tirto.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di wilayah Sumatra Selatan, meski beberapa hari terakhir hujan sudah mulai turun di sana.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Selatan, karhutla masih terjadi di Taman Nasional Sembilang, tepatnya di Tanah Pilih, Banyuasin. Karhutla juga berada di lahan gambut di Cengal, Ogan Komering Ilir, dan di lahan tidur di Ogan Ilir, seperti di Pulau Semambu dan Arisan Jaya.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra, Ferdian Krisnanto, mengungkapkan karhutla di TN Sembilang telah berlangsung sejak Agustus 2026. Pemadaman terus dilakukan dengan melibatkan Manggala Agni, BPBD, TNI, polri, dan petugas Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang (BTNBS).
"(Karhutla di TN Sembilang) sudah lama, yang di Tanah Pilih, sejak Agustus," ungkap Ferdian, Minggu (1/11/2026).
Lambannya penanganan karhutla di lokasi itu karena tim satgas darat mengalami banyak kendala, utamanya medan yang sulit diakses. Namun, tim tetap berjibaku masuk ke areal terbakar agar api tidak cepat meluas.
Helikopter waterbombing juga dikerahkan untuk pemadaman dari udara. Selain pemadaman, tim Manggala Agni juga mencegah penyebaran api dari wilayah Jambi dengan cara membuat kanal dan sekat.
"Untuk luasan lahan yang terbakar di TN Sembilang masih dalam perhitungan," kata dia.
Ferdian menyebut karhutla masih berpotensi terjadi di wilayah Sumsel di akhir musim kemarau. Cuaca terik dan hujan yang belum merata menyebabkan lahan mudah terbakar, apalagi ditambah adanya faktor kesengajaan dari pihak-pihak tak bertanggungjawab.
Potensi karhutla juga seiring semakin bertambahnya titik panas (hotspot) di Sumsel. Berdasarkan rekapitulasi hotspot pada 1 November 2026 pukul 05.30 WIB, tercatat 136 titik yang pada hari sebelumnya sebanyak 84 titik.
Hotspot terbanyak berada di Ogan Komering Ilir berjumlah 54 titik, Musi Banyuasin 28 titik, Banyuasin 14 titik, Muara Enim dan Ogan Komering Ulu Timur masing-masing 11 titik.
"Kami imbau masyarakat tidak membakar lahan dan menghindari aktivitas yang dapat memicu terjadinya karhutla," pungkasnya.
Masuk tirto.id


































