tirto.id - Bagi generasi yang hidup di awal tahun 2000an atau lebih lama, melihat kunang-kunang merupakan hal biasa, terutama bagi yang hidup di pedesaan. Kunang-kunang merupakan jenis serangga yang kerap muncul di musim hujan, terutama pada malam hari setelah hujan.
Serangga yang masuk dalam keluarga Lampyridae ini terkenal dengan kemampuanya mengeluarkan cahaya alami (bioluminesensi) dari tubuhnya. Kemampuan itu pun membuat kemunculan kunang-kunang selalu menghadirkan keindahan dari cahaya yang mereka pancarkan.
Cahaya kunang-kunang kerap menjadi pemandangan di malam hari. Sebagai hewan nokturnal, kunang-kunang memang lebih aktif di malam hari, sementara saat siang lebih banyak menghabiskan waktu dengan bersembunyi di bawah daun, kulit kayu atau vegetasi yang sejuk.
Tidak hanya indah, kemunculan kunang-kunang juga menjadi indikator suatu lingkungan berada dalam kondisi yang baik untuk ditinggali beragam makhluk hidup. Oleh karenanya, ketika sebuah lingkungan mulai rusak, kehadiran kunang-kunang perlahan mulai sulit ditemukan, bahkan hilang sama sekali.
Berkurangnya Populasi Kunang-Kunang
Sulitnya menemukan kunang-kunang sekarang disebabkan oleh berkurangnya populasi serangga yang dapat mengeluarkan cahaya tersebut. Namun, pengurangan populasi tersebut tidak terjadi begitu saja. Berbeda dengan sejumlah hewan yang punah karena terlambat bereproduksi, berkurangnya Kunang-Kunang disebabkan oleh banyak hal, terutama aktivitas yang dilakukan manusia.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sara Lewis dkk. "A Global Perspective on Firefly Extinction Threats" (2020), setidaknya ada tiga penyebab utama kunang-kunang semakin sulit ditemukan. Pertama, karena habitatnya terganggu, kemudian polusi cahaya dan penggunaan pestisida untuk pertanian.

Berkurangnya Habitat Alami Kunang-Kunang
Menurut dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Upik Kesumawati Hadi, semakin sulitnya kunang-kunang ditemukan dikaitkan dengan menurunnya kualitas suatu lingkungan.“Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang,” jelas Upik Kesumawati.
Dalam Data International Union for Conservation of Nature (IUCN), menunjukkan bahwa sekitar 11 hingga 20 persen spesies kunang-kunang berada dalam kondisi terancam. Upik menuturkan penyebab utamanya karena perubahan lingkungan yang berkaitan dengan perubahan kelembapan tanah dan pencemaran.
Kerusakan habitat ini merupakan penyebab utama menurunnya populasi kunang-kunang. Alih fungsi lahan hijau, rawa, serta pesawahan menjadi kawasan permukiman maupun industri membuat kunang-kunang kehilangan tempat hidup larva.
Pada dasarnya, kunang-kunang dapat berkembang biak dengan baik di tempat yang lembap dan bersih, termasuk di lahan basah seperti di sekitar sungai, rawa, danau, atau hutan tropis. Tak jarang, serangga ini juga bisa berkembang pada tumpukan kayu lapuk, daun-daun kering, atau humus yang jadi rumah bagi larva mereka.
Mengutip artikel The Guardian berjudul "Why lights going out fireflies conservation pollution", kunang-kunang dapat berkembang biak dengan baik sangat bergantung pada tempat tinggalnya. Ketika habitat alaminya hancur, populasi kunang-kunang pun akan berkurang drastis.
Dalam prosesnya, setelah masa kawin, kunang-kunang betina akan meletakkan telurnya di lumpur tepian sungai atau tempat yang lembap. Larva kemudian akan berkembang di lokasi tersebut selama berbulan-bulan, sebelum menjadi kunang-kunang.
Namun, saat habitat kunang-kunang bereproduksi mengalami penurunan yang signifikan. Musababnya alih fungsi lahan atau hal lain yang membuat larva dari kunang-kunang kehilangan tempat untuk berkembang.

Polusi Cahaya
Selain rusaknya habitat alami, populasi kunang-kunang juga akan terancam karena polusi cahaya akibat lampu LED yang terlalu terang. Pasalnya, cahaya pada lampu menghambat proses reproduksi kunang-kunang.Beberapa penelitian menemukan bahwa kunang-kunang jantan akan kesulitan mendeteksi sinyal cahaya dari betina. Alhasil, saat paparan polusi cahaya lebih mendominasi, proses reproduksi kunang-kunang pun bisa gagal.
Polusi cahaya yang dimaksud dapat memiliki banyak bentuk, utamanya lampu jalan yang terang. Dalam sebuah studi yang diterbitkan di Ecology and Evolution berjudul "The impact of artificial light at night on nocturnal insects: A review and synthesis", menunjukkan bahwa cahaya dapat membuat kunang-kunang kehilangan jejak waktu atau posisi mereka.
Kondisi ini berkaitan dengan proses perkawinan kunang-kunang. Pasalnya, cahaya merupakan alat bantu alami kunang-kunang untuk menemukan pasangan dan melakukan reproduksi. Paparan cahaya berlebih dari lampu, bahkan dapat membuat kunang-kunang mengalami kebutaan.
Penelitian lainnya menemukan bahwa kunang-kunang sangat sensitif terhadap jenis cahaya buatan tertentu. Kunang-Kunang jantan cenderung disetel untuk cahaya hijau betina. Ketika ada paparan cahaya lain yang lebih jelas, hal itu membuat kunang-kunang jantan jadi kesulitan untuk menemukan betina mereka.
Penggunaan Pestisida
Penggunaan pestisida maupun insektisida kimia di dunia pertanian turut andil membuat kunang-kunang sulit untuk berkembang biak. Ini berkaitan dengan kehidupan kunang-kunang yang dihabiskan sebagai larva.Ketika larva kunang-kunang terpapar pestisida, mereka akan langsung mati. Sekalipun larvanya bisa bertahan, mereka tetap tidak akan tumbuh berkembang karena makanan utamanya seperti siput kecil, cacing, atau serangga kecil kemungkinan terpapar pestisida. Hal ini menyebabkan larva kunang-kunang mati karena tidak memiliki pasokan makanan.
Padahal, larva kunang-kunang termasuk predator yang rakus karena mereka memangsa hewan-hewan berhama seperti siput meranggas, siput telanjang, atau cacing yang kerap merusak tanaman pertanian atau perkebunan.

Krisis Iklim Membuat Larva Mati Sebelum Dewasa
Selain tiga faktor utama yang membuat kunang-kunang kesulitan berkembang biak, krisis iklim juga turut membunuh kunang-kunang. Sebagai mahluk yang hidup dalam lingkungan lembab, kemarau panjang membuat kunang-kunang sulit beradaptasi dengan lingkungannya. Kondisi panas membuat larva kunang-kunang mudah mati sebelum mereka berkembang menjadi dewasa.
Krisis iklim kerap menurunkan kelembapan lingkungan yang jadi faktor utama larva kunang-kunang bisa berkembang biak. Perubahan suhu yang ekstrem ini kerap mengacaukan ritme biologis dan siklus metabolisme larva yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di bawah tanah atau di atas tanah yang basah.
Pada saat tanah mengering atau kondisi lingkungan kurang lembap, larva kunang-kunang juga akan kehilangan sumber makanannya karena perubahan iklim yang terjadi turut merusak populasi mangsa mereka.
Perubahan iklim bisa semakin parah ketika disertai aktivitas manusia yang menyebabkan degradasi lahan, hilangnya vegetasi, atau kekeringan pada saluran air yang menjadi tempat nyaman larva kunang-kunang berkembang.
Terlebih, krisis iklim juga kerap membuat siklus curah hujan yang sewaktu-waktu bisa menyebabkan masalah seperti banjir yang merusak dan menghancurkan habitat alami kunang-kunang.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Permadi Suntama
Masuk tirto.id






























