tirto.id - Danantara Indonesia akan menggelar Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 pada 26-28 Oktober 2026. Forum tersebut diarahkan menghasilkan kesepakatan investasi dan kerja sama strategis, bukan sekadar ajang pertemuan.
Rencana itu disampaikan dalam konferensi pers di Wisma Danantara Indonesia, Senin (19/10/2026). Hadir sebagai pembicara Chief Technology Officer Danantara, Sigit Puji Santosa; Managing Director Global Relations & Communications; Pahala Nugraha Mansury; dan Managing Director Strategic Technology Initiatives, Ricardo Irwan Rei.
Sigit menyebut forum ini sebagai bagian dari upaya membenahi ekosistem industri untuk mendukung program ekonomi pemerintah. Menurut dia, industri berbasis teknologi dan inovasi menjadi jalan utama.
"Nah, satu-satunya jalan kalau kita ingin membangun industri ke depan yang memiliki impact ekonomi cukup tinggi, satu adalah kita membangun industri berbasis teknologi dan inovasi," kata Sigit.
Ia memaparkan lima pilar industri yang menjadi prioritas Danantara: ketahanan energi, ketahanan pangan dan kesehatan, hilirisasi mineral, infrastruktur mobilitas dan digital, serta perbankan dan teknologi finansial (fintech).
Selain itu, Sigit menyebut ada satu pilar tambahan berupa industri pendukung dengan fokus pada sektor pertanian (agriculture). Teknologi pertahanan juga disinggung, tetapi menurut dia menjadi bagian akhir. Forum ini disebut akan menjadi agenda tahunan.
Sigit mengatakan keberhasilan forum akan diukur dari kesepakatan yang dihasilkan, baik berupa nota kesepahaman, head of agreement, maupun perjanjian yang bisa segera dijalankan.
"Jadi, ukuran keberhasilan kita adalah berapa banyak deal-deal yang kita jalankan pada saat forum ini," ujarnya.
Ia menambahkan, hasil forum tidak hanya dilihat saat acara berlangsung, tetapi juga satu hingga dua bulan setelahnya. Danantara disebut menyiapkan agenda yang lebih besar pada Desember 2026.
Ricardo Irwan Rei menyebut forum ini ditargetkan dihadiri sekitar 1.500 peserta, termasuk 170 inovator global, lebih dari 100 perusahaan teknologi global, dan 67 pusat riset inovasi.
"Jadi ini memang acara yang sangat besar, prestisius, tapi kami juga tidak ingin sekedar ramai, memang memberikan implikasi yang positif bagi proses industrialisasi kita hari ini," kata Irwan.
Hari pertama, 26 Oktober, diisi diskusi pleno bersama para pakar di bidang teknologi, inovasi, dan investasi, arahan dari pimpinan, serta penampilan BUMN.
Hari kedua, berisi panel per sektor industri yang berjalan paralel di beberapa ruangan. Hari ketiga mencakup sesi pleno publik. Danantara juga menyiapkan sesi business matching agar BUMN bisa menampilkan produk dan solusi unggulannya kepada peserta.
Sigit menyebut pembicara yang dijadwalkan mencakup dua peraih Nobel, serta perwakilan industri seperti SpaceX, Boeing, Airbus, bioteknologi, dan kecerdasan buatan (AI). Sejumlah menteri juga akan memaparkan arah regulasi.
Pahala menambahkan forum ini menjadi salah satu platform utama yang diselenggarakan Danantara untuk menggandeng pemangku kepentingan global.
"Nah, memang fokus daripada acara DTIFF ini adalah bagaimana kita bisa membangun kepercayaan dengan para stakeholders yang terkait khususnya dalam hal ini adalah teknologi dan juga innovation," kata Pahala.
Menurut Pahala, komposisi forum sekitar 70 persen membahas teknologi dan inovasi, dan 30 persen investasi. Ia menyebut Danantara juga menyiapkan platform kedua, The New Asia Forum, yang berfokus menarik modal ke kawasan Asia. Pahala menyebut Asia berkontribusi sekitar 60 persen pertumbuhan ekonomi dunia, tetapi investasi global yang masuk ke kawasan ini diperkirakan tidak lebih dari 25-30 persen.
Forum ini terbuka untuk umum. Mahasiswa, inovator, dan startup dapat mendaftar sebagai peserta.
Penulis: Muhammad Rayfahd Haykal
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id





































