Menuju konten utama

Menemukan Ruang Jeda di Bali dan Menyelami Spritualitasnya

Ada sisi lain dari Bali untuk mendapatkan pengalaman yang lebih personal melalui budaya, spiritualitas, wellness, dan hubungan dengan masyarakat setempat.

Menemukan Ruang Jeda di Bali dan Menyelami Spritualitasnya
Melukat di Bali. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Air mengalir deras dari pancuran batu di Pura Tirta Empul, membasahi kepala dan sarung para pengunjung yang berdiri bergantian di dalam kolam. Di sekitarnya, umat Hindu berdoa, aroma dupa sesekali terbawa angin, dan suara percikan air menjadi latar dari ritual yang telah berlangsung jauh sebelum Bali menjadi salah satu destinasi paling dikenal di dunia.

Ada sisi lain dari Bali yang justru mengajak orang berjalan lebih pelan, memberi ruang untuk diri sendiri, dan mengenal kehidupan di balik keindahan pantai yang selama ini familiar dan menjadi daya tarik. Di sinilah perjalanan di Bali bisa bergerak dari sekadar melihat destinasi menjadi pengalaman yang lebih personal, melalui budaya, spiritualitas, wellness, dan hubungan dengan masyarakat setempat.

Budaya populer pun ikut membuka rasa ingin mengenal lebih dalam. Ketika Eat Pray Love dirilis pada 2010, bagian akhir perjalanan Elizabeth Gilbert membawa Bali ke layar dunia bukan hanya sebagai tempat liburan tropis, tetapi sebagai tempat untuk mencari keseimbangan, membangun hubungan baru, dan menemukan kembali arah hidup. Film tentu tidak menciptakan sisi spiritual Bali. Namun Eat Pray Love menjadi salah satu pintu yang membuat wisatawan global semakin penasaran dengan pengalaman Bali yang lebih personal.

Satu dekade lebih berjalan, rasa penasaran itu menjadi pesona wisatawan yang datang untuk yoga atau meditasi, mengikuti retreat, menikmati perawatan tradisional, mengenal kuliner lokal, pengalaman berbasis alam, hingga memahami tradisi yang masih hidup dalam keseharian masyarakat Bali, salah satunya adalah melukat.

Tradisi Penyucian dan Refleksi Diri

Melukat merupakan ritual penyucian dalam kehidupan keagamaan Hindu Bali. Secara sederhana, melukat berkaitan dengan proses penyucian diri untuk memperoleh kebaikan. Dalam kehidupan masyarakat Bali, air tidak hanya dipandang sebagai bagian dari alam, tetapi juga memiliki tempat penting dalam berbagai praktik keagamaan dan upacara.

Melukat dapat dilakukan di berbagai tempat, mulai dari pura, mata air, campuhan atau pertemuan aliran air, hingga kawasan laut yang dianggap suci. Pura Tirta Empul di Tampaksiring, Gianyar, menjadi salah satu tempat yang paling dikenal. Setiap tempat dapat memiliki aturan, urutan prosesi, dan ketentuan yang berbeda sesuai tradisi setempat, tujuan upacara, serta arahan pemangku atau sulinggih.

Menghormati Makna di Balik Melukat

Melukat memang membawa kepada ritme hidup yang berbeda. Wisatawan datang dengan rasa ingin tahu dan penghormatan, pengalaman ini juga dapat menjadi pintu untuk memahami sisi Bali yang lebih reflektif.

Seseorang perlu berhenti, mengikuti tata cara, memperhatikan lingkungan sekitar, dan menyadari bahwa ia sedang berada di ruang yang memiliki makna spiritual. Hal-hal yang kini sering dicari wisatawan melalui konsep mindfulness, slowing down, atau reconnecting sebenarnya sudah lama hadir dalam cara masyarakat Bali memaknai hubungan antara spiritualitas, ritual, dan alam.

Bagi wisatawan, pengalaman melukat sebaiknya dimulai dengan memahami tempat dan tradisinya terlebih dahulu. Pengunjung perlu mengenakan pakaian yang sopan serta kain dan selendang sesuai ketentuan pura, menjaga ketenangan, tidak mengganggu umat yang sedang beribadah, serta mengikuti arahan pemangku atau petugas setempat. Pengambilan gambar pun harus mengikuti aturan lokasi dan tidak dilakukan pada bagian ritual yang memang tidak diperbolehkan.

Prosesi juga tidak sebaiknya diperlakukan sebagai latar foto. Wisatawan perlu menghindari berbicara keras, mengganggu orang yang sedang bersembahyang, menggunakan pancuran tanpa mengetahui fungsinya, atau mengabaikan arahan pemangku dan pengelola. Memahami aturan bukan sekadar soal etika berkunjung, tetapi bagian dari memahami budaya yang sedang ditemui.

Eat, Pray, Love dalam Satu Perjalanan di Bali Kini

Ada cara menarik untuk melihat kembali Eat Pray Love dari perjalanan Bali hari ini. Dalam film, Elizabeth Gilbert menemukan “Eat” di Italia, “Pray” di India, dan “Love” di Bali. Wisatawan yang datang ke Bali sekarang bisa menemukan ketiganya dalam satu perjalanan yang berbeda dan tentunya berakar pada kehidupan Bali sendiri.

Eat bisa ditemukan lewat cara paling sederhana, mengenal Bali dari makanannya. Dari warung lokal dan pasar tradisional, bahan-bahan setempat, hingga healthy cuisine dan pengalaman farm-to-table, seperti di Begawan Biji, Pemulan Bali Farm Cooking School, di Desa Taro, hingga Locavore NXT, Ubud. Gastronomi ini menjadi pintu untuk melihat hubungan antara rasa, alam, dan kehidupan masyarakat.

Pray hadir lebih dekat dalam keseharian masyarakat Bali. Pura, persembahan, upacara, dan tradisi seperti melukat menunjukkan bahwa spiritualitas di Bali bukan sesuatu yang ditampilkan untuk wisatawan, tetapi bagian dari kehidupan yang terus dijalankan dan dijaga. Wisatawan dapat mengunjungi Pura Luhur Uluwatu, pura-pura di kawasan Ubud, hingga lanskap budaya Subak di Jatiluwih untuk dapat merasakan langsung sisi spiritualitas dari Pulau Dewata ini.

Sementara Love tidak selalu berbicara soal romansa. Ia bisa hadir lewat kehangatan masyarakat, percakapan dengan komunitas lokal, kedekatan dengan alam, atau pengalaman sederhana yang membuat wisatawan merasa terhubung dengan Bali dan ingin kembali. Bali tidak hanya menawarkan tempat untuk dikunjungi, tetapi juga ruang untuk berhenti, memahami, dan merasakan perjalanan dengan cara yang lebih personal.

---------

Artikel ini merupakan opini pribadi penulis. Isi artikel tidak mewakili pandangan, sikap, atau kebijakan resmi redaksi.

Baca juga artikel terkait OPINI atau tulisan lainnya

tirto.id - Kolumnis
Kontributor: Tiffany Diahnsia