Menuntut Ilmu di Rumah Belajar Teko

Kegiatan belajar di Rumah Belajar yang didirikan oleh Mery Rosmayarti.tirto.id/Andrey Gromico
2 Mei 2017
Bangunan semi permanen berdinding triplek dan beratap seng berjejalan di perkampungan Jl. Sunan Giri, Rawamangun, Jakata Timur. Gerobak dan sampah botol plastik berceceran saat memasuki kampung tersebut. Di tengah perkampungan itu terdapat mushola yang dinamai Mushola At-Taubah. Mushola berukuran 5x5 meter, bercat biru kusam dan berdinding kayu. Mushola ini tidak hanya untuk sholat dan mengaji, melainkan juga menjadi tempat belajar anak-anak sekitar perkampungan itu. Rumah belajar Teko yang berdiri di mushola tersebut berdiri sejak 2011.

Mery Rosmaryati asal Medan, berumur 34 tahun inilah pelopor sekaligus penggagas Rumah Belajar Teko. Menurut Mery, Rumah Belajar memiliki filosofi yaitu rumah belajar yang kecil seperti Teko. Meskipun kecil tapi memiliki manfaat yang banyak. Mery tidak memungut biaya apapun buat anak-anak yang belajar di tempat ini

Untuk mendirikan rumah belajar ini, Mery rela menyisihkan sebagian gaji suaminya. Awal mulanya lahan tersebut merupakan tumpukan sampah. "pelan-pelan ini tempat saya bersiin, terus ada duit, aku bangun ini dari nabung dikit-dikit" tutur Mery.

Tidak mudah bagi Mery saat mendirikan Rumah Belajar Teko. Ibu tiga orang anak ini kesulitan mengajak anak-anak untuk belajar karena orang tuanya kurang peduli pendidikan anaknya. "Anak-anak disini sukanya main dan disuruh orang tuanya cari duit" kata Mery. Mery bahkan memberikan hadiah dan uang jajan untuk memancing anak-anak biar mau belajar.

Saat ini jumlah anak didiknya berjumlah 33 anak. Mery dibantu oleh beberapa mahasiswa Universitas Negeri Jakarta untuk menjadi tenaga pengajar. Mery mengaku menemukan kebahagiaan dengan memberikan pendidikan belajar bagi anak-anak yang kurang mampu. Ia juga berharap pendidikan yang layak bisa dinikmati oleh warga miskin di negeri ini.

Foto: Andrey Gromico
a