tirto.id - Sebanyak 30 jenis tanaman dikembangkan di lahan gambut terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan. Tanaman ini bertujuan memulihkan ekosistem gambut dan meningkatkan ekonomi masyarakat.
Gubernur Sumatra Selatan, Herman Deru, mengatakan pengembangan diawali dengan uji adaptasi tanaman bambu betung dan jelutung menggunakan teknik tumpang sari di Ogan Komering Ilir (OKI) beberapa hari lalu. Pengembangan ini kerja sama dengan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Deru mengatakan, Sumsel memiliki dua juta hektare kawasan hidrologis gambut atau sekitar 10 persen dari total kawasan gambut nasional. Potensi ini harus dijaga melalui berbagai inovasi yang mampu menyeimbangkan kepentingan lingkungan dan ekonomi.
"Kita ingin gambut ini tidak hanya dijaga, tetapi juga bisa dimanfaatkan secara produktif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, perlu ada pola pengelolaan yang tepat, berkelanjutan, dan melibatkan masyarakat secara langsung," ungkap Herman Deru, Minggu (1/11/2026).
Menurut dia, kawasan gambut kerap terjadi kebakaran saat musim kemarau yang berdampak munculnya bencana lain, seperti kabut asap yang mengganggu semua sektor aktivitas. Karena itu berbagai upaya pemulihan dan perlindungan ekosistem gambut harus terus dilakukan.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengembangan 30 jenis tanaman vegetasi yang adaptif terhadap karakteristik lahan gambut yang terbakar. Tanaman-tanamam itu seperti bambu betung, jelutung, meranti jawa, ramin, pulai, punak, gaharu, tembesu, keranji, dan lainnya.
Pengembangan tanaman bambu betung dinilai memiliki potensi ekonomi karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku mebel, furnitur, dan berbagai produk kerajinan. Pengembangan tersebut perlu didukung industri pengolahan agar hasil budidaya masyarakat memiliki nilai tambah.
"Ini menjadi contoh bahwa kawasan gambut bisa dikelola dengan baik apabila ada keseriusan dan komitmen bersama. Kita ingin gambut tetap terjaga, karhutla bisa dicegah, tetapi juga mampu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat," kata dia.
Selain itu, Deru menyebut akan mengaktifkan kembali peternakan kerbau rawa sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat dalam mendukung pengelolaan kawasan gambut.
Teknisnya, pemerintah membentuk dan membina kelompok-kelompok masyarakat sebagai mitra aktif dalam pengembamgan kerbau rawa di sekitar lahan gambut.
"Tentunya kita tekankan pentingnya meningkatkan peran desa dan masyarakat dalam pengelolaan gambut agar ekosistem tetap terjaga, produktif, serta mampu menekan risiko kebakaran seminimal mungkin," pungkasnya.
Masuk tirto.id

































