tirto.id - Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mengalami erupsi pada Kamis (5/11/2026) petang dengan tinggi kolom letusan mencapai sekitar 500 meter di atas puncak. Erupsi tersebut mengeluarkan abu vulkanik berwarna kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal yang mengarah ke barat. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah adanya potensi letusan freatik yang dapat terjadi secara tiba-tiba.
Meski aktivitas gunung masih berada pada Level II atau Waspada, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat, pedagang, pendaki, serta pengelola wisata untuk tidak mendekati kawah aktif dalam radius 1 kilometer.
Kondisi Erupsi Gunung Bromo pada 5 November 2026
Gunung Bromo mengalami erupsi pada Kamis (5/11/2026) sekitar pukul 17.11 WIB. Kolom abu vulkanik yang keluar teramati berwarna kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal dan bergerak ke arah barat. Aktivitas tersebut juga terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan durasi erupsi selama 46 detik.
"Terjadi erupsi Gunung Bromo pada hari Kamis pukul 17.11 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 500 meter di atas puncak atau 2.829 meter di atas permukaan laut (mdpl)," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Bromo, Budi Marwanto dikutip Antara (5/11/2026).
Berdasarkan catatan petugas, erupsi tersebut merupakan aktivitas letusan yang perlu diwaspadai karena sebelumnya Gunung Bromo tercatat terakhir mengalami erupsi pada 19 Juli 2019. Saat itu, letusan tidak teramati secara visual, tetapi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 37 milimeter dan durasi mencapai 434 detik.
Menanggapi kejadian tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti arahan petugas.
"Saya mengimbau masyarakat tetap tenang dan mematuhi arrahan petugas sesuai dengan rekomendasi batas aman yang sudah direkomendasikan oleh PVMBG," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarif.
Pada Jumat (6/11/2026), BPBD Probolinggo bersama TNI dan Polri juga melakukan pemetaan ulang jalur evakuasi serta lokasi posko pengungsian.
"Hari ini kami bersama TNI dan Polri melakukan pemetaan kembali jalur evakuasi dan titik-titik posko pengungsi sebagai upaya mitigasi apabila sewaktu-waktu Gunung Bromo erupsi kembali," terang Oemar.
BPBD juga terus berkoordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Bromo dan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), untuk memantau perkembangan aktivitas gunung sekaligus kondisi kawasan wisata.
Berdasarkan pengamatan pada Jumat pagi, aktivitas vulkanik Gunung Bromo masih terpantau stabil dan belum menunjukkan peningkatan status.
Aktivitas Kegempaan dan Pengamatan Visual Gunung Bromo
Berdasarkan laporan pengamatan selama 24 jam pada Kamis (5/11/2026), aktivitas kegempaan Gunung Bromo mencatat satu kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 23 milimeter dan durasi 46 detik.
Selain itu, petugas mencatat empat kali gempa low frequency dengan amplitudo 1 milimeter dan durasi 10-11 detik. Terdapat pula enam kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 1 milimeter dan durasi 5-10 detik. Sementara itu, gempa tremor menerus tercatat satu kali dengan amplitudo 0,5-1 milimeter dan dominan pada 0,5 milimeter.
Dari pengamatan visual, kondisi Gunung Bromo terlihat jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat ketebalan 0-III. Asap dari kawah utama teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal serta ketinggian sekitar 50-500 meter dari puncak.
Kondisi cuaca saat pengamatan berlangsung bervariasi dari cerah hingga mendung, dengan angin bertiup lemah ke arah barat dan barat laut.
Meskipun belum ada peningkatan status, masyarakat dan wisatawan tetap diminta mematuhi rekomendasi PVMBG, terutama larangan memasuki kawasan dalam radius 1 kilometer dari kawah aktif.
"Masyarakat di sekitar Gunung Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata Gunung Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas," ujar Oemar.
Apa Itu Letusan Freatik?
Menurut Santi Kurniasih dalam buku “Seri Fenomena Alam dan Mitigasi Letusan Gunung Api” (2023), letusan atau erupsi freatik adalah letusan yang terjadi karena penimbunan uap air dan gas vulkanik sehingga menyebabkan sumbatan di mulut kawah terbuka.
Secara sederhana, erupsi freatik terjadi ketika air yang berada di dalam tanah atau di sekitar sistem gunung api mengalami pemanasan akibat bersentuhan dengan batuan panas atau sumber panas vulkanik. Pemanasan tersebut menyebabkan air berubah menjadi uap dan meningkatkan tekanan di dalam gunung.
Ketika tekanan uap semakin besar dan tidak dapat dilepaskan melalui celah yang tersedia, material di sekitar kawah dapat mengalami ledakan. Akibatnya, batuan, debu, pasir, kerikil, serta uap air terlontar ke udara melalui kawah.
Berbeda dengan letusan magmatik yang melibatkan keluarnya magma dari dalam bumi, erupsi freatik umumnya didominasi material lama dari sekitar kawah dan uap air. Dengan kata lain, letusan jenis ini tidak selalu disertai keluarnya magma segar ke permukaan.
Material yang terlontar dalam erupsi freatik umumnya berupa uap air, gas vulkanik, debu, pasir, dan pecahan batuan. Letusan ini juga dapat berlangsung singkat, tetapi kekuatan ledakannya tetap bergantung pada tekanan yang terbentuk di dalam sistem gunung api.
Salah satu karakteristik erupsi freatik adalah kemunculannya yang sulit diprediksi. Letusan dapat terjadi tanpa didahului perubahan aktivitas vulkanik yang terlihat jelas oleh masyarakat maupun tanda-tanda yang mudah dikenali secara visual.
Hal ini karena proses pembentukan tekanan uap air dapat berlangsung di bawah permukaan gunung. Ketika tekanan sudah cukup besar untuk memicu ledakan, material dapat terlontar secara mendadak.
Selain itu, curah hujan juga dapat memengaruhi aktivitas freatik. Air hujan yang meresap ke dalam tanah atau masuk melalui rekahan di sekitar kawah dapat bersentuhan dengan batuan bersuhu tinggi. Proses tersebut berpotensi meningkatkan pembentukan uap dan tekanan di dalam sistem gunung api.
Menurut keterangan Kepala PVMBG Kementerian ESDM Hendra Gunawan pada 6 Desember 2023 yang dikutip Antara, erupsi freatik berpotensi terjadi secara tiba-tiba apabila curah hujan cukup tinggi.
Musim hujan juga dapat meningkatkan risiko bahaya di sekitar kawasan kawah. Selain pengaruh air yang masuk ke sistem vulkanik, kondisi atmosfer dan pergerakan gas perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi konsentrasi gas vulkanik di sekitar gunung.
Erupsi freatik terkadang dianggap lebih ringan dibandingkan letusan magmatik karena umumnya tidak mengeluarkan magma segar dalam jumlah besar. Namun, hal tersebut bukan berarti letusan freatik sepenuhnya aman.
Bahaya erupsi freatik bergantung pada kekuatan ledakan, material yang terlontar, serta kondisi lingkungan di sekitar kawah. Meski berlangsung singkat, letusan dapat melontarkan batuan dan material panas yang membahayakan orang-orang di dekat sumber letusan.
Menurut Dea Lugina dalam buku “Gunung Berapi” (2023), gunung api yang kaya kandungan gas, seperti Dieng, Tangkuban Perahu, dan Papandayan, memiliki potensi mengalami erupsi freatik.
Erupsi freatik diyakini para ahli, dalam kondisi tertentu juga dapat menjadi tanda bahwa aktivitas di dalam gunung api sedang mengalami perubahan dan berpotensi berkembang menjadi erupsi magmatik. Hal ini terutama perlu diperhatikan pada gunung api yang sudah lama tidak mengalami letusan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id





























