Menuju konten utama

Tak Cuma Indonesia, Turki Juga Diancam MSCI ke Standalone Market

MSCI mengancam menurunkan status pasar saham Turki menjadi standalone market jika reformasi tak memadai hingga Juni 2027, seperti Indonesia.

Tak Cuma Indonesia, Turki Juga Diancam MSCI ke Standalone Market
presiden turki tayyip erdogan antara foto/reuters/murad sezer
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Penyedia indeks global MSCI mengancam menurunkan klasifikasi pasar saham Turki jika otoritas negara tersebut gagal memperbaiki transparansi dan integritas pasar hingga Juni 2027. Mengutip Reuters, Turki berisiko keluar dari kategori emerging market dan masuk ke frontier market atau standalone market.

Ancaman tersebut muncul ketika Indonesia juga menghadapi risiko perubahan klasifikasi oleh MSCI. Pada 15 Oktober 2026, MSCI mengumumkan konsultasi untuk mengubah status indeks saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Sementara itu, untuk Turki, MSCI membekukan sejumlah penyesuaian indeks sahamnya mulai 15 Oktober 2026 hingga pemberitahuan lebih lanjut. Keputusan ini diambil karena MSCI membutuhkan waktu tambahan untuk menilai efektivitas reformasi pasar Turki.

Dalam pengumumannya, MSCI menyebut investor institusional menyoroti dugaan perdagangan terkoordinasi melalui kepemilikan dana investasi yang terafiliasi dengan sejumlah perusahaan kecil tercatat.

"MSCI menyoroti kekhawatiran serius yang disampaikan oleh investor institusional mengenai kemungkinan perdagangan terkoordinasi melalui kepemilikan dana yang berafiliasi erat dengan perusahaan tercatat berskala lebih kecil tertentu, yang merusak keandalan estimasi free float dan integritas pasar," tulis MSCI dalam keterangannya.

Pembekuan tersebut membuat MSCI tidak akan menaikkan faktor inklusi investor asing (Foreign Inclusion Factor/FIF) maupun jumlah saham yang diperhitungkan dalam indeksnya. MSCI juga menghentikan penambahan saham ke MSCI Turkey Investable Market Index dan kenaikan klasifikasi saham ke segmen ukuran perusahaan yang lebih tinggi.

Meski demikian, MSCI menegaskan status Turki sebagai emerging market belum berubah. Perubahan status tersebut berpotensi memicu aksi jual saham oleh pengelola dana investasi yang mengikuti indeks MSCI Emerging Markets.

"Jika kemajuan yang memadai tidak terlihat pada Juni 2027, MSCI akan mempertimbangkan langkah-langkah tambahan, termasuk konsultasi mengenai potensi reklasifikasi Indeks MSCI Turki dari status Emerging Market menjadi Frontier Market atau Standalone Market," tulis MSCI.

Pasar Turki Disorot Investor

Selain persoalan transparansi kepemilikan saham, pasar modal Turki juga menghadapi tekanan pada perdagangan saham. Indeks acuan BIST 100 tercatat berada di jalur penurunan mingguan kelima berturut-turut dan telah melemah lebih dari 20 persen dibandingkan rekor penutupan tertingginya pada Mei 2026.

MSCI menilai jumlah saham Turki yang memenuhi persyaratan ukuran dan likuiditas bagi investor institusional global relatif terbatas. Akibatnya, investasi terkonsentrasi pada segelintir saham sehingga penghitungan free float dan aktivitas perdagangan menjadi perhatian.

Ancaman penurunan klasifikasi terhadap Turki juga bukan hanya datang dari MSCI. Pada Juli 2026, S&P Dow Jones Indices telah memperingatkan risiko penurunan status Turki menjadi frontier market karena persoalan transparansi dan masalah lain di pasar sahamnya.

Sebagai informasi, untuk Indonesia, MSCI pada 15 Oktober 2026 mengumumkan konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi indeks saham Indonesia dari emerging market langsung menjadi standalone market. MSCI juga mempertahankan pembekuan sejumlah perubahan indeks saham Indonesia hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Dalam pengumumannya, MSCI menyebut kekhawatiran pelaku pasar mengenai ketidakjelasan struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi sebagai persoalan yang memengaruhi kelayakan investasi di pasar saham Indonesia. MSCI dijadwalkan mengumumkan keputusan akhir mengenai usulan perubahan klasifikasi Indonesia paling lambat akhir Juni 2027.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Flash News
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana