Menuju konten utama

Rupiah Hari Ini Stagnan di Rp17.992 per Dolar AS, Ini Faktornya

Kurs rupiah hari ini bertahan di Rp17.992 per dolar AS. Simak faktor pengaruh The Fed, konflik Timur Tengah, dan keputusan BI-Rate Oktober 2026.

Rupiah Hari Ini Stagnan di Rp17.992 per Dolar AS, Ini Faktornya
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (13/7/2026). Nilai tukar rupiah berada di level Rp18.109 per dolar AS pada perdagangan Senin (13/7) sore, rupiah melemah 44 poin atau 0,24 persen dibandingkan dari penutupan sebelumnya di level Rp 18.065 per dolar AS imbas ketegangan geopolitik AS-Iran yang meningkat di Timur Tengah. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stagnan pada pembukaan perdagangan Rabu (21/10/2026), dengan bertahan di level Rp17.992 per dolar AS.

Posisi tersebut sama dengan penutupan perdagangan sebelumnya, setelah rupiah sempat menguat 54 poin atau 0,30 persen ke level Rp17.992 per dolar AS pada Selasa.

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menyebut penguatan rupiah pada perdagangan sebelumnya dipengaruhi perkembangan kebijakan Amerika Serikat terhadap Rusia.

Namun, pergerakan mata uang Garuda masih dibayangi sejumlah risiko eksternal, mulai dari konflik di kawasan Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga The Fed, hingga potensi arus keluar modal asing akibat usulan reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI.

Kebijakan AS terhadap Rusia Memengaruhi Rupiah

Ibrahim Assuabi menjelaskan, salah satu faktor yang memengaruhi penguatan rupiah adalah keputusan Presiden AS Donald Trump terkait penerapan sanksi dan tarif terhadap Rusia.

“Perintah eksekutif yang diterbitkan oleh Trump (Presiden AS Donald Trump) pada Jumat malam (16/10) mencabut sanksi dan tarif utama AS yang berkaitan dengan Rusia, termasuk bea atas barang-barang dari negara tersebut serta penalti bagi pihak yang membeli minyak dan gas Rusia,” ucapnya dalam keterangan tertulis dikutip Antara (20/10/2026).

Menurut laporan Anadolu Anjasi, perintah eksekutif tersebut berkaitan dengan penerapan undang-undang baru mengenai sanksi terhadap Rusia. Kebijakan itu mencakup tarif terhadap barang-barang Rusia yang disebut dinaikkan hingga 500 persen.

Selain itu, terdapat ketentuan tarif tambahan sebesar 100 persen terhadap barang-barang dari lima negara pengimpor terbesar minyak dan gas Rusia apabila negara-negara tersebut melakukan pembelian baru pada atau setelah 18 Oktober.

Tarif serupa juga berlaku bagi barang-barang dari lima negara yang dinilai paling berperan dalam memfasilitasi penghindaran sanksi terkait minyak Rusia.

Namun, Trump mengecualikan tarif tersebut dengan alasan kepentingan nasional AS dan telah menyampaikan sertifikasi resmi kepada Kongres, menurut Gedung Putih. Pengecualian itu berlaku hingga presiden atau menteri luar negeri AS memutuskan bahwa tindakan lebih lanjut diperlukan.

Perkembangan kebijakan tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar dalam menilai arah pergerakan mata uang, di tengah ketidakpastian hubungan perdagangan dan geopolitik global.

Konflik Houthi Vs Arab Saudi dan Harga Minyak

Selain kebijakan AS terhadap Rusia, Ibrahim menyoroti konflik antara kelompok Houthi di Yaman dan Arab Saudi yang masih berlangsung. Menurut dia, serangan-serangan terbaru meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan dan risiko gangguan pasokan energi.

“Serangan-serangan baru ini meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas kawasan dan menegaskan risiko yang terus ada terhadap pasokan energi dari wilayah tersebut, sehingga menjaga harga minyak tetap berada di atas 100 dolar AS per barel,” kata Ibrahim.

Harga minyak yang bertahan tinggi menjadi salah satu perkembangan eksternal yang perlu dicermati pasar. Ketidakpastian pasokan energi dapat memengaruhi sentimen investor dan memperbesar tekanan terhadap negara yang rentan terhadap perubahan harga komoditas global.

Sikap The Fed Masih Menjadi Perhatian Pasar

Arah kebijakan suku bunga AS juga menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah. Pernyataan terbaru sejumlah pejabat Federal Reserve mengisyaratkan keterbukaan terhadap pengetatan kebijakan lebih lanjut, meskipun belum memberikan sinyal kuat mengenai kenaikan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober 2026.

Ketua The Fed Kevin Warsh, saat berbicara di Bangkok pada Jumat (16/10), menyatakan tidak ingin memberikan panduan yang mendahului hasil pertemuan mendatang.

Pada pekan ini, para pejabat The Fed tidak dijadwalkan menyampaikan pidato karena memasuki periode blackout atau masa tenang menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Oktober.

Meski demikian, sejumlah data ekonomi AS tetap akan dirilis, termasuk klaim tunjangan pengangguran mingguan dan data awal indeks manajer pembelian (flash Purchasing Managers’ Index/PMI) dari S&P Global.

Data tersebut dapat menjadi salah satu petunjuk bagi pasar untuk menilai kondisi ekonomi AS dan kemungkinan arah kebijakan moneter selanjutnya. Jika suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama, tekanan terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah, berpotensi berlanjut.

BI-Rate Oktober 2026: Bertahan atau Naik?

Di dalam negeri, pelaku pasar menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia periode Oktober 2026 yang akan diumumkan pada Rabu siang. Para ekonom memiliki pandangan berbeda mengenai keputusan BI-Rate, apakah tetap di level 5,75 persen atau naik menjadi 6 persen.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai usulan reklasifikasi MSCI terhadap pasar saham Indonesia dan tekanan berkelanjutan terhadap rupiah meningkatkan risiko arus keluar modal asing. Kondisi tersebut dapat memperkuat alasan bagi BI untuk menaikkan suku bunga apabila tekanan terhadap nilai tukar semakin intensif.

Meski demikian, LPEM memperkirakan BI masih dapat mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen pada RDG Oktober, sembari bersiap merespons jika tekanan terhadap rupiah meningkat. Menurut Riefky, ketidakpastian eksternal dan tekanan pasar domestik membuat ruang gerak kebijakan BI menjadi terbatas.

Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia juga terlihat dari pergerakan arus portofolio asing. Pada periode pertengahan September hingga pertengahan Oktober 2026, Indonesia mencatat arus keluar portofolio asing bersih sekitar 0,05 miliar dolar AS.

Arus masuk sebesar 0,69 miliar dolar AS ke pasar obligasi pemerintah diimbangi arus keluar sekitar 0,73 miliar dolar AS dari pasar saham.

Pada periode yang sama, rupiah melemah 1,22 persen secara bulanan (month to month/mtm), dari Rp17.680 per dolar AS pada 15 September menjadi Rp17.895 per dolar AS pada 14 Oktober 2026. Sejak awal tahun, rupiah tercatat melemah 8,30 persen secara tahunan berjalan (year to date/ytd).

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra