Menuju konten utama

Airlangga soal Potensi RI Standalone Market: Biasa, MSCI Ngancam

Airlangga menyebut ancaman MSCI menurunkan status pasar saham Indonesia sebagai hal biasa, meski IHSG anjlok hingga ditutup di bawah 5.000.

Airlangga soal Potensi RI Standalone Market: Biasa, MSCI Ngancam
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan paparan saat Konferensi Pers Stimulus Pertumbuhan Ekonomi Semester II Tahun 2026 di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (22/6/2026). Pemerintah menyiapkan anggaran stimulus ekonomi semester II 2026 sebesar Rp26,34 triliun yang mencakup stimulus transportasi Rp2,04 triliun, program magang dan vokasi Rp6,26 triliun, serta bantuan pangan Rp18,04 triliun untuk mendorong pencapaian pertumbuhan ekonomi ditengah gejolak global. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons potensi Indonesia diturunkan menjadi standalone market (pasar mandiri) oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Ia menganggap ancaman tersebut sebagai hal biasa karena keputusan final baru akan keluar pada Juni tahun depan.

"Kan masih bulan Juni tahun depan. Biasa dia ngancam-ngancam dikit kan," kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (19/10/2026), sebelum mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan itu muncul ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah tajam. IHSG dibuka turun 4,31 persen ke level 4.961,87. Pada akhir sesi I, indeks merosot 5,05 persen ke 4.923,26.

IHSG sempat menyentuh level 4.907,37, terendah sejak 2020. Indeks kemudian ditutup di level 4.996,61, turun 3,64 persen dibandingkan penutupan Jumat (16/10/2026) di posisi 5.185,11.

Tekanan pasar terjadi di tengah usulan MSCI untuk menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market (pasar berkembang) menjadi standalone market.

MSCI membuka konsultasi publik atas usulan tersebut hingga 30 April 2027. Keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027. MSCI menyatakan usulan itu akan dilanjutkan kecuali terdapat bukti nyata perbaikan material dalam tata kelola dan fungsi pasar.

MSCI menyoroti transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta penegakan aturan. Penyedia indeks global itu juga mempertahankan pembekuan sejumlah perubahan indeks saham Indonesia hingga pemberitahuan lebih lanjut. Kebijakan tersebut pertama kali diterapkan pada 27 Januari 2026.

Dua hari kemudian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mengumumkan paket kebijakan untuk meningkatkan transparansi pasar dan batas minimum saham beredar di publik (free float).

Ketika ditanya apakah usulan MSCI akan dibahas dalam rapat bersama Presiden, Airlangga mengatakan persoalan itu telah dibicarakan di bursa.

"MSCI kan kemarin sudah dibahas di Bursa," ujarnya.

Airlangga menilai pelemahan IHSG akibat sentimen negatif merupakan hal yang lazim. Menurut dia, penerapan batas penolakan otomatis (auto rejection) yang baru turut membantu menjaga pergerakan pasar.

"Ya, kalau ada sentimen negatif kan biasa turun. Tetapi dengan adanya regulasi baru auto rejection 7 persen, kan relatif terjaga dan penutupan tadi 5.000 lebih sedikit," kata Airlangga.

Menanggapi IHSG yang sempat turun di bawah level 5.000, ia kembali menyebut pergerakan tersebut sebagai hal biasa.

"Ya, enggak. Itu namanya naik-turun, tergantung pada isu sentimen," ujarnya.

BEI memberlakukan batas penolakan otomatis bawah (auto rejection bawah/ARB) sebesar 7 persen, turun dari sebelumnya 15 persen, mulai Senin (19/10/2026) hingga 31 Desember 2026.

Sebelumnya, pada Jumat (16/10/2026), IHSG ditutup anjlok 11,57 persen ke level 5.185. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar sejak krisis moneter 1998. BEI sempat menghentikan sementara perdagangan selama 30 menit pada hari itu.

Dalam kesempatan yang sama, Airlangga juga menanggapi dua tahun pemerintahan Prabowo yang genap pada Selasa (20/10/2026). Ia mengatakan Presiden telah memaparkan capaian pemerintah dalam pidato di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Agustus lalu.

Airlangga menilai situasi selama dua tahun pemerintahan relatif stabil, baik dari sisi politik, ekonomi, maupun sosial.

"Alhamdulillah, relatif situasi stabil. Politik dan ekonomi, serta sosial," kata Airlangga.

Adapun target ke depan, menurut dia, adalah mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan pemerataan kesejahteraan.

"Hal yang baru tentu pertumbuhan yang lebih tinggi dan kesejahteraan yang lebih merata," ujarnya.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Hendra Friana