Menuju konten utama

Pneumonia dan Asma Mengintai Anak di Tengah Karhutla

Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan mencatat 182.710 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama periode Mei hingga Oktober 2026.

Pneumonia dan Asma Mengintai Anak di Tengah Karhutla
Masa yang tergabung dalam aliansi Masyarakat Kalteng Melawan melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Gubernur Kalimantan Tengah di Palangka Raya, Jumat (23/10/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kasus pneumonia pada anak meningkat di RSUD Ulin Banjarmasin selama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2026. Dokter juga mencatat lebih banyak pasien asma yang mengalami kekambuhan berulang.

Konsultan respirologi anak RSUD Ulin Banjarmasin, Khairiyadi Ismail, mengatakan peningkatan pneumonia mulai terlihat pada akhir Agustus dan mencapai puncaknya pada September. Data rumah sakit menunjukkan 20 anak dirawat inap karena pneumonia pada September 2026, naik dari 15 anak pada bulan yang sama tahun sebelumnya.

“Dari yang kami alami memang pneumonia meningkat sedikit. Mungkin di rumah sakit kami karena rumah sakit tipe A, angka pneumonianya meningkat sekitar 1,2 sampai 1,5, sesuai dengan data ISPA di Dinas Kesehatan,” kata Khairiyadi dalam seminar media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Selasa (3/11/2026).

Menurutnya, perubahan yang lebih menonjol justru terlihat pada pasien asma. Jumlah pasien relatif sama dari tahun ke tahun, tetapi kekambuhannya kini lebih sering.

Beberapa pasien yang sebelumnya memiliki asma terkontrol, bahkan sudah berhenti menggunakan obat pengontrol, kembali mengalami serangan dua hingga tiga kali selama musim kemarau.

“Beberapa pasien dengan asma sudah terkontrol, ada yang sudah tidak memakai controller. Dalam musim kemarau ini bisa sampai dua atau tiga kali,” ujarnya.

Memasuki Oktober, jumlah pasien rawat inap dan rawat jalan di RSUD Ulin menurun. Khairiyadi belum bisa memastikan apakah penurunan itu berkaitan dengan hujan yang mulai turun atau perubahan sistem rujukan pasien.

Di tingkat provinsi, Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan mencatat 182.710 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama periode Mei hingga Oktober 2026.

Dalam delapan minggu, rata-rata kasus mencapai 8.389 per minggu, naik 61,3 persen dibandingkan delapan minggu sebelumnya yang mencatat rata-rata 5.199 kasus per minggu.

Jumlah kasus mingguan mencapai puncaknya pada September, dengan 11.619 kasus. Banjarmasin, Kabupaten Banjar, dan Banjarbaru menjadi tiga daerah dengan catatan kasus tertinggi.

Namun, angka itu tidak dapat dibaca sebagai peningkatan pneumonia anak karena masih mencakup berbagai jenis infeksi saluran pernapasan dan kelompok usia.

Khairiyadi pun meminta pemerintah memisahkan pencatatan pneumonia, ISPA, dan asma agar peningkatan masing-masing penyakit dapat dipantau secara terukur, apalagi selama karhutla.

“Saran ke pemerintah, data itu harus dipisahkan antara pneumonia, ISPA, dan asma. Selama ini kan datanya hanya ISPA,” ujarnya.

Data ISPA yang tersedia saat ini masih mencakup infeksi saluran pernapasan atas maupun bawah sehingga tidak dapat menunjukkan secara spesifik jumlah kasus pneumonia.

Pencatatan terpisah diperlukan untuk mengetahui waktu dan wilayah terjadinya peningkatan kasus, mengukur tingkat keparahan pasien, serta membandingkannya dengan periode sebelumnya.

Jenis-Jenis Penyakit Pernapasan Akibat Karhutla

Paparan asap karhutla, menurut Khairiyadi, membawa sejumlah partikel dan gas pencemar yang dapat mengganggu saluran pernapasan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah PM2,5, partikel halus yang dapat menembus hingga saluran napas bawah. Adapun PM10 umumnya tertahan di saluran napas bagian atas.

Mengutip tinjauan Crocker dan Cogen (2026), Khairiyadi menyebut PM2,5 dari asap kebakaran hutan memiliki risiko kesehatan beberapa kali lebih tinggi dibandingkan PM2,5 dari letusan gunung berapi.

Partikel halus tersebut dapat memicu stres oksidatif, yaitu kondisi ketika zat-zat yang berpotensi merusak sel melebihi kemampuan tubuh untuk menetralisirnya.

Paparan asap juga dapat memicu peradangan dan mengganggu fungsi silia, yakni rambut-rambut halus di saluran pernapasan yang membantu mengeluarkan lendir dan partikel asing. Selain itu, asap dapat mengganggu lapisan pelindung saluran napas serta melemahkan fungsi fagosit, yaitu sel imun yang bertugas menangkap dan menghancurkan mikroorganisme penyebab infeksi.

Khairiyadi menyebut, paparan asap karhutla dapat memunculkan tiga gangguan yang mekanismenya berbeda, yakni pneumonitis akibat iritan, eksaserbasi asma, dan pneumonia infeksius.

“Pertama, pneumonitis karena iritan. Itu mekanismenya dari cedera epitel dan inflamasi sel paru atau sel-sel saluran napas. Kemudian disebabkan oleh zat iritan seperti partikel PM2,5 dan gas yang beracun yang dihasilkan oleh kebakaran hutan. Manifestasinya batuk, takipnea, hipoksemia,” jelasnya.

Pneumonitis iritan merupakan peradangan saluran napas akibat paparan partikel dan gas pencemar tanpa harus disertai infeksi. Sementara itu, paparan asap dapat memperburuk asma dengan memicu hiperreaktivitas bronkus, yakni kondisi ketika saluran napas menjadi lebih sensitif terhadap pencetus.

Situasi kasus ISPA

Situasi kasus ISPA di Kalimantan Selatan. FOTO/Dok. Dinas kesehatan Kalimantan Selatan

“Tentang eksaserbasi asma ini banyak penelitian mengatakan ya sudah mungkin sudah established. Itu mengakibatkan hiperreaktif bronkus,” kata Khairiyadi.

Kondisi tersebut dapat ditandai batuk, sesak, napas memanjang saat mengembuskan udara, dan penurunan kadar oksigen. Adapun pneumonia infeksius merupakan infeksi jaringan paru akibat virus, bakteri, atau patogen lain.

“Sedangkan infeksius itu bisa disebabkan oleh infeksi jaringan paru virus dan bakteri atau patogen lain. Yang karena asap kebakaran hutan ini, sistem imunnya rusak. Ini disertai dengan demam, batuk, takipnea, retraksi dan hipoksemia. Terkadang di gambaran fotonya ada konsolidasi,” ujarnya.

Namun, Khairiyadi mengingatkan, gejala ketiga kondisi tersebut dapat menyerupai satu sama lain sehingga perlu pemeriksaan untuk membedakannya.

Ia juga menegaskan antibiotik tidak diberikan secara rutin untuk pneumonitis iritan maupun serangan asma apabila tidak ditemukan infeksi.

Anak Rentan, Bahkan di Dalam Rumah

Anak lebih rentan terhadap paparan asap karena paru-paru dan sistem imunnya masih berkembang. Balita menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perlindungan karena frekuensi pernapasannya lebih tinggi dan belum mampu menghindari paparan secara mandiri. Sementara remaja juga rentan karena banyak beraktivitas di luar ruangan.

Terkait tumbuh kembang, Khairiyadi mengatakan paparan asap tidak menyebabkan stunting secara langsung. Namun, infeksi saluran pernapasan akibat polutan dapat menurunkan nafsu makan anak sehingga berpengaruh terhadap kondisi gizinya.

“Secara langsung tidak. Dengan terjadi infeksi saluran napas tentu saja nafsu makannya bisa menurun. Tetapi kita harapkan dengan kualitas udara semakin baik, dia dapat kembali seperti semula,” ujarnya.

Pada ibu hamil, paparan polutan juga perlu diwaspadai karena dapat berkaitan dengan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah. Khairiyadi menjelaskan, risiko tersebut bukan semata-mata akibat paparan asap secara langsung, melainkan juga penyakit yang timbul akibat polutan.

“Dan yang paling penting kepada ibu yang asma, ini sudah beberapa penelitian membuktikan itu terjadi hipoksia janin karena hipoksia ibunya, dapat memengaruhi bayinya,” kata Khairiyadi memberi catatan.

Paparan asap juga tidak berhenti di luar rumah. Merujuk kajian Crocker dan Cogen (2026), konsentrasi PM2,5 di dalam ruangan dapat mencapai 30–82 persen dari konsentrasi di luar ruangan, bergantung pada kondisi bangunan, ventilasi, dan penyaringan udara.

Tidak semua keluarga memiliki kemampuan meninggalkan daerah terdampak. Karena itu, Khairiyadi mengusulkan pemerintah menyediakan rumah aman bagi warga dengan penyakit pernapasan atau faktor risiko kesehatan.

“Mungkin perlu dipikirkan rumah aman untuk para penderita yang tidak bisa mengungsi ke luar kota atau ke luar provinsi. Di situ disediakan ruangan berventilasi dan oksigen untuk mereka yang membutuhkan,” katanya.

Ia juga mengingatkan keterbatasan penggunaan masker pada anak kecil. Anak usia dua hingga lima tahun, menurut pengalamannya, umumnya hanya mampu mengenakan masker sekitar satu sampai dua jam sebelum melepasnya.

Dampak asap kebakaran hutan

Dampak asap kebakaran hutan terhadap penyakit respirasi anak tahun 2026. FOTO/istimewa

Selain itu, ia mengingatkan orang tua agar tidak langsung membiarkan anak bermain hujan setelah kemarau panjang yang disertai kabut asap.

“Di beberapa literatur tidak disarankan pada hujan pertama, bahkan ada yang mengatakan sampai hujan ketiga, untuk langsung mandi hujan karena masih banyak gas-gas yang bisa bereaksi dengan air. Setelah beberapa kali hujan, ada yang mengatakan tiga kali hujan deras baru boleh mandi hujan,” imbau Khairiyadi.

Di atas semua itu, Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menilai penanganan medis terhadap anak terdampak karhutla tidak akan cukup selama kebakaran belum dipadamkan. Menurutnya, penggunaan masker dan anjuran berdiam di rumah hanya menjadi solusi sementara.

“Apa pun harus dilakukan at all cost. Pemadaman kebakaran itu harus dilakukan sesegera mungkin karena udara bersih adalah hak asasi setiap warga negara Indonesia, termasuk anak-anak,” kata Piprim tegas.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Khizbulloh Huda

tirto.id - Flash News
Reporter: Khizbulloh Huda
Penulis: Khizbulloh Huda
Editor: Bayu Septianto