Menuju konten utama

RI Punya Harta Karun Panas Bumi, Perlu Dimanfaatkan Optimal

Ahli menilai kekhawatiran bahwa aktivitas PLTP dapat menyebabkan berkurangnya air tanah masyarakat perlu dilihat berdasarkan kondisi geologi tiap wilayah.

RI Punya Harta Karun Panas Bumi, Perlu Dimanfaatkan Optimal
Petugas memeriksa sumur geothermal Unit V dan VI di area PT Pertamina Geothermal Energy Lahendong, Tompaso, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Senin (26/12). PLTP berkapasitas 2x20 MW dengan total investasi sebesar 282,07 juta dolar Amerika tersebut untuk memperkuat sistem ketenagalistrikan di Sulawesi. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/kye/16
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pakar hidrogeologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Lambok M. Hutasoit, menilai Indonesia perlu meningkatkan pemanfaatan energi panas bumi atau geothermal. Sebab, Indonesia memiliki potensi energi panas bumi atau geothermal yang sangat besar karena berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Peningkatan manfaat pun harus diikuti dengan pentingnya edukasi masyarakat mengenai keamanan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).

"Banyak sekali. Potensi panas bumi Indonesia itu sangat besar. Di Indonesia, salah satu wilayah dengan potensi panas bumi paling besar adalah Jawa Barat. Provinsi-provinsi lain juga memiliki potensi panas bumi. Jadi, memang masih sangat banyak yang bisa dikembangkan,” ujar Lambok saat dihubungi, Jumat (16/10/2026).

Menurut Lambok, kekhawatiran bahwa aktivitas PLTP dapat menyebabkan berkurangnya air tanah masyarakat perlu dilihat berdasarkan kondisi geologi masing-masing wilayah. Sebab, air yang ada di dalam bumi atau reservoir panas bumi yang dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik umumnya berada pada lapisan batuan berbeda dengan akuifer dangkal yang menjadi sumber air rumah tangga.

"Reservoir panas bumi dengan akuifer air tanah itu kebanyakan tidak berhubungan secara langsung. Jadi, tidak bisa begitu saja dikatakan bahwa ketika reservoir panas bumi dimanfaatkan, air tanah di atasnya otomatis akan ikut tersedot," jelasnya.

Ia menerangkan, lapisan batuan di bawah permukaan bumi memiliki karakteristik berbeda. Sebagian dapat meloloskan air, sementara lainnya menghambat pergerakan fluida. Meski demikian, hubungan antara reservoir panas bumi dan akuifer tetap perlu diteliti karena dalam kondisi tertentu kedua sistem tersebut dapat saling terhubung.

Selain persoalan air tanah, Lambok menjelaskan bahwa pengeboran panas bumi hingga kedalaman sekitar 2.000 meter masih berlangsung di lapisan kerak bumi. Kedalaman tersebut sangat jauh dari inti bumi yang berada ribuan kilometer di bawah permukaan.

"Kalau dibandingkan dengan struktur bumi secara keseluruhan, kedalaman 2.000 meter itu tidak ada apa-apanya. Kalau kita berbicara mengenai kedalaman sampai ke inti bumi, itu jaraknya ribuan kilometer," katanya.

Lambok turut mencontohkan PLTP Kamojang di Jawa Barat yang telah beroperasi secara komersial sejak 1983. Kawasan ini juga sempat dikunjungi Staf Khusus Wakil Presiden sekaligus Komisaris Pertamina Patra Niaga, Tina Talisa, untuk melihat langsung proses produksi listrik panas bumi, termasuk pengelolaan air dan sistem pengeborannya.

Melalui akun Instagram pribadinya, Tina menjelaskan bahwa Kamojang merupakan PLTP pertama di Indonesia yang kini memiliki lima unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang 235 megawatt (MW). Ia menilai pengalaman panjang Kamojang menunjukkan pentingnya pengembangan energi yang memperhatikan masyarakat dan lingkungan sekitar.

"Kamojang bukan hanya cerita tentang pembangkit listrik. Selama puluhan tahun, pengembangan panas bumi di sini tumbuh berdampingan dengan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya," tulis Tina melalui akun Instagram @tina_talisa.

Sementara itu, Lambok menjelaskan bahwa keberlanjutan produksi panas bumi turut didukung mekanisme reinjeksi, yakni pengembalian fluida sisa produksi ke reservoir untuk membantu menjaga tekanannya. Ia juga menekankan pentingnya melindungi kawasan resapan air, sebagaimana hasil penelitiannya di Wayang Windu, Jawa Barat, yang mengidentifikasi daerah resapan melalui analisis isotop air.

"Metode itu sangat membantu. Justru itu memang disarankan dan harus dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pengembang panas bumi. Tujuannya untuk menjaga tekanan reservoir. Istilahnya pressure maintenance," ujar Lambok.

Di sisi lain, Lambok mengingatkan bahwa Indonesia masih memiliki potensi panas bumi yang sangat besar untuk dikembangkan. Ia memperkirakan pemanfaatannya baru berada di kisaran 10 persen dari keseluruhan potensi nasional, dengan Jawa Barat menjadi salah satu wilayah yang memiliki sumber daya panas bumi melimpah. Menurutnya, besarnya potensi tersebut perlu diimbangi dengan edukasi publik agar masyarakat memahami manfaat, karakteristik, serta pengelolaan risiko energi panas bumi.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi energi panas bumi yang dimiliki Indonesia mencapai 23,2 gigawatt (GW). Namun, kapasitas yang baru dimanfaatkan untuk pembangkit listrik baru sekitar 2,78 GW.

"Pemerintah dan perusahaan pengembang juga harus menjelaskan kondisi tersebut dengan baik kepada masyarakat. Bagaimana sistem panas buminya, bagaimana susunan lapisan batuannya, dan lapisan mana yang dimanfaatkan. Hal-hal seperti itu harus dijelaskan supaya masyarakat memahami kondisi yang sebenarnya," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait PANAS BUMI

tirto.id - Insider
Sumber: Antara
Editor: Andrian Pratama Taher