Menuju konten utama

Bahlil Targetkan PNBP Sektor Minerba Tahun Ini Tembus Rp165 T

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan PNBP minerba mencapai Rp165 triliun pada akhir 2026. Lonjakan ini ditopang pengetatan RKAB dan pasokan.

Bahlil Targetkan PNBP Sektor Minerba Tahun Ini Tembus Rp165 T
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, dan Ketua Panitia Minerba Convex 2026, Catur Gunadi, ketika membuka Minerba Convex 2026 di JIExpo Kemayoran, Senin (2/11/2026). Foto/ Mukhtar Abdullah
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mematok target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batubara (minerba) mampu menembus kisaran Rp160 triliun hingga Rp165 triliun pada akhir tahun 2026.

Bahlil optimistis target ambisius tersebut bakal terlampaui menyusul realisasi perolehan PNBP hingga Oktober 2026 yang telah berhasil melampaui angka Rp141 triliun.

"PNBP kita di tahun 2025 kurang lebih sekitar Rp130 triliun sampai Rp135 triliun, dan sekarang per Oktober sudah mencapai tembus di atas Rp141 triliun. Kita targetkan nanti di 2026 saja itu bisa mencapai Rp160 triliun sampai Rp165 triliun, artinya terjadi peningkatan yang sangat signifikan," ujar Bahlil dalam acara Minerba Convex 2026 di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Bahlil memaparkan, lonjakan pendapatan kas negara ini merupakan buah dari perbaikan tata kelola sektor pertambangan yang lebih ketat, sehingga para pelaku usaha tidak lagi jorjoran mengeruk kekayaan alam secara berlebihan saat fluktuasi harga komoditas global melemah.

"Kita harus mengelola sumber daya alam kita itu dengan cara tata kelola yang baik dan benar. Jangan kita mengelolanya seperti orang yang kelaparan. Jangan seperti orang yang berpuasa, tiba-tiba buka puasa, apa saja mau dimakan," kata Bahlil.

Sebagai kilas balik, pada tahun 2025 silam Indonesia sempat memasok hingga 540 juta ton atau menguasai 43 persen pangsa pasar batu bara global.

Namun, volume produksi yang masif tersebut justru memicu perang harga hingga anjlok di pasaran akibat longgarnya kepatuhan terhadap Harga Batubara Acuan (HBA).

Menyikapi hal itu, Kementerian ESDM mengambil langkah intervensi strategis dengan memangkas persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) terhadap sekitar 650 perusahaan tambang pada tahun 2026 ini.

Kebijakan pengetatan suplai terpadu tersebut terbukti ampuh mendongkrak kembali harga batu bara kalori tinggi hingga menyentuh level 154 dolar Amerika Serikat (AS) per ton.

"Ini strategi, karena kita jaga supply and demand, pendapatan negara kita melonjak, produksi turun. Jadi produksinya terkoreksi turun, tapi pendapatannya naik. Ini baru paten, tidak jual murah barang kita," pungkas Bahlil.

Baca juga artikel terkait MINERBA atau tulisan lainnya dari Mukhtar Abdullah

tirto.id - Flash News
Reporter: Mukhtar Abdullah
Penulis: Mukhtar Abdullah
Editor: Mochammad Fajar Nur