tirto.id - Uang Rp50 ribu di tangan bisa terasa cukup sebelum seseorang memasuki pasar. Namun, setelah berhadapan dengan harga cabai, bawang, sayuran, hingga lauk, anggaran belanja itu bisa habis sebelum semua kebutuhan dapur masuk ke keranjang.
Pengalaman itu dirasakan Ayu, pekerja swasta yang tinggal di Rawamangun, Jakarta Timur. Ia terbiasa berbelanja di pasar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga selama tiga hingga lima hari. Duit belanjanya tak selalu ditentukan sejak dari rumah. Namun, dengan Rp150.000 di tangan, ia biasanya sudah cukup tenang untuk menyetok persediaan.
Belakangan, kebiasaan itu tak lagi mudah dijalankan. Harga bahan pangan yang berubah-ubah membuatnya sulit memperkirakan berapa banyak barang yang bisa dibawa pulang dengan uang yang sama. “Rp50.000, tuh, sudah minim banget dan pasti enggak dapat sayur-sayuran,” kata Ayu kepada Tirto, Rabu (21/10/2026).
Perubahan itu terasa bahkan dalam rentang kurang dari sepekan. Pada Sabtu sebelumnya, Ayu berbelanja di Pasar Klender, Jakarta Timur. Ia membeli dada ayam seharga Rp25 ribu, cumi asin Rp25 ribu, campuran bawang merah dan bawang putih Rp5 ribu, cabai campur Rp10 ribu, sawi Rp10 ribu, serta setengah kilogram telur. Belanja itu menghabiskan lebih dari Rp75 ribu, belum termasuk harga telur yang tak lagi ia ingat pasti.
Harga dada ayam menjadi salah satu yang paling ia rasakan perubahannya. Dalam transaksi sebelumnya, Ayu masih bisa membeli setengah bagian dada ayam seharga Rp15 ribu. Ketika kembali berbelanja, ia harus merogoh kocek Rp25 ribu.
“Jeda hari, jeda minggu, masih di bulan yang sama itu, harga aja udah beda,” ujarnya.
Pengalaman serupa ia rasakan saat membeli cabai. Sebelumnya, Rp5 ribu masih cukup untuk membeli cabai campur merah dan rawit “setan”. Namun, dalam belanja terakhirnya, pedagang meminta Rp10 ribu untuk pembelian tersebut.
Perubahan harga juga terasa ketika Ayu mendatangi Pasar Kaget Sodong, pada Selasa (20/10/2026), untuk membeli persediaan bahan masakan yang mulai habis. Ia sebenarnya hanya berniat membeli bumbu dapur.
Namun, harga eceran membuat anggaran harus disesuaikan. Bawang merah tidak lagi bisa dibeli seharga Rp5 ribu untuk satu paket campuran seperti yang biasa ia dapatkan. Di pasar tersebut, bawang merah dan bawang putih dijual terpisah, masing-masing mulai Rp5 ribu.
Cabai pun membutuhkan Rp10 ribu. Ayu kemudian menambah beberapa bahan lain, seperti tahu, bakso, sosis, dan jamur enoki, untuk melengkapi persediaan makanan di rumah. Total belanja itu mencapai Rp50 ribu. Namun, uang tersebut belum menghasilkan sayuran untuk dimasak.
Ayu memerinci belanja yang menghabiskan anggarannya: sosis satu kemasan berisi tiga buah, bakso satu kemasan kecil, tahu, bakso tahu, dan jamur enoki menghabiskan Rp25 ribu. Setelah ditambah bawang merah Rp5 ribu dan cabai campur Rp10 ribu, uangnya tepat habis.
Belum ada bawang putih, sayuran, tomat, maupun bumbu pelengkap seperti serai dan daun jeruk. “Dengan uang Rp50.000 kita enggak dapat apa-apa,” ujarnya, menggambarkan betapa terbatasnya anggaran itu untuk memenuhi kebutuhan dapur.

Menurut Ayu, memasak sendiri semestinya menjadi cara untuk berhemat sekaligus memenuhi selera. Ia bisa menentukan menu sesuai keinginannya, meski harus meluangkan lebih banyak waktu di dapur. Namun, mahalnya bahan pangan membuat pilihan itu tak selalu terasa menguntungkan.
“Kadang kan kalau kayak masak ajalah gitu biar irit, dan kalau masakan kayak apa yang dimau lebih terpuaskan gitu, maksudnya pengen makan apa, bikin deh, gitu. Walaupun lebih ribet, gitu ya. Tapi nyatanya eh harga yang segitu, gitu, jadi bikin kita males masak, kan?” keluh Ayu.
Perubahan harga ituterasa semakin nyata ketika ia membandingkan pengeluarannya sekarang dengan periode yang sama tahun lalu. Dengan nominal uang belanja yang tak banyak berubah, jumlah kebutuhan dapur yang bisa dibawa pulang justru semakin terbatas.
Uang Rp100 ribu saja tak lagi menjamin seluruh kebutuhan terpenuhi, apalagi Rp50 ribu yang kini terasa kian sulit diandalkan untuk berbelanja. “Jadi, bedanya sangat amat ya kalau dari tahun lalu, jelas. Itu jelas banget, karena di bulan yang sama aja udah jelas banget tuh kerasa harganya,” sambungnya.
Mis Fransiska (29), pekerja swasta yang tinggal di Rumah Susun Pasar Rumput, juga merasakan perubahan harga ketika berbelanja untuk persediaan mingguan. Ia biasanya mengalokasikan uang untuk membeli ayam fillet, sayuran, dan telur jika persediaan di rumah sudah habis. Dalam salah satu belanja terakhirnya, ia membawa Rp100 ribu dan membeli ayam fillet campuran dada dan paha seharga Rp50 ribu.
amun, saat menunggu ayam dipotong, ia memperhatikan belanja konsumen lain dan membandingkannya dengan pengalamannya berbelanja beberapa bulan lalu.
Menurut Fransiska, uang sekitar Rp42 ribu sebelumnya sudah cukup untuk membeli ayam berukuran relatif besar. Kini, ia merasa perlu mengeluarkan sekitar Rp50 ribu untuk mendapatkan ukuran yang menurutnya setara.
Perubahan serupa ia rasakan saat membeli kangkung. Sayuran yang biasa dibelinya seharga Rp5 ribu per ikat kini terlihat jauh lebih sedikit. Untuk mendapatkan jumlah yang kira-kira sama dengan satu ikat yang biasa dibelinya, Fransiska akhirnya membeli dua ikat seharga Rp10 ribu.
“Rp10.000 itu sama dengan gue beli goceng dua bulan lalu,” katanya kepada Tirto, Rabu (21/10/2026).
Ia juga merasakan perubahan harga minyak goreng dan telur, meski tak bisa memerinci besaran kenaikannya. Untuk cabai, ia kesulitan membandingkan harga karena jumlah yang diperoleh dari pembelian eceran bisa berbeda-beda.
Yang pasti, Rp50 ribu sekarang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan ayam, sayur, dan telur sekaligus. Bahkan dengan anggaran Rp100 ribu, ia memperkirakan belanja tersebut hanya cukup untuk kebutuhan makan selama sekitar dua hari jika harus mencakup seluruh bahan tersebut.
Mencoba ke Pasar dengan Rp50 Ribu
Menyusutnya nilai uang di keranjang belanja tak hanya terasa dari cerita Ayu dan Mis Fransiska, tetapi juga kami buktikan sendiri saat mencoba berbelanja dengan modal Rp50 ribu. Kami mendatangi Pasar Rumput, Jakarta Selatan, untuk melihat jenis dan jumlah bahan pangan yang bisa dibawa pulang dengan uang tersebut.
Nominal Rp50 ribu dipilih sebagai batas anggaran dalam reportase ini, dengan mempertimbangkan rata-rata pengeluaran penduduk DKI Jakarta untuk makanan yang mencapai Rp1.153.404 per kapita per bulan atau sekitar Rp38.447 per hari pada 2025, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Dengan anggaran sedikit di atas rata-rata pengeluaran makanan harian tersebut, uji coba ini bertujuan melihat seberapa banyak bahan pangan mentah yang bisa dibeli, bukan menyimulasikan seluruh kebutuhan konsumsi makanan seseorang.
Saat tiba di Pasar Rumput sekitar pukul 11.30, aktivitas jual beli masih berlangsung di antara lapak-lapak sayuran. Pembeli hilir mudik menanyakan harga, sementara pedagang melayani permintaan dalam jumlah kecil sesuai kebutuhan. Di tengah aktivitas itu, kami mencoba mencari tahu seberapa jauh uang Rp50 ribu bisa memenuhi kebutuhan dapur.
Kami mendatangi salah satu lapak di bagian dalam pasar yang menjual bumbu dapur dan aneka sayuran. Imron (28), pedagang yang melayani kami, menawarkan cabai rawit merah seharga Rp22 ribu untuk seperempat kilogram. Ia menyebut harga cabai merah keriting berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram, sedangkan cabai rawit merah mencapai Rp85 ribu per kilogram.
Dengan Rp50.000 yang kami bawa, kami hanya mendapatkan seperempat kilogram cabai rawit merah seharga Rp22 ribu; seperempat kilogram bawang merah yang dibanderol Rp10 ribu; dan bawang putih kating Rp12 ribu. Totalnya Rp44 ribu. Jika ditambah tomat Rp6 ribu, seluruh bahan untuk membuat sambal tomat tersebut menghabiskan Rp50 ribu.
Anggaran itu cukup untuk membeli empat jenis bahan, tetapi tidak menyisakan uang untuk kebutuhan pangan lain.

Menurut Imron, harga cabai rawit merah sempat turun dari Rp85 ribu menjadi Rp75 ribu per kilogram, tetapi kembali naik setelah sekitar dua hari. Ia juga menyebut sejumlah sayuran lain mengalami kenaikan harga.
“Iya. Sekarang lagi tinggi sayuran, lagi pada naik semua. Iya, semua, hijau-hijauan lebih mahal,” katanya saat berbincang dengan Tirto, Rabu (21/10/2026).
Daun bawang, misalnya, dijual Rp25 ribu per kilogram. Labu Siam dibanderol Rp8 ribu per buah, sedangkan wortel Brastagi mencapai Rp20 ribu per kilogram. Wortel lokal masih lebih murah, sekitar Rp15 ribu hingga Rp17 ribu per kilogram, bergantung pada kondisi barang.
Imron membandingkan harga labu siam dengan periode Ramadan sebelumnya. Menurut dia, komoditas tersebut sempat dijual sekitar Rp5 ribu per buah.
“Sekarang lagi tinggi harganya. Belum juga tahun baru, masih lama ya. (Saat tahun baru tiba, harga bahan pangan) Ya, bisa tambah mahal lagi. Ini karena ada MBG nih. Iya, ngaruh. Kebanyakan diborong para MBG,” duganya.
Bergeser sekitar 12 kilometer ke arah selatan, Tirto mencoba membeli barang yang sama di Pasar Minggu. Ismail, seorang pedagang sayuran di belakang pasar, mencoba menawarkan bawang merah dan bawang putih dalam pembelian seperempat kilogram dengan total Rp23 ribu. Kemudian, cabai rawit seperempat kilogram dihargai Rp23 ribu. Dus, kami perlu mengeluarkan Rp46 ribu untuk tiga jenis bahan tersebut.
Agar genap Rp50.000, sembari menyiapkan pesanan dari pembeli online, Ismail menyarankan kepada Tirto untuk memasukkan 2 buah timun ke dalam kresek putih berisi belanjaan sebelumnya. Jadi, nilai dari dua buah timun tersebut Rp4.000.
Dengan Rp50.000 lainnya, Tirto mencoba membeli bahan pangan lainnya. Tepat di seberang warung Ismail, terdapat lapak yang khusus menjajakan beras.
“Pandan wangi itu enak, wangi. Kalau yang sedang ini Cianjur. Mau yang wangi apa enggak? (Cianjur) Wangi, cuma dia sedang nasinya. Kalau pandan wangi itu pulen,” kata Hanif, kepada Tirto, Rabu (21/10/2026).
Perbedaan antara beras pandan wangi dan Cianjur hanya berselang Rp2.000—pandan wangi dibanderol Rp18.000, sementara Cianjur Rp16.000. Dengan Rp50.000, kami memilih untuk membeli beras Cianjur.
“Jadinya Rp16.000,” katanya singkat.

Bergerak ke arah dalam pasar, Tirto menemukan lapak yang menjual berbagai jenis minyak, kerupuk, hingga plastik kemasan. Asep (42) pada mulanya menawarkan minyak “Rizky” berukuran 1 dan 2 liter.
“Ini Rizky, Rp19 ribu seliter," jelasnya.
Namun, kemudian ia menjelaskan bahwa seliter Minyakita memiliki harga lebih murah, Rp18.000 per liter. Tidak hanya itu, Minyakita juga tepat berukuran 1 liter, sedangkan sebotol Rizky hanya berisikan 800 mililiter minyak nabati.
Mendengar penjelasan tersebut, kami memutuskan untuk membeli Minyakita. Dus, Rp50.000 di tangan hanya tersisa Rp16.000. Tidak jauh dari lapak tersebut, kami mencoba membeli telur setengah kilogram.
“Rp13 juta,” kata Amir sambil berseloroh dan mengulang bahwa harga telur tersebut dipatok senilai Rp13.000.
Dengan hasil belanja tersebut, kami hanya mendapatkan seliter beras Cianjur, seliter Minyakita dan setengah kilo telur dengan total Rp47.000. Dus, Rp50.000 di tangan hanya tersisa Rp3.000 yang bahkan tak cukup untuk membeli es kopi di depan Pasar Minggu.
Inflasi dan Tekanan Daya Beli
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kenaikan harga komoditas tertentu dapat mengurangi kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, terutama ketika pendapatan tidak bertambah sejalan dengan biaya hidup.
Sebagai gambaran, harga cabai rawit merah secara nasional pada Oktober 2025 tercatat sekitar Rp39.800 per kilogram, bawang merah Rp38.600 per kilogram, dan bawang putih Rp36.600 per kilogram. Sementara itu, berdasarkan data harga rata-rata di Jakarta pada 20 Oktober 2026, harga cabai rawit merah mencapai sekitar Rp77.980 per kilogram, bawang merah Rp45.640 per kilogram, dan bawang putih Rp40.333 per kilogram.
Dengan asumsi masing-masing komoditas dibeli sebanyak 250 gram, total pengeluaran untuk ketiganya meningkat dari sekitar Rp29.000 menjadi sekitar Rp41.000. Artinya, anggaran Rp50.000 yang sebelumnya masih menyisakan ruang untuk membeli bahan pangan lain kini sebagian besar terserap untuk tiga komoditas tersebut.
Perbandingan itu memperlihatkan bahwa kenaikan harga cabai menjadi salah satu faktor utama yang membuat belanja dengan nominal yang sama semakin terbatas. Namun, simulasi tersebut hanya menggambarkan perubahan biaya untuk tiga komoditas dan bukan ukuran menyeluruh dari perubahan daya beli rumah tangga.
“Artinya, tekanan daya beli tidak terjadi secara merata. Kenaikan paling tajam terkonsentrasi pada komoditas hortikultura yang pasokannya mudah terganggu dan harganya sangat berfluktuasi,” kata dia kepada Tirto, Rabu (21/10/2026).
Tekanan harga pangan juga perlu dilihat melalui perkembangan harga komoditas lain. Di Jakarta, harga beras tercatat sekitar Rp15.047 per kilogram atau meningkat sekitar 10 persen secara tahunan. Sementara itu, harga telur ayam berada di kisaran Rp27.365 per kilogram dan sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Perbedaan pergerakan harga tersebut menunjukkan bahwa tekanan biaya pangan tidak terjadi secara seragam pada seluruh komoditas. Karena itu, penilaian terhadap keterjangkauan pangan perlu mempertimbangkan perubahan harga setiap komoditas, pola konsumsi, serta pendapatan rumah tangga.
“Data konsumsi kalori dan protein per kapita juga perlu diamati bersama prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan,” ujarnya.
Menurut Yusuf, risiko inflasi pangan masih perlu diwaspadai hingga awal 2027. Ia memperkirakan inflasi pada akhir 2026 dapat mencapai 3,4-3,5 persen dalam skenario dasar. Angka tersebut berpotensi meningkat hingga 3,6 persen apabila harga pangan bergejolak tetap tinggi dan gangguan distribusi berlanjut.
Kuartal I 2027 menjadi salah satu periode yang rawan apabila tekanan produksi dan distribusi pangan bertemu dengan kenaikan permintaan. Potensi gangguan musim tanam akibat El Niño hingga awal 2027, misalnya, dapat memengaruhi produksi sejumlah komoditas. Pada saat yang sama, periode Ramadan pada Februari-Maret 2027 berpotensi meningkatkan permintaan bahan pangan.
“Kuartal I 2027 menjadi periode yang paling rawan karena beberapa tekanan dapat muncul bersamaan,” kata Yusuf.
Meski begitu, risiko tersebut tidak serta-merta berarti harga pangan pasti melonjak. Besarnya tekanan akan bergantung pada kondisi produksi, cuaca, distribusi, cadangan pangan, dan efektivitas intervensi pemerintah.
Yusuf menilai pemerintah perlu memperkuat cadangan pangan, memperbaiki distribusi, dan memastikan bantuan pangan tepat sasaran. Upaya tersebut perlu dibarengi dengan peningkatan produktivitas, perbaikan irigasi dan penyimpanan, serta pengaturan pola tanam untuk komoditas yang rentan bergejolak, seperti cabai dan bawang.
Terpisah, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan tekanan inflasi pangan perlu mendapat perhatian karena dampaknya terhadap daya beli masyarakat bisa lebih besar daripada yang tercermin dalam angka inflasi nasional.
“Tekanan inflasi pangan saat ini perlu mendapat perhatian serius karena dampaknya terhadap daya beli masyarakat jauh lebih besar dibandingkan dengan yang terlihat dari angka inflasi nasional,” kata Josua.
Menurut dia, besarnya dampak tersebut berkaitan dengan struktur pengeluaran rumah tangga. Ketika sebagian besar uang digunakan untuk membeli makanan, kenaikan harga pangan akan menyisakan lebih sedikit anggaran untuk kebutuhan seperti pendidikan, kesehatan, transportasi, dan perumahan.
Data pengeluaran rumah tangga memperlihatkan bahwa kelompok berpengeluaran 20 persen terbawah mengalokasikan sekitar 64,60 persen pengeluarannya untuk makanan pada Maret 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan 64,31 persen pada Maret 2025 dan 63,17 persen pada Maret 2024.
Sebaliknya, kelompok 20 persen teratas mengalokasikan sekitar 39,21 persen pengeluarannya untuk makanan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa perubahan harga pangan berpotensi memberikan tekanan yang lebih besar terhadap kelompok berpengeluaran rendah karena porsi belanja makanan mereka relatif lebih tinggi.
“Yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa cepat harga pangan naik, melainkan seberapa besar kenaikan tersebut mengurangi kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan lain dan mempertahankan kualitas konsumsinya,” ujar Josua.
Meski demikian, kenaikan porsi pengeluaran makanan tidak otomatis membuktikan bahwa daya beli riil rumah tangga telah menurun. Perubahan tersebut juga dapat dipengaruhi oleh pergerakan harga relatif antarkomoditas, jumlah anggota keluarga, serta perubahan pola konsumsi.
Karena itu, Josua menilai analisis daya beli perlu menggabungkan data harga pangan dengan perkembangan pengeluaran rumah tangga, pendapatan pekerja, serta jumlah dan kualitas makanan yang dikonsumsi. Data inflasi dan survei pengeluaran rumah tangga perlu dibaca bersama indikator ketenagakerjaan agar perubahan biaya hidup dapat dibandingkan dengan kemampuan masyarakat untuk memperoleh pendapatan.
Pendekatan tersebut penting agar kebijakan pengendalian inflasi tidak hanya berfokus pada angka nasional, tetapi juga mempertimbangkan kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap kenaikan harga.

Sementara itu, ekonom sekaligus analis kebijakan, Ronny Sasmita, mengingatkan bahwa inflasi yang masih berada dalam rentang sasaran bukan berarti seluruh kebutuhan masyarakat sudah terjangkau. Angka inflasi menunjukkan perubahan harga secara agregat, sedangkan kemampuan membeli kebutuhan sehari-hari juga ditentukan oleh tingkat pendapatan dan komposisi pengeluaran.
“Kita perlu membedakan antara inflasi yang secara statistik masih terkendali dan keterjangkauan harga yang benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Ronny.
Ia menjelaskan bahwa perlambatan inflasi tidak berarti harga barang kembali ke tingkat sebelumnya. Selama inflasi masih positif, harga secara umum tetap meningkat, meskipun laju kenaikannya lebih rendah.
“Disinflasi berarti harga masih naik, tetapi dengan laju yang lebih rendah. Harga baru benar-benar turun ketika terjadi deflasi pada barang atau kelompok barang yang bersangkutan,” ujarnya.
Perbedaan ini menjelaskan mengapa masyarakat masih dapat merasa terbebani meskipun laju inflasi melambat. Harga pangan yang telah meningkat pada periode sebelumnya tidak otomatis kembali turun ketika inflasi mulai terkendali. Pada saat yang sama, pendapatan rumah tangga belum tentu tumbuh dengan kecepatan yang sama.
Bagi rumah tangga berpendapatan rendah, kondisi tersebut dapat mempersempit ruang untuk memenuhi kebutuhan lain. Mereka mungkin harus mengurangi jumlah pembelian, mengganti bahan pangan dengan alternatif yang lebih murah, atau menunda pengeluaran di luar kebutuhan pokok.
Karena itu, menurut Ronny, pengendalian inflasi perlu berjalan beriringan dengan upaya memperkuat pendapatan masyarakat. Stabilitas harga tetap penting, tetapi belum cukup apabila pertumbuhan pendapatan tidak mampu mengimbangi biaya hidup.
“Pengendalian harga tanpa memperkuat pendapatan hanya menyelesaikan sebagian persoalan,” pungkas Ronny.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































