tirto.id - Pada pertengahan abad ke-19, kawasan Pasifik Barat Laut berubah menjadi gelanggang ketegangan bagi dua ambisi imperialis. Amerika Serikat bergerak di bawah naungan doktrin "manifest destiny", yakni spirit kuat imperialis orang AS, bahwa mereka yakin ditakdirkan mengemban misi sebagai penakluk Dunia Baru.
Konsep ini diterjemahkan sebagai dogma yang memicu seruan aneksasi wilayah di daratan Amerika. Dalam buku Manifest Destiny and Mission in American History (1995: 24), Frederick Merk menulis, "Perluasan, telah dirancang oleh surga." Tak heran jika AS menggunakan personifikasi Lady Columbia, yang berparas macam dewi agung, untuk menunjukkan keadiluhungan modernisasi Dunia Baru.
Sementara itu, pesaing ideologis Dunia Baru, Britania Raya tak mau kalah sangar. Ekspedisi Britania Raya yang telah melanglang buana mengekspansi geoekonomi Amerika Utara, bertekad mempertahankan dominasinya terhadap koloni dan jalur perdagangan mereka.
Oregon Country, hamparan luas yang kini mencakup wilayah Washington, Oregon, Idaho, hingga sebagian wilayah British Colombia menjadi batas persaingan strategis utama antarnegara adidaya tersebut. Sejak disepakatinya Treaty of Joint Occupation 1818, kedua imperialis Barat itu sejatinya setuju menguasai wilayah ini bersama-sama.
Namun di lapangan, Britania Raya memegang kendali de facto di wilayah tersebut melalui Hudson’s Bay Company (HBC). Britania Raya menggandeng badan usaha monopoli dagang bulu yang beroperasi laiknya perpanjangan tangan mahkota Inggris dari markas mereka, Fort Vancouver.
Tatanan ini runtuh pada dekade 1840-an ketika gelombang ribuan migran AS membanjiri kawasan tersebut melalui "Oregon Trail". Gelombang migrasi ini lambat laun menggoyahkan dominasi Britania Raya, bahkan menggeser sengketa komersial dagang menjadi desakan kedaulatan politik.
Demi mencegah menjalarnya akar konflik, Washington dan London sepakat meneken Oregon Treaty pada 15 Juni 1846. Perjanjian ini menyepakati garis batas darat resmi dan tanpa toleransi. James Pol, Presiden AS saat itu membuat landasan, "Lima puluh empat, empat puluh, atau perang!" di Pemilu 1844. Kampanye itu merujuk pada garis lintang 54° 40’ yang memisahkan Negara Oregon di sebelah utara, membentang dari Rocky Mountain hingga Pantai Pasifik.
Namun kesepakatan diplomatik tersebut justru menyisakan cacat hukum sangat penting pada bagian teritorial maritim. Traktat tertulis ambigu, menyatakan bahwa garis batas darat wilayah akan berlanjut ke barat melalui "the middle of the channel". Bagian ini gagal mendefinisikan "channel" mana yang dimaksud, sebab para pentolan yang meneken Oregon Treaty tidak memperhitungkan kerumitan topografi maritim di Kepulauan San Juan: Orcas, Lopez, dan San Juan.
Menurut Deres Hayek dalam Historical Atlas of the Pacific Northwest (1999: 171-174), peta yang tersedia waktu itu masih samar. Pertama karya Kapten Royal Navy George Vancouver yang dibuat pada 1798, kemudian karya Charles Wilkes dari Angkatan Laut Amerika Serikat yang terbit pada 1845. Masalahnya, lanskap topografi antara kedua perta tersebut saling bertolak belakang.
Britania Raya mengklaim Selat Rosario di sisi timur sebagai batas resmi. Sedangkan AS menganggap jalur utamanya adalah Selat Haro di sisi barat. Carut-marut yuridis ini yang menanamkan benih sengketa menahun, menempatkan Kepulauan San Juan terjebak tepat di tengah zona abu-abu.
Di samping itu, nilai geopolitik Kepulauan San Juan terbilang sangat tinggi. Pihak mana pun yang menguasai teritorial Kepulauan San Juan bisa mengontrol akses maritim menuju Victoria, pusat pemerintahan Britania Raya di Fort Vancouver. Kepulauan ini juga berfungsi sebagai blokade natural armada perang asing ke perairan dalam Amerika. Itu belum termasuk kekayaan hamparan rumput subur serta akses utama jalur migrasi ikan salmon.
Ulah Seekor Babi
Konflik merunyam ketika Britania Raya dengan sengaja menguatkan klaim de facto mereka. HBC dibiarkan mendirikan Belle Vue Sheep Farm di ujung selatan Pulau San Juan pada 1853. Peternakan ini merupakan upaya diversifikasi ekonomi karena valuasi perdagangan bulu hewan mulai merosot. Charles John Griffin, kepala pengelola Belle Vue Sheep Farm bersama para tenaga kerja multikultural yang terdiri dari para penggembala Kanaka (suku endemik Hawaii), Eropa, dan penduduk asli Coast Salish memboyong 1.369 ekor domba, diikuti sejumlah sapi, kuda, dan babi.
Di sisi lain, menjelang pertengahan 1859, 25-29 migran Amerika telah tiba, bermukim, menduduki lahan berdasarkan US Donation Land Claim Act. Mereka memiliki keyakinan penuh bahwa tanah Pulau San Juan adalah milik AS.
Di momen-momen selanjutnya, ketegangan meningkat. Interaksi antarpenduduk sekutu Britania Raya dengan AS sama sekali tak mesra. Cekcok sudah jadi makanan sehari-hari. Bahkan pertikaian-pertikaian kecil agaknya sering disulut dari akumulasi sentimen di masa lampau.
Sekali waktu, pemerintah lokal AS mencoba menyita 34 ekor domba jantan pembiakan milik HBC lantaran para peternak dianggap menunggak pajak. Insiden ini sebenarnya telah sampai ke telinga Menteri Luar Negeri Washington, William Marcy, dan gubernur daerah setempat, Isaac Stevens telah mendapatkan surat cinta agar pertikaian selesai dengan cara damai sampai sengketa batas wilayah menemui titik terang.
Siapa pun di Kepulauan San Juan sangat sensitif. Semua orang punya tensi tinggi. Api kecil saja kalau disiram boleh jadi membesar.
Klimaksnya ketika musim semi 15 Juni 1859, seekor babi mengacak-acak kebun milik pemukim AS, Lyman Cutlar. Kesal karena kebun kentangnya ludes, Cutlar dengan spontan menembak mati babi tersebut.

Kebun Cutlar memang memiliki vegetasi yang terbuka. Lahannya sangat luas, sekitar 160 hektare dan tak ada pagar yang cukup untuk mengelilingi seluruhnya.
Nahas, babi itu milik Charles John Griffin, sang kepala peternakan yang sangat berpengaruh. Dia tentu sangat marah dan menuntut ganti rugi atas babinya. Awalnya Cutlar menyanggupi dan menawarkan $10 tetapi Griffin menginginkan sepuluh kali lipat dari tawaran pertama.
Merasa dipermainkan, Cutlar balik dongkol. Dia menganggap berhak menembak babi itu karena memang menjengkelkan. Tak hanya sekali, tetapi kentang Cutlar telah menjadi korban berulang kali.
Kisah itu kemudian sering disadur dalam literatur sastra. Seperti komik bergambar Emma Bland Smith berjudul The Pig War: How a Porcine Tragedy Taught England and America to Share (2020).
"Mungkin Lyman belum minum kopi. Mungkin dia kurang tidur. Mungkin dia menantikan untuk merebus kentang demi makan malamnya .... Ia bertindak tanpa berpikir. Dan babi itu membayar harga yang sangat mahal. Kasihan babi itu," tulis Smith dengan nada sinis.
Akan tetapi rekaan itu mendasar pada kejadian yang sebenarnya. Sebab otoritas Inggris selanjutnya mengancam menangkap Cutlar, dan para pemukim AS di sana menyerukan perlindungan militer.
Eskalasi Militer
Permintaan perlindungan segera mendapatkan respons. Atas maklumat Jenderal William S. Harney, komandan Departemen Oregon Angkatan Darat AS, 60 kontingen militer di bawah Letnan George Pickett dikerahkan. Deretan kamp mulai didirikan di ujung selatan pulau sejak 27 Juli 1859.
Pickett memasang plakat di dekat dermaga kamp mereka dengan bertuliskan, "Mengingat wilayah ini merupakan wilayah Amerika Serikat, tidak ada hukum selain hukum Amerika Serikat, ataupun pengadilan selain yang diselenggarakan berdasarkan hukum tersebut, yang akan diakui atau diperbolehkan di pulau ini."
Melihat itu, Britania Raya merespons serupa. Tak main-main, armada Angkatan Laut Inggris melabuhkan kapal perang ke Kepulauan San Juan. Pada 10 Agustus 1859, 461 tentara AS bersenjata 14 meriam menghadapi lima kapal Inggris beranggotakan lebih dari 2.140 personel dan 70 meriam.

Kombatan Britania Raya dipimpin Kapten Geoffrey Hornby merangsek sampai ke garis pertahanan terakhir AS. Dengan berhati-hati, dia menuntut Pickett cabut dari pulau untuk menghindari konflik bersenjata. Namun tuntutan ini tanpa diikuti intervensi yang memaksa. Pada intinya, kedua kubu militer ini hanya saling adu sarung pedang tanpa benar-benar mengangkat senjata.
Masih di hari yang sama, Pickett dan Letnan Kolonel Silas Casey pergi ke Victoria untuk berunding dengan Laksamana Muda Robert Baynes, veteran perang 1812. Namun Baynes kekeh tak mau meninggalkan kapalnya, dan membuat ketegangan masih berlanjut.
Kedua kubu diberi perintah agar tak saling meletuskan tembakan. Hasilnya, alih-alih melontarkan timah panas, pasukan AS dan Britania Raya justru menghabiskan hari dengan saling mengumpat dan mengonfrontasi lawannya agar terhasut dan menembakkan peluru.
Pada akhirnya, satu-satunya korban dalam konflik ini adalah seekor babi. Tensi yang tegang, negosiasi berlapis di beberapa bulan berikutnya hingga penggulingan Jenderal Harney. Namun selama itu, kedua pasukan belum benar-benar angkat kaki dari Pulau San Juan.
Presiden Jams Buchanan mengirim Jenderal Winfield Scott demi meredakan krisis. Kedua negara sepakat untuk terus mempertahankan pasukan dengan tidak lebih dari 100 pasukan sampai resolusi sengketa mencapai tahap final.
Resolusi Arbitrase Internasional
Warsa 1871, kedua pihak sepakat untuk mengajukan status Kepulauan San Juan ke arbitrase internasional.
Kaisar Wilhelm I dari Jerman ditunjuk sebagai arbiter. Sementara itu, tiga komisi arbitrase internasional ditunjuk oleh kaisar sebagai pihak netral. Mereka menghelat pertemuan di Jenewa selama setahun.
Kebuntuan menemukan titik terang pada 21 Oktober 1872. Kaisar Wilhem I memutuskan rekomendasi perkara, bahwa batas wilayah akan mengikuti Selat Haro. Seluruh kelompok Pulau San Juan diberikan kepada Amerika Serikat. Menanggapi itu, Britania Raya akhirnya melunak, seluruh pasukan mereka berangsur mundur sejak 25 November 1872. Krisis berakhir damai.
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































