Menuju konten utama

Kemenangan Demokrat dan Potret Bersejarah Pemilu Sela AS

Demokrat mencetak kemenangan besar dalam Pemilu Sela AS 2026. Sejumlah kandidat perempuan dan kelompok minoritas juga mengukir sejarah politik.

Kemenangan Demokrat dan Potret Bersejarah Pemilu Sela AS
Pemilu 2026 di AS. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemilu Sela Amerika Serikat (AS) 2026 menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan politik negara tersebut. Selain menghadirkan kemenangan besar bagi Partai Demokrat atas Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump, pemilu pada 3 November 2026 juga menghasilkan perubahan penting dalam peta kepemimpinan nasional dan negara bagian.

Demokrat berhasil merebut kendali Kongres, membalikkan sejumlah wilayah yang selama puluhan tahun menjadi basis Partai Republik, serta memperluas pengaruh di tingkat pemerintahan negara bagian.

Kemenangan Demokrat bukan satu-satunya catatan penting dalam pemilu kali ini. Sejumlah kandidat perempuan, warga kulit hitam, masyarakat adat, Muslim, dan kelompok LGBTQ+ mencetak sejarah dengan menduduki jabatan politik tertinggi yang sebelumnya belum pernah diraih kelompok mereka.

Hasil ini tidak hanya menjadi simbol perubahan representasi dalam politik AS, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai penolakan pemilih terhadap kepemimpinan Trump, pergeseran dukungan antarkelompok pemilih, serta arah politik AS menjelang pemilihan presiden 2028.

Kemenangan Demokrat: Pukulan Telak bagi Donald Trump

Hasil Pemilu Sela AS 2026 menjadi kemunduran besar bagi Partai Republik karena Demokrat berhasil merebut kendali dua bagian Kongres, yakni pada House of Representatives (DPR) dan Senat. Kemenangan tersebut cukup mengejutkan karena Partai Republik sebelumnya menguasai kedua bagian parlemen tersebut selama pemerintahan Trump.

Demokrat juga berhasil membalikkan sejumlah kursi yang selama puluhan tahun dikuasai Partai Republik, termasuk di Texas, Kansas, Iowa, dan South Carolina.

Kemenangan Demokrat tidak berhenti di tingkat federal. Partai tersebut juga berhasil memperluas kekuasaan di pemerintahan negara bagian dengan merebut sejumlah kursi gubernur dan memperkuat kendali legislatif lokal.

Texas menjadi salah satu kejutan terbesar setelah Demokrat berhasil merebut jabatan gubernur sekaligus memperkuat pengaruh di parlemen negara bagian. Demokrat juga mencatat kemenangan di Georgia dan Ohio, serta sejumlah wilayah lain yang sebelumnya menjadi basis kuat Partai Republik.

Secara keseluruhan, Demokrat diperkirakan memegang mayoritas jabatan gubernur untuk pertama kalinya dalam 16 tahun pada 2027 dan membalikkan peta kekuasaan di sejumlah pemerintahan negara bagian.

Kemenangan ini memiliki konsekuensi langsung terhadap sisa masa jabatan Trump. Dengan Demokrat menguasai DPR dan Senat, agenda legislasi pemerintahan Trump akan menghadapi hambatan lebih besar.

DPR dapat menolak atau menghambat rancangan undang-undang pemerintah, menggelar penyelidikan terhadap kebijakan dan pejabat administrasi Trump, serta menggunakan kewenangan anggaran sebagai alat pengawasan.

Penguasaan Senat juga memberikan Demokrat kekuatan untuk menghambat pengesahan berbagai kebijakan dan menolak sejumlah calon pejabat yang diajukan presiden, termasuk nominasi hakim federal.

Namun, kemenangan dua bagian Kongres tidak berarti Demokrat mengambil alih pemerintahan sepenuhnya. Trump tetap menjabat sebagai presiden dan memiliki kewenangan veto terhadap undang-undang yang disahkan Kongres. Untuk membatalkan veto presiden, diperlukan dukungan dua pertiga anggota di masing-masing bagian.

Kemenangan Demokrat juga disebut sebagai salah satu gelombang politik terbesar yang dialami partai presiden dalam pemilu sela sejak Perang Dunia II.

Ashley Koning, asisten profesor riset sekaligus direktur Eagleton Center for Public Interest Polling di Rutgers University membandingkan besarnya gelombang kemenangan Demokrat kali ini dengan Pemilu Sela 1974 setelah skandal Watergate.

Menurut Koning, Demokrat mampu tampil lebih baik daripada perkiraan jajak pendapat menjelang pemungutan suara. Hal ini didorong oleh antusiasme pemilih Demokrat yang lebih tinggi, sedangkan partisipasi pemilih Republik justru melemah.

“Sebut saja ini sebagai gelombang biru (blue wave), kemenangan telak, atau tsunami—apa pun sebutannya, ini merupakan banjir besar bagi Partai Republik; bahkan benteng pertahanan terkuat mereka pun ikut tersapu, mulai dari Texas dan Kansas hingga Carolina Selatan,” ujar Koning di laman resmi Rutgers University, Rabu (4/11/2026).

Rekor Sejarah: Perempuan dan Kelompok Minoritas Pecahkan Batas Politik AS

Di balik kemenangan besar Demokrat, Pemilu Sela 2026 juga mencatatkan sejumlah pencapaian bersejarah dalam representasi politik Amerika Serikat. Sejumlah kandidat perempuan dan kelompok minoritas berhasil menduduki jabatan yang sebelumnya belum pernah diraih oleh kelompok mereka.

Salah satu kemenangan paling menonjol diraih Keisha Lance Bottoms dari Partai Demokrat. Mantan Wali Kota Atlanta tersebut memenangkan pemilihan gubernur Georgia dan menjadi perempuan kulit hitam pertama yang terpilih sebagai gubernur di Amerika Serikat.

Kemenangan Bottoms sekaligus menjadikannya orang kulit hitam pertama yang memimpin negara bagian Georgia. Sebelum kemenangan tersebut, seluruh 83 gubernur Georgia sejak negara bagian itu berdiri merupakan laki-laki kulit putih.

Berikut daftar rekor sejarah yang diukir dalam Pemilu Sela AS 2026:

1. Deb Haaland: Gubernur Perempuan Pertama dari Penduduk Asli AS

Sejarah dicatat Deb Haaland dari Partai Demokrat yang memenangkan pemilihan gubernur New Mexico. Ia menjadi perempuan penduduk asli Amerika (Native American) pertama yang terpilih sebagai gubernur di Amerika Serikat.

Haaland merupakan anggota masyarakat adat Laguna Pueblo. Sebelum memenangkan pemilihan gubernur, ia lebih dahulu mencatat sejarah pada 2018 sebagai salah satu dari dua perempuan penduduk asli Amerika pertama yang terpilih menjadi anggota Kongres AS.

Ia kemudian menjadi perempuan penduduk asli Amerika pertama yang menjabat sebagai menteri kabinet setelah dipercaya Presiden Joe Biden memimpin Departemen Dalam Negeri.

“Terima kasih, New Mexico! Merupakan kehormatan seumur hidup bagi saya untuk terpilih sebagai Gubernur Anda yang ke-33. Malam ini, Anda telah menorehkan sejarah. Anda memilih masa depan di mana New Mexico diutamakan, di mana keluarga pekerja memiliki kesempatan untuk maju, dan di mana setiap warga New Mexico memiliki suara,” tulisnya di X @DebHaalandNM.

2. Peggy Flanagan: Anggota Senat Perempuan Pertama dari Penduduk Asli AS

Pencapaian bersejarah berikutnya datang dari Peggy Flanagan, Wakil Gubernur Minnesota. Ia berhasil mengalahkan kandidat Partai Republik Michele Tafoya dan menjadi perempuan penduduk asli Amerika pertama yang terpilih sebagai anggota Senat AS. Flanagan merupakan anggota White Earth Band of Ojibwe.

“Masyarakat Minnesota mengantarkan kami menuju kemenangan dan memperjelas misi kami. Anda telah berjuang untuk saya. Kini, giliran saya untuk berjuang bagi Anda.” janjinya di X @peggyflanagan.

3. Abdul El-Sayed: Senator Muslim Pertama

Abdul El-Sayed juga mencatat sejarah setelah memenangkan pemilihan Senat di Michigan. Ia menjadi warga Muslim pertama yang terpilih sebagai anggota Senat Amerika Serikat.

Kemenangan El-Sayed menjadi perhatian nasional karena sepanjang kampanye ia menghadapi berbagai serangan politik terkait agama dan identitasnya.

Presiden Donald Trump bahkan pernah menyebutnya sebagai kandidat yang terlalu radikal dan mempertanyakan identitas kebangsaannya. El-Sayed dan para pendukungnya mengecam serangan tersebut sebagai bentuk Islamofobia dan diskriminasi.

“Banyaknya orang mengalahkan kekuatan uang. Rakyat mengalahkan korporasi dan kelompok kepentingan khusus. Harapan mengalahkan kebencian dan ketakutan. Michigan, kita menang,” ujarnya di X.

4. Chris Pappas: Senator Gay Pertama

Dari New Hampshire, anggota DPR AS Chris Pappas dari Partai Demokrat memenangkan pemilihan Senat setelah mengalahkan mantan senator John E. Sununu dari Partai Republik. Kemenangan tersebut menjadikannya laki-laki gay pertama yang terpilih sebagai anggota Senat AS.

5. Keisha Lance Bottoms: Gubernur Perempuan Kulit Hitam Pertama di AS

Keisha Lance Bottoms, mantan wali kota Atlanta, meraih kemenangan atas kandidat Partai Republik, Rick Jackson, dalam pemilihan gubernur Georgia. Ia pun menjadi gubernur perempuan kulit hitam pertama di negara tersebut.

6. Xavier Becerra: Gubernur Latin Pertama di California

Xavier Becerra mencatatkan sejarah sebagai gubernur Latin pertama yang terpilih di negara bagian tersebut.

“Tidak ada kehebatan Amerika tanpa California, dan tidak ada California tanpa komunitas kita yang beragam. Keberagaman bukanlah kekurangan kita. Keberagaman adalah kekuatan luar biasa kita. Terima kasih, California,” ucapnya di X.

7. Gina Hinojosa: Gubernur Perempuan Latin Pertama di Texas

Politisi Partai Demokrat, Gina Hinojosa, mencatatkan kemenangan mengejutkan dengan melengserkan gubernur petahana yang telah menjabat selama tiga periode, Greg Abbott. Ia akan menjadi gubernur perempuan Latin pertama di negara bagian tersebut.

“Era baru pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat dimulai hari ini,” tekad Gina.

8. Byron Donalds: Gubernur Kulit Hitam Pertama di Florida

Byron Donalds dari Partai Republik akan menjadi gubernur kulit hitam pertama di Florida, menggantikan Ron DeSantis yang telah mencapai batas masa jabatannya.

9. David Crowley: Gubernur Kulit Hitam Pertama di Wisconsin

David Crowley memenangkan pemilihan gubernur di Wisconsin, menjadikannya orang kulit hitam pertama yang menduduki jabatan tersebut.

10. Aaron Ford: Gubernur Kulit Hitam Pertama di Nevada

Aaron adalah kandidat dari Partai Demokrat yang berhasil mengalahkan gubernur dari Partai Republik, Joe Lombardo, dan akan menjabat sebagai gubernur kulit hitam pertama di Nevada.

11. Amy Acton: Gubernur Perempuan Pertama di Ohio

Amy Acton adalah politisi Demokrat yang berhasil mengalahkan kandidat dari Partai Republik, Vivek Ramaswamy, untuk menjadi gubernur perempuan pertama di Ohio.

12. Amy Klobuchar: Gubernur Perempuan Pertama di Minnesota

Amy Klobuchar dari Partai Demokrat, mengungguli kandidat dari Partai Republik, Lisa Demuth, dan menjadi perempuan pertama yang terpilih sebagai gubernur di Minnesota.

13. Marsha Blackburn: Gubernur Perempuan Pertama di Tennessee

Berbeda dari Amy Acton dan Amy Klobuchar yang berasal dari Demokrat, Marsha adalah seorang anggota Partai Republik dan menjadi perempuan pertama yang terpilih sebagai gubernur Tennessee.

Makna Politik: Penolakan terhadap Trump dan Pergeseran Pemilih

Kemenangan besar Demokrat memunculkan pertanyaan mengenai faktor yang membuat pemilih Amerika Serikat beralih dari Partai Republik. Ashley Koning menilai hasil Pemilu Sela 2026 merupakan bentuk penilaian langsung terhadap kepemimpinan Trump dan partainya.

“Berdasarkan hampir semua tolok ukur, para pemilih menggunakan pemilihan ini untuk memberikan penilaian terhadap Presiden Trump dan partainya—penilaian yang sama dengan apa yang telah ditunjukkan oleh tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap sang presiden yang berada di titik terendah selama berbulan-bulan,” paparnya.

Menurut Koning, faktor ekonomi menjadi salah satu alasan utama yang menentukan pilihan pemilih. Persoalan biaya hidup menjadi perhatian besar masyarakat karena kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, bahan bakar, perumahan, dan biaya layanan kesehatan semakin membebani rumah tangga.

Selain persoalan ekonomi, Al Jazeera menyebut hasil pemilu sela ini juga dipengaruhi sejumlah isu sosial dan politik. Hak reproduksi, termasuk akses terhadap layanan aborsi, menjadi salah satu perdebatan yang diperhatikan pemilih. Kebijakan imigrasi dan kondisi demokrasi Amerika Serikat juga ikut dipertaruhkan, terutama terkait arah kebijakan pemerintah dan perlindungan hak-hak warga.

Di bidang luar negeri, perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran turut menjadi isu yang diperhatikan masyarakat. Selain itu, perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan pembangunan pusat data (data centres) juga menjadi pertimbangan masyarakat.

Berdasarkan hasil jajak pendapat setelah pemungutan suara atau exit poll, hampir sembilan dari 10 pemilih menyatakan biaya hidup menjadi faktor penting atau sangat penting dalam menentukan pilihan mereka untuk Kongres.

Hampir enam dari 10 pemilih juga mengaku sangat mengkhawatirkan harga bahan bakar, sedangkan sekitar tiga perempat memberikan penilaian negatif terhadap kondisi ekonomi nasional.

Selain ekonomi, isu korupsi pemerintahan dan kondisi demokrasi Amerika Serikat juga menjadi perhatian. Sekitar sembilan dari 10 pemilih menyebut korupsi pemerintah sebagai faktor penting dalam menentukan pilihan mereka. Bahkan, sepertiga pemilih menempatkan masa depan demokrasi sebagai persoalan paling penting kedua setelah ekonomi.

Menariknya, dalam pemilu kali ini Demokrat berhasil mendapatkan kepercayaan lebih besar dibandingkan Republik dalam menangani persoalan ekonomi. Keunggulan tersebut menjadi perubahan penting karena selama lebih dari satu dekade sebelumnya Partai Republik lebih sering dipercaya pemilih dalam urusan ekonomi.

Kemenangan Demokrat juga tidak terlepas dari perubahan dukungan sejumlah kelompok pemilih yang sebelumnya menjadi basis atau pendukung kuat Trump dalam Pemilu Presiden 2024.

Koning menjelaskan hampir seluruh kelompok demografi utama menunjukkan pergeseran dukungan ke arah Demokrat. Pada kelompok laki-laki, Demokrat berhasil menyamai perolehan suara Partai Republik dengan masing-masing 49 persen. Hasil ini cukup signifikan karena Trump sebelumnya memenangkan kelompok pemilih laki-laki dengan selisih lebih dari 10 poin pada 2024. Pemilih perempuan memberikan keunggulan 18 poin bagi Demokrat.

Perempuan kulit putih yang sebelumnya mendukung Trump pada pemilihan presiden 2024 juga beralih memberikan dukungan kepada kandidat Demokrat.

Perubahan serupa terjadi pada pemilih Latino atau keturunan Amerika Latin. Demokrat berhasil memenangkan kelompok tersebut dengan perolehan 62 persen, berbanding 35 persen untuk Republik.

Bahkan, pemilih laki-laki Latino yang sebelumnya mendukung Trump pada 2024 kini lebih banyak memilih Demokrat dengan perbandingan 56 persen berbanding 41 persen.

Pemilih muda juga menjadi salah satu kelompok penting dalam kemenangan Demokrat. Lebih dari tujuh dari 10 pemilih muda memberikan dukungan kepada kandidat Demokrat. Partai tersebut juga memperoleh sekitar 70 persen suara pemilih Asia dan hampir 60 persen suara pemilih dari kawasan suburban atau pinggiran kota.

Selain itu, pemilih independen yang mencakup sekitar sepertiga dari keseluruhan pemilih memberikan keunggulan 17 poin bagi Demokrat. Angka tersebut meningkat 14 poin dibandingkan keunggulan Demokrat pada Pemilu 2024.

Pergeseran dukungan ini menunjukkan bahwa kemenangan Demokrat tidak hanya ditopang oleh kelompok pemilih perempuan dan warga kulit hitam. Partai tersebut juga berhasil merebut kembali sebagian dukungan dari pemilih Latino, anak muda, laki-laki, dan kelompok independen yang sebelumnya memberikan suara kepada Trump.

Pemilu Sela 2026 Mengubah Peta Politik AS

Pemilu Sela 2026 menjadi bersejarah karena menghadirkan dua perubahan besar sekaligus, yakni pergeseran kekuasaan politik dari Republik ke Demokrat dan meningkatnya keterwakilan kelompok perempuan serta minoritas di pemerintahan Amerika Serikat.

Bagi Donald Trump, kekalahan Republik di DPR dan Senat menjadi hambatan besar dalam menjalankan agenda pemerintahannya pada dua tahun terakhir masa jabatan. Demokrat kini memiliki kekuatan lebih besar untuk mengawasi kebijakan presiden, menghambat legislasi atau pembuatan undang-undang, serta melakukan penyelidikan terhadap pemerintahannya.

Sedangkan bagi masyarakat Amerika, kemenangan Deb Haaland, Keisha Lance Bottoms, Peggy Flanagan, Abdul El-Sayed, Chris Pappas, dan sejumlah tokoh lainnya menjadi penanda perubahan dalam siapa yang dapat menduduki jabatan tertinggi politik negara tersebut.

Baca juga artikel terkait PEMILU AS atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - News Plus
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra