Menuju konten utama

Demokrat Menang Pemilu Paruh Waktu AS, Harga Minyak Dunia Turun

Harga minyak mentah dunia mengalami tekanan jual untuk hari keempat berturut-turut pada Kamis (5/11/2026), setelah Partai Republik kalah dalam pemilu AS.

Demokrat Menang Pemilu Paruh Waktu AS, Harga Minyak Dunia Turun
kilang minyak.foto/shutterstock
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pasar energi global merespons cepat hasil pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat. Harga minyak mentah dunia kembali mengalami tekanan jual untuk hari keempat berturut-turut pada Kamis, setelah kekalahan yang dialami Partai Republik pimpinan Donald Trump.

Berdasarkan data perdagangan pada pukul 02.11 GMT Kamis (5/11/2026), kontrak berjangka Brent melemah 97 sen atau 1,03 persen ke level 93,65 dolar AS per barel. Tekanan yang lebih dalam dialami oleh minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat yang merosot 1,14 dolar AS atau 1,29 persen hingga diperdagangkan di bawah kisaran 90 dolar AS, tepatnya pada posisi 86,98 dolar AS per barel.

Penurunan ini menyusul kejatuhan tajam lebih dari 8 persen pada sesi sebelumnya yang membawa kedua patokan harga ke titik terendah sejak 31 Agustus lalu.

Perubahan konstelasi politik di Washington menjadi pemicu utama pergeseran sentimen pasar. Dua sumber yang dekat dengan lingkaran pemerintahan Teluk mengungkapkan pada Rabu (4/11/2026) bahwa posisi Trump kini melemah akibat dominasi Partai Demokrat di Kongres yang memiliki kewenangan untuk membatasi langkah-langkah militernya.

Kondisi tersebut dinilai memberikan dorongan kuat bagi pemerintah untuk menempuh jalur diplomasi, sehingga ancaman serangan skala penuh terhadap Iran kini dinilai semakin kecil.

Analis minyak senior di Sparta Commodities, June Goh, menjelaskan bahwa para pelaku pasar saat ini tengah memperhitungkan peluang berakhirnya konflik.

“Pasar sedang menilai dampak pemilihan paruh waktu terhadap langkah selanjutnya yang akan diambil Donald Trump terkait perang Iran, dan memperhitungkan kemungkinan yang lebih besar bahwa perang akan segera berakhir," ujarnya dikurung dari Reuters.

Meski demikian, Goh mengingatkan bahwa jalan menuju perdamaian masih dibayangi ketidakpastian tinggi di tengah cadangan strategis global yang sudah sangat menipis, yang berpotensi memicu volatilitas lanjutan.

Dari sisi suplai, gangguan distribusi berangsur mereda. Pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz, yang menjadi jalur logistik utama bagi mayoritas pasokan energi Teluk, dilaporkan telah kembali mendekati volume sebelum perang, kendati biaya pengirimannya masih terpantau lebih tinggi.

Catatan dari JPMorgan pada hari Rabu menyebutkan bahwa normalisasi pasokan dari kawasan Teluk ini telah mengembalikan pasar minyak global ke zona surplus setelah berbulan-bulan mengalami defisit akibat konflik.

JPMorgan memproyeksikan surplus pasar mencapai 1,1 juta barel per hari pada September, dan melebar hingga 1,4 juta barel per hari pada Oktober, mendekati rata-rata normal tahun lalu di angka 1,3 juta barel per hari.

Kendati tren penurunan harga terlihat signifikan, sejumlah kalangan memperingatkan bahwa koreksi ini mungkin tidak akan bertahan lama.

"Jawaban singkatnya adalah tidak," ujar Mukesh Sahdev, CEO konsultan energi XAnalysts, saat merespons pertanyaan mengenai potensi tren harga rendah pasca-pemilu.

Sahdev menekankan bahwa faktor geopolitik tetap menjadi variabel yang sulit diprediksi. Ia juga menyoroti fakta bahwa Kongres yang baru baru akan dilantik pada Januari mendatang, yang berarti belum ada perubahan instan dalam kerangka kebijakan luar negeri AS.

Selain itu, dinamika fundamental juga masih rentan. Sahdev mencatat bahwa cadangan komersial minyak di negara-negara konsumen utama saat ini berada di kisaran level terendahnya dalam 15 tahun terakhir, sementara Iran berpotensi merespons hasil politik domestik AS dengan sikap yang lebih tegas.

Sentimen fundamental ini turut diperkuat oleh laporan Badan Informasi Energi (EIA) pada hari Rabu, yang mencatat penurunan cadangan minyak mentah, bensin, dan distilat di AS pada pekan lalu seiring lonjakan permintaan domestik ke level tertingginya dalam setahun terakhir.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK DUNIA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Andrian Pratama Taher