tirto.id - Goldman Sachs memperkirakan pencoretan penuh Indonesia dari indeks MSCI dapat memicu arus keluar dana pasif (passive outflow) hingga 5,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp101 triliun dengan kurs Rp18.040 per dolar AS.
Estimasi itu muncul setelah MSCI mempertimbangkan perubahan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Mengutip Reuters, Senin (19/10/2026), perubahan tersebut berisiko memutus Indonesia dari aliran modal internasional dan menempatkannya sejajar dengan Lebanon dan Zimbabwe.
Perusahaan jasa keuangan global asal Amerika Serikat tersebut memperkirakan dana kelolaan aktif yang mengacu pada indeks-indeks MSCI memegang saham Indonesia senilai lebih dari 8 miliar dolar AS atau sekitar Rp144 triliun. Namun, penjualan oleh pengelola dana aktif tidak otomatis terjadi karena keputusan investasinya bersifat diskresioner.
"Beban pembuktian telah bergeser," tulis para ahli strategi Goldman dalam catatannya.
Menurut mereka, reklasifikasi hanya bisa dihindari jika Indonesia menunjukkan bukti nyata bahwa reformasi yang diumumkan dijalankan secara konsisten dan benar-benar memperbaiki fungsi pasar.
Peringatan MSCI memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,6 persen pada Jumat (16/10/2026), kemudian turun lebih dari 5 persen pada Senin ke level terendah dalam enam tahun. Reuters mencatat penurunan selama dua hari itu sebagai rekor, sekaligus menjadikan pasar saham Indonesia yang terburuk di dunia.
Bursa Efek Indonesia (BEI) memangkas batas penurunan harian menjadi 7 persen untuk meredam aksi jual.
"Pengumuman MSCI tidak kami duga sehingga menyebabkan kepanikan pasar," kata Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik.
Pernyataan itu disampaikan sebelum pimpinan BEI bertemu dengan eksekutif MSCI pada Senin. Menurut sumber Reuters, pertemuan tersebut juga melibatkan Danantara dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yang terdiri dari menteri keuangan, gubernur Bank Indonesia, serta kepala OJK dan LPS.
Tekanan pasar saham turut merembet ke rupiah dan obligasi pemerintah. Rupiah melemah ke Rp18.048 per dolar AS, mendekati rekor terlemah Rp18.190 per dolar AS pada Juni. Sementara itu, para pedagang menyebut penurunan harga obligasi pemerintah mendorong imbal hasil surat utang tenor 10 tahun naik menjadi 7,4 persen dari 7,169 persen pada Jumat.
Tekanan tersebut terjadi menjelang keputusan kebijakan Bank Indonesia pada pekan ini. Bank sentral diperkirakan mempertahankan suku bunga, meski sejumlah analis mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga untuk meredam tekanan di pasar obligasi.
Dua sumber pemerintah yang mengetahui rencana tersebut mengatakan Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan bertemu dengan pejabat keuangan senior pada Senin sore untuk membahas "kondisi ekonomi saat ini".
Analis kedaulatan S&P Global Ratings, Rain Lin, menilai peringatan MSCI berpotensi memicu tambahan arus modal keluar. Namun, besarnya arus keluar itu diperkirakan belum cukup untuk meningkatkan biaya pembiayaan secara material.
"Yang lebih mengkhawatirkan adalah potensi kerusakan pada kepercayaan investor," kata Rain.
Menurut dia, melemahnya kepercayaan investor berisiko meluas ke pasar obligasi pemerintah dan investasi langsung asing.
MSCI pertama kali menyampaikan kekhawatiran mengenai transparansi kepemilikan saham Indonesia pada Januari dan mengancam menurunkan status pasar menjadi frontier market. Pada Jumat, MSCI menyatakan minimnya kemajuan reformasi membuat penurunan ke status tersebut pun tidak cukup mencerminkan tingkat permasalahan yang ada, termasuk ketidakjelasan kepemilikan saham dan perilaku perdagangan.
Pada hari yang sama, OJK mengumumkan sanksi terkait dugaan manipulasi saham di tiga perusahaan dengan total denda Rp2,1 triliun.
"Denda ini langkah positif," ujar Angus Mackintosh, spesialis ASEAN di Aletheia Capital, Singapura.
Namun, ia menilai diperlukan tindakan terpadu untuk mempertegas kewenangan OJK dan menindak langsung pihak-pihak yang terlibat dalam penyalahgunaan pasar.
Tekanan tersebut terjadi di tengah aksi jual bersih investor asing. Sepanjang tahun ini, investor asing telah melepas saham Indonesia senilai 4,88 miliar dolar AS, menuju arus keluar tahunan terbesar dalam setidaknya 16 tahun.
Penulis: Muhammad Rayfahd Haykal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































