Badai Cempaka Pacitan: 20 Korban Meninggal dan 4 Korban Luka-luka

Oleh: Yandri Daniel Damaledo - 1 Desember 2017
Dibaca Normal 2 menit
Bupati Pacitan telah menetapkan status tanggap darurat selama 7 hari dan terus melakukan proses evakuasi terhadap korban banjir dan longsor.
tirto.id - Pengaruh siklon tropis Cempaka yang menimbulkan curah hujan ekstrem dengan intensitas 383 milimeter per hari telah menyebabkan banjir dan longsor yang besar di Kabupaten Pacitan Provinsi Jawa Timur pada 27-28 November 2017.

Dekatnya posisi siklon tropis Cempaka dengan daratan Pacitan, hanya 23 kilometer di Samudera Hindia sebelah selatan Pacitan telah menyebabkan Pacitan lumpuh total. Banjir dan longsor bersamaan dengan gelombang laut tinggi sehingga semua sungai yang bermuara di Teluk Pacitan meluap dan menyebabkan banjir besar di Pacitan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPBD, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan bahwa hingga kini, upaya pencarian dan penyelamatan korban serta penanganan dampak banjir dan longsor masih terus dilakukan.

Beberapa daerah yang terjadi banjir dan longsor di 7 kecamatan masih belum pulih, yaitu di Kecamatan Kebonagung, Kecamatan Pacitan, Kecamatan Tulakan, Kecamatan Tegalombo, Kecamatan Nawangan, Kecamatan Arjosari, dan Kecamatan Ngadirojo. Daerah yang paling parah terdampak bencana adalah Kecamatan Pacitan.

Berdasarkan laporan yang diterima Tirto, data sementara hingga Jumat (1/12/2017) pukul 06:00 WIB, jumlah korban meninggal sebanyak 20 orang yaitu 14 korban longsor dan 6 korban banjir. Dari 20 korban meninggal tersebut 11 korban sudah ditemukan dan 9 korban masih dalam pencarian, sementara korban luka-luka sebanyak 4 orang.

Pengungsi sebanyak 1.879 orang yang terdapat di 8 titik yaitu di Gedung Karya Darma 497 orang, Masjid Sirnoboyo 51 orang, gedung Muhammadiyah MDMC 51 orang, Balai Desa Sumberharjo 32 orang, Balai Desa Bangunsar 16 orang, Balai Desa Cangkring 32 orang, MI Al Huda 150 orang, dan Balai Desa Sidomulyo 1.050 orang.

Kerusakan fisik meliputi 1.709 unit rumah rusak yang terdapat di Kecamatan Kebonagung 1.225 unit, Kecamatan Ngadirojo 9 unit, Kecamatan Pacitan 160 unit, Kecamatan Nawangan 148 unit, dan kecamatan Arjosari 167 unit. Selain itu juga terdapat 17 unit fasilitas pendidikan yang rusak, dan bangunan lain. Pendataan masih terus dilakukan karena belum semua lokasi dapat dijangkau.

Upaya penanganan darurat terus dilakukan oleh berbagai pihak. Bupati Pacitan telah menetapkan masa tanggap darurat selama 7 hari yaitu terhitung Selasa (28/11/2017) hingga Senin (4/12/2017). Status ini dapat diperpanjang atau diperpendek menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Bupati Pacitan telah menunjuk Komandan Kodim 0801/Pacitan sebagai komandan tanggap darurat.

Sebanyak 1.174 personil gabungan dikerahkan untuk melakukan penanganan darurat. Tim gabungan dari BPBD Pacitan bersama TNI, Polri, Basarnas, PMI, SKPD, BPBD Magetan, Baznas Tanggap Darurat, ACT, Perhutani, SAR FKM Solo, LMI, dan relawan melakukan penanganan darurat. Pencarian, penyelamatan dan evakuasi korban dilanjutkan.

Tim Reaksi Cepat BNPB telah hadir di Pacitan untuk memberikan pendampingan dalam penanganan darurat. BNPB menyerahkan bantuan dana siap pakai sebesar Rp 500 juta untuk operasional penanganan darurat.

BPBD Jawa Timur memberikan bantuan selimut, sarung, paket sandang, peralatan kesehatan, seragam sekolah, lampu emergency, jerigen lipat, dan perahu karet 7 unit. Dinas Sosial Jawa Timur memberikan bantuan lauk pauk dan matras.

Dinas Kesehatan Jawa Timur memberikan bantuan perahu karet, makanan penambah air susu ibu, makanan untuk anak-anak, polybag, kaporit dan paket obat-obatan, dan lainnya. Dinas PU Jawa Timur memberikan bantuan 2 alat berat.

Dapur umum terpusat di Kelurahan Pacitan diperkuat juga oleh peran serta masyarakat yang tidak terdampak dengan menyediakan makanan untuk pengungsi. Logistik mencukupi hingga 7 hari ke depan. Sekolah diliburkan untuk sementara waktu.

Saat ini sebagian besar banjir telah surut menyisakan lumpur dan material yang terbawa banjir. Akses menuju Pacitan dari Wonogiri sudah dapat dilalui, namun alat berat belum dapat menjangkau lokasi longsor. Listrik sudah menyala kecuali di daerah yang masih terdapat genangan dan longsor.

Pembersihan lingkungan secara swadaya telah dilakukan oleh masyarakat. Aktivitas perekonomian, jasa, pemerintahan juga sudah mulai berjalan.

Kebutuhan mendesak yang diperlukan saat ini adalah makanan siap saji, air bersih, pakaian layak pakai, seragam anak sekolah, peralatan kebersihan rumah tangga, alat sanitasi, selimut, layanan kesehatan, MCK, dan kebutuhan dasar lainnya di pengungsian.

Baca juga artikel terkait CUACA BURUK atau tulisan menarik lainnya Yandri Daniel Damaledo
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Yandri Daniel Damaledo
Penulis: Yandri Daniel Damaledo
Editor: Yandri Daniel Damaledo
DarkLight