Menuju konten utama

Rupiah Menguat Tipis Hari Ini Menjadi Rp18.015 per Dolar AS

Rupiah menguat 31 poin ke Rp18.015 per dolar AS pada 20 Oktober 2026. Simak faktor penggerak kurs dan upaya BI menjaga stabilitas rupiah.

Rupiah Menguat Tipis Hari Ini Menjadi Rp18.015 per Dolar AS
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Jumat (16/10/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat tipis pada pembukaan perdagangan Selasa (20/10/2026). Rupiah menguat 31 poin atau 0,07 persen menjadi Rp18.015 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya pada Senin (19/10) yang berada di level Rp18.046 per dolar AS.

Penguatan tersebut terjadi setelah rupiah sempat melemah pada perdagangan sehari sebelumnya di tengah kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Selain kebijakan moneter AS, pergerakan rupiah turut dipengaruhi ketidakpastian geopolitik global. Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) terus melakukan berbagai langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar keuangan internasional.

Rupiah Menguat ke Rp18.015 per Dolar AS

Pada pembukaan perdagangan Selasa (20/10), rupiah menguat 31 poin atau 0,07 persen ke level Rp18.015 per dolar AS. Penguatan ini berbalik dari pergerakan pada penutupan perdagangan Senin (19/10), ketika rupiah melemah 19 poin atau 0,11 persen menjadi Rp18.046 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp18.027 per dolar AS.

Pergerakan rupiah tersebut berlangsung di tengah ketidakpastian mengenai kebijakan moneter AS. Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai pelemahan rupiah pada perdagangan sebelumnya dipengaruhi potensi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh The Fed.

Menurut Ibrahim, pernyataan terbaru sejumlah pejabat The Fed menunjukkan bahwa bank sentral AS masih membuka kemungkinan untuk memperketat kebijakan. Namun, hingga saat itu belum terdapat sinyal kuat mengenai kenaikan suku bunga dalam pertemuan The Fed pada 27–28 Oktober.

“Di tengah situasi ini, para pelaku pasar secara luas memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun,” ujar Ibrahim dikutip Antara (19/10/2026).

Selain kebijakan suku bunga, tekanan terhadap pasar keuangan juga berasal dari situasi geopolitik. Pembicaraan antara AS dan Iran masih menemui jalan buntu, sedangkan ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman terus meningkat.

Ibrahim menilai kombinasi ketidakpastian kebijakan moneter dan konflik geopolitik tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati. Ia mengatakan pelaku pasar secara luas memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun, meskipun keputusan akhirnya masih bergantung pada perkembangan ekonomi dan inflasi.

Upaya Bank Indonesia Menjaga Stabilitas Rupiah

Di tengah tekanan eksternal, Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui sejumlah instrumen kebijakan. Langkah tersebut dilakukan untuk meredam gejolak pasar keuangan global yang berpotensi memengaruhi perekonomian domestik.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan bank sentral akan terus bersiaga di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. Pernyataan itu disampaikan setelah rapat terbatas bidang ekonomi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin (19/10).

Destry menjelaskan, Presiden meminta BI terus mengupayakan berbagai instrumen stabilisasi sekaligus mengevaluasi efektivitasnya. Instrumen tersebut mencakup intervensi di pasar spot, transaksi non-deliverable forward (NDF), serta insentif biaya lindung nilai yang telah diberikan sejak akhir Juni.

"Apakah itu bentuknya intervensi, di spot, NDF, ataupun juga dalam bentuk insentif biaya lindung nilai yang juga sudah kami berikan sejak akhir Juni yang lalu," ujar Destry.

Menurut Destry, kebijakan intervensi dan pemberian insentif tersebut memberikan dampak positif terhadap pasar keuangan domestik, terutama dalam menarik likuiditas di tengah ketidakpastian suku bunga global.

"Dan hingga saat ini sudah bisa mendatangkan aliran dana masuk, baik dalam bentuk efek swap ataupun dalam bentuk DNDF senilai sekitar 8 miliar sampai 9 miliar dolar AS," paparnya.

BI Pantau Inflasi dan Risiko Ekonomi Global

Selain menjaga nilai tukar, BI juga menaruh perhatian terhadap perkembangan inflasi yang mencerminkan kondisi perekonomian nasional. Destry menyampaikan bahwa inflasi inti pada September masih terkendali di level 2,8 persen.

Meski demikian, BI memberi perhatian khusus pada inflasi kelompok pangan bergejolak atau volatile food. Tingkat inflasi kelompok tersebut telah mencapai sekitar 5 persen sehingga memerlukan upaya pengendalian agar tidak terus menekan daya beli masyarakat.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, BI akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian. Langkah ini ditujukan untuk mengendalikan harga pangan agar inflasi kelompok tersebut kembali berada dalam sasaran inflasi BI, yakni 2,5 persen dengan toleransi plus atau minus 1 persen.

Destry juga mengingatkan bahwa volatilitas pasar keuangan global masih tinggi karena sejumlah negara maju mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Kondisi tersebut berkaitan dengan tingkat inflasi di negara-negara maju yang masih berada di atas sasaran masing-masing.

Ia menambahkan, probabilitas kenaikan suku bunga bank sentral AS pada Oktober diperkirakan semakin kecil. Namun, arah kebijakan The Fed tetap menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu dicermati karena dapat memengaruhi arus modal dan ketahanan rupiah ke depan.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra