Menuju konten utama

Rupiah Dibuka Menguat Rp18.132 per Dolar AS pada 4 November 2026

Rupiah dibuka menguat ke Rp18.132 per dolar AS setelah melemah tipis pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Rupiah Dibuka Menguat Rp18.132 per Dolar AS pada 4 November 2026
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Jumat (16/10/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Rabu (4/11/2026).

Rupiah naik 28 poin atau 0,15 persen ke level Rp18.132 per dolar AS, setelah pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya, Selasa (3/11/2026), melemah 4 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp18.160 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai perhatian pelaku pasar tertuju pada pemilihan umum paruh waktu atau midterm elections di Amerika Serikat yang berlangsung pada 3 November 2026.

Menurut Ibrahim, agenda politik tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor karena hasil pemilu dapat memengaruhi arah kebijakan pemerintahan AS ke depan.

Pemilu paruh waktu AS pada 3 November 2026 digelar untuk memilih 35 anggota Senat dan seluruh 435 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Selain itu, pemilihan anggota legislatif dan gubernur juga berlangsung di sejumlah negara bagian.

Selain agenda politik, pasar juga menantikan sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed).

Beberapa data yang menjadi perhatian investor antara lain data lowongan kerja atau JOLTS Job Openings yang dijadwalkan rilis pada Selasa (3/11). Selanjutnya, data perubahan tenaga kerja versi ADP atau ADP Employment Change dan indeks aktivitas sektor jasa ISM Services PMI akan diumumkan pada Rabu (4/11).

Pasar juga menunggu laporan ketenagakerjaan AS atau Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan terbit pada Jumat (6/11). Data-data tersebut menjadi salah satu pertimbangan investor dalam memperkirakan kondisi ekonomi AS dan kemungkinan perubahan kebijakan suku bunga The Fed.

Sentimen lainnya berasal dari perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyampaikan keraguan mengenai kemungkinan melanjutkan ancaman serangan militer terhadap Iran. Ia juga menyebut kesepakatan dengan Teheran masih mungkin dicapai.

Di sisi lain, komunikasi antara Iran dan AS untuk mengakhiri perang disebut masih berlangsung. Ibrahim menjelaskan, serangkaian pembicaraan antara Iran dan pihak penengah dari Qatar telah menghasilkan usulan yang diperbarui, meskipun belum menghasilkan terobosan berarti.

“Pernyataan ini muncul setelah serangkaian pembicaraan antara Iran dan pihak penengah dari Qatar berakhir dengan usulan yang telah diubah, namun belum menghasilkan terobosan berarti. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei telah memberikan wewenang tertentu kepada pemerintah untuk melakukan pembicaraan damai,” ungkap Ibrahim dikutip Antara, Selasa (3/11/2026).

BI Siapkan Berbagai Instrumen untuk Menjaga Rupiah

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyebut upaya menjaga stabilitas rupiah merupakan sebuah seni dalam menentukan instrumen kebijakan yang tepat sesuai kondisi pasar.

Menurut Destry, BI harus mempertimbangkan kapan perlu memusatkan perhatian pada satu instrumen dan kapan harus menggunakan instrumen lainnya. Hal tersebut dilakukan karena setiap kondisi pasar membutuhkan pendekatan kebijakan yang berbeda.

Ia menjelaskan, mandat BI tidak hanya menjaga stabilitas nilai tukar, tetapi juga menciptakan iklim ekonomi yang kondusif untuk mendorong pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja. Namun, stabilitas tetap menjadi pegangan utama karena kondisi ekonomi yang kondusif tidak dapat tercipta tanpa adanya kestabilan.

Dalam menjaga nilai tukar, BI menggunakan nilai fundamental rupiah sebagai salah satu acuan. Meski demikian, pergerakan rupiah juga dipengaruhi berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri, termasuk perubahan sentimen pasar.

Ketika pergerakan rupiah menyimpang dari nilai fundamental akibat sentimen yang muncul secara tiba-tiba, BI dapat melakukan intervensi untuk menyeimbangkan nilai tukar agar kembali mencerminkan kondisi fundamentalnya.

Destry mengatakan intervensi merupakan salah satu instrumen yang digunakan BI. Selain itu, bank sentral juga memiliki sejumlah kebijakan lain, seperti pengaturan suku bunga, penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta pengembangan insentif biaya lindung nilai atau hedging yang lebih terarah (targeted).

Berbagai instrumen tersebut dapat dikombinasikan dan penggunaannya disesuaikan dengan kondisi pasar. Dengan demikian, BI tidak hanya mengandalkan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah.

“Jadi, kalau ditanya apakah BI akan terus menggunakan intervensi? Ya kita pasti juga akan tetap ada untuk menjaga stabilitas di pasar, baik itu melalui spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), atau Deliverable Forward (NDF). Dan sejauh ini kami masih melihat hasilnya cukup efektif,” kata Destry.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra