Menuju konten utama
Gearbox

Spinning: Ritual Pemakaman Preman, Jadi Olahraga Nasional Afsel

Spinning, atraksi memutar mobil yang lahir dari budaya jalanan dan ritual pemakaman di Afrika Selatan, kini berkembang menjadi olahraga resmi yang populer.

Spinning: Ritual Pemakaman Preman, Jadi Olahraga Nasional Afsel
"Team Ballas" melakukan *drifting* di samping mobil lain dalam sebuah sesi *spinning* di Wheelz n Smoke Arena, Johannesburg bagian selatan, pada 10 Agustus 2024. *Spinning*, yang telah diakui sebagai cabang olahraga otomotif di Afrika Selatan sejak 2014, kini berupaya untuk mendapatkan status resmi dan menarik sponsor. Pada bulan Juli, Menteri Olahraga yang baru, Gayton Mckenzie, menyatakan keinginannya untuk menjadikan olahraga ini sebagai "salah satu cabang olahraga terpenting". (Photo by PHILL MAGAKOE / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - BMW tua berwarna hitam itu telah kehilangan kemewahannya. Kap mesinnya tak bisa ditutup rapat, bemper depannya lenyap entah ke mana, tetapi kehadirannya disambut sorak sorai oleh ratusan, bahkan mungkin ribuan orang.

Di bagian samping mobil ada tulisan besar berbunyi "KAYLA", yang tak lain merupakan nama dari si empunya kendaraan. Tak jauh dari tulisan "KAYLA", tercantum stiker sponsor layaknya mobil balap. Kesan itu kian dipertegas lewat kehadiran stiker dengan nama tim balap di kaca depan bagian atas. Dan, ya, mobil BMW tua itu memang mobil balap. Bentuknya boleh tak lagi elok, tetapi jangan tanyakan bagaimana kemampuannya bermanuver.

Mobil itu adalah milik Kaylin Oliphant alias Kayla, seorang perempuan muda asal Kimberley, Afrika Selatan (Afsel). Di sana, Kayla adalah bagian penting dari sebuah subkultur otomotif yang kini telah berkembang pesat menjadi olahraga nasional. Nama olahraga itu adalah spinning.

Spinning Tidak Sama dengan Drifting

Spinning, dalam definisi paling sederhana, adalah seni memutar mobil dalam lingkaran atau angka delapan secara terus-menerus. Akan tetapi, seni dari spinning tidak berhenti sampai bagaimana seseorang mengendalikan mobil. Lebih dari itu, seni dari spinning juga dibumbui dengan beragam atraksi penuh risiko.

Atraksi itu bisa dilakukan oleh sang pengemudi atau penumpang yang duduk di sebelahnya. Tingkah polah mereka macam-macam. Ada yang keluar dari jendela, bergelantungan di pintu, berdiri di atap mobil yang tengah berputar, sampai melompat lalu masuk lagi ke kabin mobil yang sudah mulai melaju. Semua itu dilakukan, tentu saja, tanpa helm apalagi sabuk pengaman. Dan umumnya, mobil yang digunakan untuk spinning adalah BMW tua keluaran 1990-an awal yang sudah dipermak sedemikian rupa layaknya milik Kayla tadi.

Sepintas, spinning terlihat mirip dengan drifting, dan pendapat ini wajar. Pasalnya, baik spinning maupun drifting sama-sama melibatkan ban yang dibuat selip lalu menghasilkan kepulan asap yang membubung. Meski begitu, ada perbedaan signifikan antara keduanya.

Dalam drifting, mobil melaju kencang dalam lintasan besar dan fokusnya adalah pada sudut dan kecepatan. Maka dari itu, dalam kompetisi drifting level top, mobil yang digunakan pun mobil-mobil dengan kekuatan besar, kurang lebih 800 daya kuda. Sementara spinning, biasanya tidak butuh tenaga sebesar itu. Paling-paling, untuk spinning, mobil dengan tenaga 300 daya kuda saja sudah cukup. Spinning juga tidak melibatkan lintasan besar. Ajang ini biasanya dihelat di arena kecil yang disebut pitch dan dipenuhi rintangan yang mesti dihindari. Oh, dan yang tak kalah penting, untuk drifting, pengemudi harus selalu berada di dalam mobil.

Spinning dibagi dua: freelance dan stunts. Freelance adalah bagaimana pengemudi beratraksi dengan cara bermanuver sedekat mungkin dengan rintangan. Sementara stunts adalah di mana penumpang keluar dari kendaraan untuk melakukan atraksi di dalam maupun luar mobil.

Lalu, bagaimana bisa spinning yang terkesan ugal-ugalan ini bisa menjadi sebuah olahraga resmi?

Sejarah dan Tantangan Spinning

Semuanya bermula di kota Soweto pada dekade 1980-an. Di bawah rezim apartheid, Soweto merupakan township, kawasan permukiman yang diperuntukkan bagi warga kulit hitam. Kota ini terletak di pinggir Johannesburg. Namun, dengan keberadaan sekitar 850 ribu penduduk yang dibagi ke dalam 30 kawasan permukiman, Soweto bukan sekadar kota pinggiran biasa. Kota ini adalah pusat perlawanan, tempat di mana pemberontakan 1976 yang menewaskan ratusan pelajar menjadi salah satu momen paling pedih dalam sejarah Afsel.

Selain perlawanan politik, Soweto juga menjadi basis preman yang tumbuh subur pada masa itu. Di sana, yang menjadi simbol status adalah mobil curian dan dari sinilah spinning lahir. Ceritanya, ketika itu banyak mobil curian yang dipamerkan di jalan-jalan kota. Para preman mengendarai mobil-mobil itu dengan ugal-ugalan sebagai aksi unjuk kekuasaan. Kebiasaan tersebut kemudian mereka bawa pula ke prosesi pemakaman kamerad-kamerad mereka yang gugur. Sebagai bentuk penghormatan, para preman Soweto mengendarai mobil dengan manuver berputar-putar alias spinning.

Adapun, obsesi spinning terhadap BMW baru muncul pada awal 1990-an. Kala itu, Afsel nyaris jatuh dalam situasi perang saudara. Di tengah situasi tak menentu itu, sejumlah pemuda mulai membawa spinning keluar dari lingkar kriminalitas. Sebenarnya yang mereka lakukan bukan cuma spinning, tetapi juga hal-hal lain seperti drag race dan atraksi lainnya. Namun, satu hal yang pasti, semua itu mereka lakukan dengan menggunakan BMW 325i yang mereka anggap mobil paling bagus.

Di Afsel, BMW 325i punya julukan tersendiri, yaitu gusheshe. Ada yang bilang ini berasal dari suara mesin mobil tersebut, ada pula yang menyebutnya berarti panty dropper, alias simbol kekerenan pemuda yang membuat mereka bisa mendapat perhatian dari lawan jenis. BMW 325i secara resmi dirilis BMW South Africa pada 1990. Desain yang kompak, penggerak roda belakang, sampai pedal-pedal yang berdekatan membuat mobil ini ideal untuk spinning lantaran mudah diajak bermanuver ekstrem di sudut-sudut sempit.

Spinning Afrika Selatan

Seorang pria memberi isyarat saat ia mencondongkan tubuh ke luar mobil yang sedang berputar-putar dalam sebuah acara *spinners* di sebuah arena untuk pertemuan lintas komunitas pada Malam Tahun Baru di Bulawayo, 31 Desember 2025. (Photo by Zinyange Auntony / AFP)

Dalam sebuah wawancara dengan BBC pada 2025, Menteri Olahraga Gayton McKenzie pernah berkata, "Saya pernah datang ke pertandingan kriket yang penontonnya sepi. Saya pernah juga datang ke pertandingan rugbi yang sepi. Tapi, saya tidak pernah melihat ada event spinning yang sepi penonton."

Untuk itu, spinning berutang pada sejumlah nama penting. Jeff James, misalnya, yang merupakan salah satu pelaku spinning sejak 1990-an dulu. Ketika diwawancara Vice pada 2015, James mengaku sebagai orang pertama yang membiarkan penumpangnya keluar dari mobil yang sedang berputar. "Kami mencoba beberapa trik lucu, seperti drag racing dan stunts. Dan begitulah semuanya berkembang," katanya.

Nama lain yang tak kalah legendarisnya adalah Mageshe Ndaba, yang dijuluki King of Spin sejak 2003. Ndaba bercerita bahwa, dulunya, para pelaku spinning tidak punya arena memadai. Mereka harus beraksi di jalanan dan sering kali berurusan dengan polisi. Menariknya, menurut Ndaba, para polisi itu tak jarang meminta dirinya untuk mendemonstrasikan spinning di depan mereka.

Titik balik spinning pun terjadi pada 2014 ketika Motorsport South Africa secara resmi mengakuinya sebagai salah satu cabang motorsport. Pengakuan ini membuka pintu lebar-lebar bagi penyelenggaraan ajang resmi, lengkap dengan segala aturan serta standar keselamatan baik bagi peserta maupun penonton.

Sejak itu, spinning kian populer. Perusahaan minuman berenergi Red Bull, yang memang doyan mensponsori olahraga-olahraga ekstrem, pun tak mau ketinggalan. Sejak 2019, Afsel punya event spinning resmi yang disponsori langsung oleh perusahaan asal Austria tersebut.

Dari kompetisi resmi itu lahirlah nama-nama seperti Kayla tadi. Kemudian, ada pula Samkeliso "Sam Sam" Thubane dan Stacey-Lee May. Mereka kini dikenal secara internasional dan sudah tampil di berbagai negara. Stacey-Lee May, yang menciptakan gaya khasnya sendiri bernama "Suicide Slide" dan "Superwoman", bahkan kini dibekingi Monster Energy. Singkat kata, para bintang dari ajang spinning ini telah menjadi selebritas baru dari Afsel.

Kini, event spinning resmi bisa menarik hingga 10.000 penonton. Spinning juga semakin inklusif. Preshu Singh, penyelenggara event dari Richards Bay yang sudah berkecimpung di olahraga ini sejak 2002, menyebut spinning kini sudah menjadi tontonan keluarga. "Sekarang, Anda bisa melihat seluruh keluarga menonton acara spinning, bahkan anak-anak kecil pun diajak," katanya.

Kemajuan spinning ini tidak bisa dipisahkan juga dari sokongan pemerintah. McKenzie, mantan preman yang pernah menjadi spinner di masa mudanya, adalah salah satu sosok yang paling berjasa mengembangkan spinning sebagai sebuah olahraga resmi.

Menurut laporan BBC, Kementerian Olahraga pimpinan McKenzie tahun lalu menganggarkan dana sekitar 5 juta rand (kurang lebih Rp5,5 miliar) untuk promosi spinning. McKenzie bahkan percaya bahwa spinning bisa menekan angka kejahatan sementara di komunitas-komunitas yang rawan. "Di Mitchells Plain, ada penembakan setiap hari. Ketika ada event spinning, penembakan mereda atau berhenti," ujarnya.

Sayangnya, meski sudah menjadi olahraga resmi yang diakui dunia, sisi gelap spinning masih ada. Contoh terbarunya terjadi 10 Oktober 2026 lalu. Ketika itu, sebuah event tak resmi digelar di Atlantis, sebuah kawasan di tepian Cape Town. Dalam event tersebut, seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun meninggal dunia usai kepalanya terhantam roda mobil yang terlepas. Sebelum itu, seorang pria juga dikabarkan kehilangan kakinya dalam event spinning ilegal yang juga di Atlantis.

Dua kejadian nahas tersebut semakin mempertegas pentingnya penyelenggaraan spinning secara resmi, di mana ada standar keselamatan yang jelas dan ketat, serta akses terhadap layanan kesehatan yang cepat. Namun, dasarnya memang olahraga yang lahir dari jalanan, mencerabut spinning dari jalanan pun tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.

Satu hal yang pasti, progres spinning secara umum lebih berpihak kepada sisi terangnya. Selain dukungan pemerintah tadi, spinning juga memberi banyak ruang bagi pemberdayaan perempuan serta pemberdayaan manusia secara keseluruhan.

Seperti kesaksian Sam Sam Thubane, "Saya tidak mengenal siapa pun di spinning yang merupakan seorang gangster. Sudah banyak yang berubah, dan olahraga ini mampu mempersatukan semua orang."

Baca juga artikel terkait OTOMOTIF atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi