tirto.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengevaluasi operasional dry ice agar lebih aman imbas adanya atap dan plafon rumah warga Palembang jebol diduga tertimpa bahan semai. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan metode ini dijadwalkan bakal berlangsung di Palembang hingga 25 Oktober 2026.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Siswanto mengungkapkan, bongkahan benda mirip es batu yang menimpa rumah warga tersebut belum dapat dipastikan berasal dari bahan semai dry ice. Apalagi benda itu sampai mengakibatkan seng dan plafon jebol.
"Kalau dampaknya sampai merusak atap ini kayaknya kurang jelas, kalau atap seng saya yakin enggak," ungkap Siswanto, Senin (19/10/2026).
Analisis Hukum Fisika dan Evaluasi Prosedur OMC
Siswanto menjelaskan, secara hukum fisika material es yang dijatuhkan dari ketinggian atmosfer akan mengalami gesekan udara secara terus-menerus sehingga ukurannya otomatis menyusut sebelum menyentuh tanah. Dengan demikian, material yang kecil tidak akan sampai menembus atap bermaterial seng.
"Kalaupun bongkahan awal agak besar, ketika dijatuhkan dari ketinggian tertentu dia akan tergesek oleh angin, harusnya mengecil," kata dia.
Meski demikian, temuan itu menjadi evaluasi dalam pelaksanaan OMC dry ice. Siswanto memastikan seluruh prosedur operasional penyemaian awan diperketat agar tidak berdampak pada aktivitas masyarakat di bawah rute penerbangan.
"Yang pastinya kita terus evaluasi agar OMC dry uce berjalan optimal dan aman bagi masyarakar," kata dia.
BMKG Pasang Penyaring Khusus dan Alat Pemecah Es
Siswanto memaparkan, bahan baku dry ice untuk penyemaian awan idealnya berukuran sekitar 3 milimeter. Namun, proses penyimpanan material di ruang pembeku yang sangat dingin berpotensi menyatu membentuk bongkahan.
Pada hari pertama percobaan, Kamis (15/10/2016), lobang pengeluaran bahan dry ice dari pesawat belum dlengkapi jaring penyaring khusus. Namun pada operasional hari berikutnya, tim melengkapi jaring penyaring ditambah alat pemecah sehingga bahan semai yang keluar berukuran kecil, presisi, dan aman.
"Sejak hari pertama itu kami lakukan evaluasi, kita pasang penyaring khusus dan alat pemecah sehingga bahan semai sudah kecil," kata dia.
Viral Keluhan Warga Palembang Terkait Atap Rumah Jebol
Diberitakan sebelumnya, pemilik akun Facebook Mak Cilla menceritakan pengalaman rumahnya tertimpa benda hingga atap dan plafon jebol, Jumat (16/10/2026) sore. Postingan itu lantas viral di media sosial.
Mak Cilla bercerita, kejadian tersebut terjadi saat dirinya sedang tiduran di rumahnya. Tiba-tiba dia dikagetkan mendengar suara kencang seperti bom
Mak Cilla mengaku awalnya mengira sumber suara berasal dari kipas anginnya. Tak lama usai suara itu, sebuah benda berukuran cukup besar jatuh ke dalam rumahnya yang membuat atap dan plafon jebol.
"Tiba-tiba terdengar suara kencang seperti bom meledak, ada yang jatuh. Saya kira kipas angin di dinding meledak, ternyata benda satu ini, mirip es batu, berasap, jatuh dari atas sampai plafon rumahku jebol," tulis Mak Cilla dalam akun Facebooknya seperti dilihat Tirto, Minggu (18/10/2026).
Penasaran benda tersebut, Mak Cilla lantas memasukkannya ke ember berisi air. Dia kaget benda warna putih tersebut bergelembung menyerupai uap.
Mak Cilla khawatir kejadian serupa kembali terulang. Dia menyinggung operasi dry ice yang tengah dilakukan pemerintah dalam mengatasi asap karhutla di kota itu.
"Apa tidak ada cara lain untuk menghilangkan asap ini, jangan pakai kayak es batu ini. Joka menimpa kepalaku, aku pasti mati atau masuk rumah sakit. Berantakan di rumah ini sampai keluar. Soal seng rumah sama plafon yang jebol tidak apa-apa, tapi jika menimpaku pasti beda ceritanya," tulis Mak Cilla.
Uji coba OMC dry ice digelar pada 15 Oktober 2026 dengan melakukan penyemaian 800 kilogram dry ice di langit Palembang. Setelah diklaim berhasil mengurai asap karhutla, Kementerian Kehutanan bersama BMKG dan BNPB kembali melanjutkan teknologi ini hingga 25 Oktober 2026.
Dry ice berguna untuk membantu melemahkan lapisan inversi atmosfer yang membuat asap tertahan dan menumpuk di dekat permukaan. Lapisan inversi terjadi ketika udara yang lebih hangat berada di atas udara yang lebih dingin di dekat permukaan sehingga menghambat pergerakan udara ke atas dan menyebabkan asap serta polutan terperangkap di lapisan bawah atmosfer.
Penulis: Irwanto
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id
































