tirto.id - BI Koordinasi dengan Kementan Kendalikan Lonjakan Harga Pangan
Bank Indonesia (BI) menyoroti laju inflasi komponen harga bergejolak (volatile food) yang telah menyentuh angka 5 persen. Bank sentral menegaskan bakal segera berkoordinasi intensif dengan Kementerian Pertanian (Kementan) guna mengendalikan lonjakan harga pangan nasional.
Kondisi tersebut dilaporkan langsung jajaran bank sentral kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas bidang perekonomian di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10/2026).
"Memang kami juga laporkan yang memang perlu menjadi perhatian adalah inflasi di pangan ya, volatile food inflation yang memang mencapai 5 persen," ujar Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam konferensi pers usai rapat terbatas.
Merespons tekanan pada harga komoditas pangan tersebut, BI bersama Kementan akan menyusun langkah stabilisasi pasokan dan distribusi agar inflasi pangan dapat ditekan kembali ke rentang sasaran pemerintah.
"Nah ini tadi kami laporkan dan juga koordinasi nanti dengan Kementerian Pertanian bagaimana kita bisa menjaga untuk volatile food inflation agar masuk di dalam koridor Bank Indonesia 2,5 plus minus 1 persen," jelas Destry.
Kendati harga pangan tengah mengalami gejolak, Destry menerangkan bahwa indikator fundamental ekonomi domestik masih mencerminkan stabilitas yang solid.
Hal ini tercermin dari realisasi inflasi inti yang tetap rendah.
"Untuk inflasi kami juga laporkan untuk inflasi inti yang menjadi menggambarkan pergerakan dari perekonomian masih cukup terkendali, di bulan September masih 2,8 persen," tuturnya.
Selain pengendalian inflasi, BI menegaskan fokus kebijakan moneter saat ini tetap diarahkan pada penguatan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya volatilitas pasar keuangan global dan tren suku bunga tinggi di negara maju (higher for longer).
"Dari Bank Indonesia tadi kami melaporkan terkait dengan stabilitas karena tetap Bank Indonesia fokus kita adalah menjaga stabilitas rupiah, baik dalam kaitannya dengan inflasi maupun kaitannya dengan nilai tukar," tambah Destry.
Menghadapi ketidakpastian eksternal tersebut, bank sentral memastikan kesiapannya untuk terus melakukan intervensi terukur di pasar keuangan.
"Intinya Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar," tegasnya.
Destry menambahkan, Prabowo turut menginstruksikan pemanfaatan seluruh instrumen moneter yang dimiliki BI guna menarik arus modal masuk dan menjaga likuiditas valas di dalam negeri.
"Kami diminta juga oleh Bapak Presiden untuk terus melihat, upayakan kebijakan-kebijakan yang kami miliki apakah itu bentuknya intervensi di spot, DNDF, dan NDF, ataupun juga dalam bentuk insentif biaya hedging yang juga sudah kami berikan sejak akhir bulan Juni yang lalu, dan hingga saat ini sudah bisa mendatangkan inflow," terang Destry.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id






































