tirto.id - Kualitas udara di Palembang kembali masuk kategori tidak sehat akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi serupa juga terjadi di tiga daerah lain di Sumatera Selatan.
Berdasarkan pengamatan Stasiun Musi II Palembang, konsentrasi partikulat halus (PM2.5) di Palembang mulai memburuk sejak pukul 00.00 WIB, Minggu (8/11/2026). Saat itu, konsentrasi PM2.5 mencapai 57,7 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada pukul 04.00 WIB sebesar 119,1 mikrogram per meter kubik.
Kualitas udara tidak sehat bertahan hingga pukul 09.00 WIB, meski konsentrasi PM2.5 berfluktuasi. Pada pukul 10.00 WIB, kualitas udara Palembang mulai membaik dan masuk kategori sedang dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 50,3 mikrogram per meter kubik.
Selain Palembang, tiga daerah lain di Sumatera Selatan juga mengalami kualitas udara tidak sehat. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, konsentrasi PM2.5 di Musi Rawas mencapai 101 mikrogram per meter kubik, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) sebesar 161 mikrogram per meter kubik, dan Lahat sebesar 107 mikrogram per meter kubik.
Sementara itu, empat daerah lainnya, yakni Ogan Ilir, Ogan Komering Ulu Selatan, Musi Banyuasin, dan Muara Enim, berada dalam kategori sedang. Kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah tersebut telah berlangsung selama beberapa hari terakhir.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto mengungkapkan, kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi salah satu penyumbang kabut asap di Palembang dan sekitarnya. Sejak sepekan terakhir, sejumlah titik api terdeteksi di wilayah tersebut dan masih dalam proses pemadaman.
Karhutla di OKI tersebar di kawasan gambut, yakni Talang Rimba di Kecamatan Cengal, Pulang Geronggang di Kecamatan Pedamaran Timur, dan Sungai Bungin di Kecamatan Pangkalan Lampam. Luas lahan yang terbakar di ketiga lokasi tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 40 hektare.
Operasi pemadaman juga dilakukan di Sungai Rambutan, Ogan Ilir, serta Sungai Pinang, Kecamatan Rambutan, Banyuasin. Kebakaran di lokasi tersebut terjadi pada lahan mineral berupa rawa-rawa dan semak belukar.
"Kita masih lakukan operasi pemadaman di beberapa tempat, terutama di OKI," ungkap Ferdian, Minggu (8/11/2026).
Menurut Ferdian, pemadaman dilakukan oleh tim satuan tugas (satgas) darat gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, TNI, Polri, dan relawan. Operasi tersebut juga didukung pemadaman udara menggunakan helikopter water bombing.
"Kita upayakan api benar-benar padam agar tidak timbulkan asap," kata dia.
Penulis: Irwanto
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id































