tirto.id - Empat emiten yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu berencana membeli kembali (buyback) saham dengan total dana maksimal Rp3,5 triliun. Rencana ini muncul di tengah tekanan pasar saham Indonesia setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengusulkan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Hingga penutupan perdagangan Senin (19/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 14,79 persen dibandingkan penutupan Kamis (15/10/2026), sehari sebelum pasar bereaksi terhadap pengumuman MSCI. Pada Jumat (16/10), IHSG anjlok 11,57 persen, lalu kembali turun 3,64 persen pada hari ini—ditutup di level 4.996,61.
Keempat emiten tersebut adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Rencana buyback tersebut disampaikan masing-masing emiten dalam keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (19/10/2026). Pelaksanaan buyback dijadwalkan pada 19 Oktober hingga 31 Desember 2026 dengan memakai kas internal perusahaan.
TPIA, BRPT, dan BREN masing-masing menyiapkan dana maksimal Rp1 triliun. Adapun CUAN menyiapkan dana maksimal Rp500 miliar.
Dalam keterbukaan informasinya, TPIA menyebut buyback dilakukan sesuai Peraturan OJK Nomor 13 Tahun 2023 dan Surat Edaran OJK Nomor S-112/D.04/2026 tentang kebijakan pada kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan. Perseroan akan membeli maksimal 800 juta saham atau 0,92 persen dari seluruh saham yang diterbitkan, dengan harga maksimal Rp3.000 per saham. Transaksi dilakukan lewat perdagangan di BEI melalui PT Henan Putihrai Sekuritas.
TPIA menjelaskan tujuan rencana tersebut. "Pembelian Kembali Saham ini dilakukan sebagai salah satu upaya Perseroan untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham, meningkatkan kinerja saham sesuai dengan kondisi fundamental Perseroan, menjaga stabilisasi harga saham Perseroan dan menjaga kepercayaan publik," tulis perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026 yang belum diaudit, TPIA memperkirakan total aset dan total ekuitas masing-masing berkurang sekitar 56 juta dolar AS setelah buyback. Laba bersih per saham diperkirakan tidak berubah.
"Pembelian Kembali Saham tidak akan mengakibatkan menurunnya pendapatan Perseroan dan tidak ada dampak yang signifikan atas pembiayaan Perseroan," demikian tertulis dalam keterbukaan informasi TPIA.
Saham hasil buyback rencananya disimpan sebagai saham treasuri. Saham tersebut tidak dapat dipakai untuk mengeluarkan suara dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) dan tidak berhak atas dividen.
Penulis: Muhammad Rayfahd Haykal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































