Menuju konten utama

Oposisi Israel Didesak Gaet Partai Arab demi Kalahkan Netanyahu

Pedemo mendesak agar tokoh oposisi utama Israel, Gadi Eisenkot, merangkul partai-partai Arab untuk menyingkirkan Benjamin Netanyahu.

Oposisi Israel Didesak Gaet Partai Arab demi Kalahkan Netanyahu
Pemilu Israel. foto/Reuters/Nir Keidar / Anadolu
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ribuan warga Israel memadati kawasan Tel Aviv melakukan unjuk rasa menuntut para pemimpin kubu oposisi bersedia merangkul partai-partai Arab.

Langkah koalisi lintas kelompok ini dinilai sebagai kunci utama untuk menyingkirkan Perdana Menteri petahana, Benjamin Netanyahu, menyusul hasil pemilu Israel yang berakhir tanpa kemenangan mutlak bagi pihak manapun.

Para peserta aksi menilai momentum politik kali ini merupakan kesempatan penting sekaligus pertaruhan terakhir untuk menciptakan transformasi nyata di pemerintahan Israel.

Mereka mendesak agar tokoh oposisi utama, Gadi Eisenkot, beserta para petinggi partai Yahudi-Israel lainnya mau mendengarkan aspirasi publik yang mendambakan perubahan.

"Masyarakat sangat ingin pemungutan suara untuk perubahan ini berhasil, dan mereka percaya bahwa... Gadi Eisenkot dan para pemimpin partai Yahudi-Israel lainnya perlu mendengarkan suara mereka," ujar jurnalis Al Jazeera, Nour Odeh, melaporkan dari Ramallah, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (1/11/2026).

Berdasarkan hasil resmi pemilu, blok politik pimpinan Netanyahu hanya mampu mengamankan 53 kursi parlemen, sementara kubu Eisenkot memperoleh 48 kursi. Dengan komposisi Knesset, sebutan untuk parlemen Israel, yang beranggotakan total 120 kursi tersebut, kedua belah pihak dipastikan gagal membentuk pemerintahan secara mandiri.

Di sisi lain, blok partai berhaluan Arab yang mencatatkan lonjakan dukungan signifikan berhasil meraup 19 kursi. Potensi aliansi antara kubu Eisenkot dan partai-partai Arab sebenarnya mampu mengamankan suara mayoritas sebanyak 67 kursi di parlemen.

Kendati demikian, wacana berkoalisi dengan kubu Arab masih menjadi hal yang kontroversial dan sulit diterima oleh sebagian kalangan politik Yahudi-Israel. Terlebih lagi, Gadi Eisenkot sebelumnya sempat secara terbuka menutup peluang untuk menggandeng partai-partai Arab dalam kerangka pemerintahan koalisi.

Situasi politik yang memanas ini juga memicu aksi tandingan dari kelompok pendukung setia Netanyahu.

Massa loyalis perdana menteri terlama Israel tersebut turun ke jalan sambil menyuarakan penolakan keras terhadap kemungkinan bergabungnya faksi Arab ke dalam struktur pemerintahan.

“Israel tidak seharusnya membiarkan yang disebut sebagai teroris berada di pemerintahan," demikian seruan yang disuarakan oleh kelompok demonstran pro-Netanyahu di lokasi terpisah.

Di tengah kebuntuan politik tersebut, PM Netanyahu melancarkan kritik tajam dengan menuding partai-partai Arab-Palestina telah berupaya mencurangi hasil pemilu melalui sokongan dana asing dari Qatar, sebuah tuduhan yang langsung dibantah tegas oleh pemerintah Qatar sebagai kampanye disinformasi.

Para pengamat menilai tingginya partisipasi pemilih warga Arab-Israel dalam pemilu kali ini justru disorot miring oleh kelompok sayap kanan domestik. Sejumlah kalangan bahkan menyamakan peningkatan suara elektorat Arab tersebut sebagai bentuk "terorisme elektoral" yang disetarakan dengan peristiwa serangan 7 Oktober, demi mendelegitimasi peran penting mereka sebagai penentu arah pembentukan pemerintahan baru di parlemen.

Baca juga artikel terkait ISRAEL atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Bayu Septianto