Menuju konten utama

Di Depan Nobelis, Hashim Pamer Swasembada Pangan Lampaui Target

Menurut Hashim, percepatan itu terjadi lantaran pemerintah memberikan insentif kepada petani.

Di Depan Nobelis, Hashim Pamer Swasembada Pangan Lampaui Target
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo memberikan pemaparan pada Seminar Nasional Kedaulatan Kesehatan di Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Rabu (15/7/2026). Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) menggelar Seminar Nasional Kedaulatan Kesehatan untuk membahas berbagai persoalan dan solusi dalam mewujudkan kedaulatan kesehatan Indonesia menuju 2045. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, membanggakan percepatan swasembada pangan di hadapan peraih nobel ekonomi 2024, James A Robinson, saat menjadi pembicara dalam forum Prasasti Center for Policy Studies di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Menurut dia, swasembada pangan dapat tercapai tiga tahun lebih cepat dari target seharusnya. Klaimnya, percepatan itu terjadi lantaran pemerintah memberikan insentif kepada petani.

"Tiga tahun lebih cepat dari jadwal, mengapa? Karena insentif yang diberikan kepada para petani," tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Hashim mengaku merupakan seorang kapitalis. Karena itu, ia meyakini insentif dapat membuat petani bekerja dengan lebih gigih.

Kata Hashim, pemerintah yang mampu menciptakan iklim lingkungan jual-beli produk pertanian dari petani secara positif juga menjadi salah satu alasan percepatan swasembada pangan.

"Ketika Anda memberikan insentif kepada petani dan memberi mereka harga pengadaan yang lebih tinggi, harga pembelian yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya, tentu akan ada dorongan yang jauh lebih besar dan motivasi yang jauh lebih kuat untuk menanam padi," urainya.

Ia menyatakan, pemerintah juga melakukan upaya lain agar produksi petani meningkat, yakni penurunan biaya produksi untuk petani. Contohnya, yakni penurunan harga pupuk sebanyak sekitar 20 persen.

Dengan swasembada pangan itu, stok beras disebut mencapai 5,3 juta ton. Di satu sisi, pemerintah pusat juga kembali mengekspor beras setelah sekian lama tidak melakukan ekspor beras.

"Sekarang Indonesia mengekspor beras untuk pertama kalinya dalam 42 tahun. Terakhir kali kita mengekspor beras adalah pada 1984, sejauh yang saya ingat," tuturnya.

"Ini adalah pertama kalinya kita akan mencapai swasembada beras. Aaya memahami bahwa dalam 2-3 tahun ke depan, kita juga akan segera mencapai swasembada kedelai. Indonesia mengimpor banyak kedelai," sambung Hashim.

Baca juga artikel terkait SWASEMBADA PANGAN atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Bayu Septianto