Ketika Para Pendatang Pulang

undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
Saat Lebaran memang ibukota yang konon lebih kejam dari ibu tiri itu menjadi lebih ramah, karena jalanan yang biasanya macet kini terasa lancar, bahkan lengang di jam-jam tertentu.
11 September 2016
Sebuah “joke” kerap dilontarkan pada saat-saat menjelang Lebaran,” ..untuk menyelesaikan masalah transportasi di Jakarta, kota ini tidak butuh gubernur yang mumpuni, cuma butuh Lebaran”.

Saat Lebaran memang ibukota yang konon lebih kejam dari ibu tiri itu menjadi lebih ramah, karena jalanan yang biasanya macet kini terasa lancar, bahkan lengang di jam-jam tertentu.

Kemudian dimanakah para kaum urban ibukota yang berjumlah puluhan juta itu berada? Menurut data dari PT Jasa Marga, pada 29 Juni 2016 atau H-7 Lebaran hingga 12 Juli 2016 atau H+5 Lebaran, sebanyak 677.443 kendaraan melintasi pintu tol Cikarang Utama, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Sementara menurut catatan kepolisian, sejak H-6 hingga Hari H pertama Lebaran sebanyak 2.549.348 kendaraan baik roda empat dan roda dua melintasi tiga jalur mudik utama, yaitu jalur Pantura, jalur Tengah, dan jalur Pantai Selatan.

Pemudik dalam kendaraan tersebut lalu menghiasi menu utama pemberitaan di berbagai media. Kemacetan terjadi di berbagai daerah akibat akitivitas bernama mudik Lebaran.

Sesungguhnya pemerintah telah menyiapkan sebuah jalan tol baru untuk mengantisipasi kemacetan saat arus mudik. Sejumlah ruas jalan tol baru dari Pejagan hingga Brebes Timur yang diresmikan pada 16 Juli 2016.

Namun jalan tol itu pun tak sanggup menampung jutaan kaum urban ibukota yang turun ke jalan dalam waktu bersamaan. Hampir semua jalur utama maupun alternatif untuk mudik darat lumpuh total berjam-jam.

Saat macet total, timbul masalah seperti kehabisan bensin di tengah jalan, juga kelaparan. Hal ini dimanfaatkan warga sekitar untuk berjualan bensin dan makanan. Pada saat kemacetan terurai, yang tersisa adalah sampah yang tercecer puluhan kilo di jalan bebas hambatan itu.

Sementara itu di kondisi berbeda 180 derajat nampak di wajah Jakarta. Suasana jalan tampak sepi, tanpa dominasi bunyi knalpot dan klakson. Poin-poin transportasi publik seperti stasiun kereta dan halte bis yang biasanya dijejali kelas pekerja juga tampak lengang, pertokoan pun tidak beroperasi karena baik pembeli maupun penjual sedang mudik.

Ibukota sejenak bernafas lega.

Foto dan Teks: Rosa Panggabean

Editor: Taufik Subarkah
DarkLight