tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Senin (19/10/2026). Rupiah melemah 8 poin atau 0,04 persen ke level Rp18.035 per dolar AS.
Pelemahan rupiah melanjutkan tekanan yang terjadi pada akhir perdagangan pekan sebelumnya. Pada Jumat, 16 Oktober 2026, rupiah ditutup melemah 89 poin atau 0,50 persen ke level Rp18.027 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.938 per dolar AS.
Pergerakan mata uang RI ini dipengaruhi sejumlah faktor eksternal, mulai dari prospek kebijakan suku bunga AS hingga ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi potensi suku bunga AS bertahan pada level tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut dapat menjaga kekuatan dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Amru menjelaskan, inflasi AS pada September 2026 meningkat menjadi 3,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dari 3,4 persen pada Agustus 2026. Kenaikan inflasi tersebut membuat pelaku pasar terus mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.
“Jika suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama, dolar AS berpotensi tetap kuat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” kata Amru dikutip Antara, Jumat (16/10).
Selain kebijakan moneter AS, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah juga menjadi perhatian pasar. Situasi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kebutuhan devisa Indonesia untuk membiayai impor energi. Kebutuhan dolar AS yang meningkat dapat menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Dari sisi domestik, pasar juga mencermati pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai usulan perubahan status pasar saham Indonesia dari kategori pasar berkembang (Emerging Market) menjadi pasar mandiri (Standalone Market).
Menurut Amru, perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia serta mendorong penyesuaian portofolio investasi asing.
Meski demikian, dampak usulan perubahan klasifikasi MSCI terhadap rupiah belum dapat dipastikan secara langsung. Pergerakan nilai tukar tetap dipengaruhi sejumlah faktor lain, termasuk arah dolar AS, ekspektasi suku bunga The Fed, perkembangan geopolitik, dan kebutuhan valuta asing di dalam negeri.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, sejumlah indikator masih menunjukkan adanya penopang bagi perekonomian Indonesia. Bank Indonesia mencatat utang luar negeri Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 459,3 miliar dolar AS, dengan pertumbuhan 5,6 persen secara tahunan. Aliran dana masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) juga turut mendukung pembiayaan pemerintah.
Penjualan eceran pada Agustus 2026 tumbuh 1,3 persen secara tahunan dan diprakirakan meningkat menjadi 1,4 persen pada September 2026. Amru menilai indikator tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih terjaga, meskipun belum cukup untuk mengimbangi tekanan dari faktor eksternal.
“Ke depan, pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh arah dolar AS, ekspektasi kebijakan The Fed, perkembangan geopolitik, serta dinamika arus modal asing. Perkembangan faktor-faktor tersebut akan menjadi perhatian pasar dalam menentukan arah rupiah selanjutnya,” ujar dia.
Di sisi lain, BI juga terus melakukan intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sesuai dengan fundamental ekonomi.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan intervensi dilakukan secara konsisten melalui sejumlah instrumen, yakni transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri (offshore), transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
Erwin menjelaskan, meningkatnya sentimen risk-off global mendorong penguatan dolar AS sekaligus menekan pasar keuangan domestik. Kondisi tersebut juga berpotensi membuat arus keluar dana investor dari aset portofolio Indonesia berlanjut.
Meski menghadapi tekanan, BI menilai pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Pelemahan rupiah tercatat sebesar 0,28 persen secara quarter-to-date (QTD) atau sejak awal kuartal hingga periode pelaporan tersebut.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id





































