tirto.id - Wakil Ketua Komisi X DPR RI, My Esti Wijayanti, mengatakan bahwa mayoritas anggota Komisi X menyetujui wacana pemberlakuan kembali sistem tidak naik kelas bagi siswa yang sebelumnya diwacanakan Kemendikdasmen.
“Hampir semua sepemahaman bahwa sistem ini akan diberlakukan,” kata Esti kepada wartawan di Sekolah Partai PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2026).
Meski menyebut mayoritas anggota Komisi X mendukung, Esti, yang juga kader PDIP, mengatakan dukungan tersebut masih tetap akan melewati pembahasan lebih lanjut. Sebab, banyak hal yang harus didiskusikan.
Menurutnya, sistem yang mengharuskan seluruh siswa naik kelas tanpa mempertimbangkan capaian belajar membuat siswa kurang termotivasi. Dia kemudian mencontohkan masih adanya siswa yang lulus sekolah dasar (SD), tetapi belum lancar membaca.
“Menjadi persoalan yang kita lihat, di beberapa tempat, bahkan anak-anak lulus SD pun belum lancar membaca. Anak kelas 4 SD juga masih, apalagi kelas 4 SD, masih juga agak susah membaca,” tutur Esti.
Padahal, kata Esti, saat masih dilakukan kebijakan siswa bisa tak naik kelas, orang tua melaksanakan tanggung jawab dalam mendampingi anak agar belajar.
Meskipun demikian, Esti mengingatkan agar penerapan sistem disertai pendampingan agar siswa tidak mengalami tekanan psikologis atau kehilangan motivasi karena tertinggal dari teman-temannya.
“Harus ada yang kemudian memberikan motivasi, 'Oh, kenapa tidak naik kelas?' Sehingga anak tidak kemudian menjadi putus asa, menjadi malu dengan teman-temannya,” kata Esti.
Lebih jauh, dia juga menyebut harus ada metode berkaitan dengan capaian kenaikan kelas. Katanya, sekolah harusnya bisa mendeteksi kesulitan belajar siswa sejak awal semester, kemudian memberikan pengayaan sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
Orang tua, disebutnya, juga perlu diberi informasi agar dapat mendampingi proses belajar di rumah.
“Artinya, sejak semester, sejak triwulan pertama sudah terdeteksi anak ini punya kelemahan di mana,” katanya.
“Sehingga betul-betul nampak sejak awal. Jadi, ada sistem pengayaan oh anak ini lemah di matematika, oh ya berarti materatikanya dikuatkan, kan tidak semua anak punya talenta yang sama. Anak ini lemah di persoalan bahasa, ya pengayaannya bahasa,” kata dia lagi.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id
































