspiratif yang tidak biasa, amat mungkin Anda akan menemukan foto seseorang dengan wajah bersedih, lalu ditambahi tulisan “Altschmerz: weariness with the same old issues that you’ve always had—the same boring flaws and anxieties you’ve been gnawing on for years.” Dalam bahasa Indonesia kurang lebih bermakna: rasa letih yang teramat sangat terhadap suatu masalah yang sudah berlangsung lama sekali.

Sebagaimana ‘Kuebiko’ yang dicomot dari bahasa Jepang, kata ‘Altschmerz’ juga diimpor oleh Koenig dari bahasa aslinya, Jerman, lalu dimodifikasi sedemikian rupa maknanya ke dalam bahasa Inggris. ‘Altschmerz’ sejatinya berasal dari kata ‘Weltschmerz’, di mana ‘Welt’ = ‘World’ dan ‘Schmerz’ = ’Pain’. Namun, kamus bahasa Inggris mendeskripsikan ‘Weltschmerz’ menjadi ‘Melancholy’.

Penjelasan mengenai berbagai istilah obskur lain yang telah ia temukan juga diunggah Koenig di akun Youtube ‘Dictionary of Obscure Sorrows’ yang telah memiliki 298,028 subscribers. Ada satu lagi istilah yang menarik, ‘Dès Vu’, yang berarti ‘The Awareness That This Will Become A Memory’ atau ‘Kesadaran Bahwa Hal Ini Kelak Akan menjadi Kenangan’. Secara etimologis, ‘Dès Vu’ berasal dari bahasa Perancis yang penulisannya juga serupa, namun arti aslinya adalah "seen as soon as" atau kurang lebih menjadi “tampak segera”.

Koenig menyatakan, sekalipun berbagai istilah baru yang ia temukan belum tercatat atau diadopsi secara resmi dalam konvensi bahasa Inggris, kosakata tersebut tidak sekadar ia rangkai seolah berasal dari antah berantah. Ia melihat betul bagaimana akar etimologisnya hingga dapat dijadikan suatu kosakata baru dalam bahasa Inggris.

"Setiap kata benar-benar memiliki makna etimologis, sebab itu menandakan kata tersebut telah dibangun dari salah satu dari selusin bahasa atau jargon yang direnovasi," ujar Koenig kepada Quartz dalam wawancara 2016 lalu.

Menciptakan kata baru sebetulnya bukan sesuatu yang orisinil. Ratusan tahun lampau, Charles Dickens mengkreasikan kata ‘Gorm’ sebagai sebuah umpatan yang dalam Oxford English Dictionary diartikan sama seperti ‘Goddamn’ atau ‘Terkutuk’. Hal ini ia lakukan agar tulisannya tidak dianggap terlampau kasar bagi para pembaca di kalangan Victorian. Adapun ‘Gorm’ ia takik dari kata ‘Gom’ di bahasa Irlandia yang berarti ‘Seseorang dengan tampah bodoh’.

Jangan lupakan pula bagaimana George Orwell dalam novelnya yang termahsyur, 1984, menciptakan kata ‘Newspeak’. Kata ini merujuk kepada upaya pemerintah untuk menyembunyikan apa yang dilakukannya melalui teknik-teknik semacam penyederhanaan kata, eufemisme, penggambaran yang sengaja dikelirukan, penyingkatan, pengaburan makna, dan pemutarbalikan arti. Sebuah siasat merekayasa bahasa yang juga pernah dilakukan Orde Baru untuk melegitimasi kekuasaan.

Contoh lain dari kata baru yang dikreasi Koenig adalah ‘Liberosis’, yang berarti ‘menunggu akan kebebasan’, istilah tersebut juga ditakik dari kata yang punya fondasi etimologis identik, yakni ‘Liberty’ atau ‘Kebebasan’. Lalu ada ‘Vemodalen’, sebuah istilah untuk menjelaskan rasa cemas karena mengetahui hasil foto yang sama dengan milik orang lain, baik di objek, busana, gaya, atau hal lainnya. Istilah ini berasal dari kata Swedia, ‘Vemod’, yang berarti ‘Melankoli’.

Selanjutnya adalah ‘Rückkehrunruhe’: suatu istilah untuk menjelaskan perasaan rindu yang tuntas bagi para perantau setelah akhirnya bisa pulang ke kampung halaman. Kata ini, yang ditakik dari bahasa Jerman dengan makna yang sama, ‘rückkehren’, sudah pasti tergolong obskur dan karenanya sangat cocok digunakan bagi para sobat indie cum traveler sejati di tanah air.

Memasuki Hari Raya Idul Fitri, bukankah keren jika di Instagram Anda menampilkan foto mudik ke kampung masing-masing dengan menulis caption, “Rückkehrunruhe dulu ah, guys!”, hingga membuat sahabat indie yang lain sampai bertanya-tanya.

Baca juga artikel terkait UCAPAN LEBARAN atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight