Berebut Tirta di Tanah Jawara: Konflik Air di Pandeglang

1 April 2017
Bibit konflik mulai terlihat pada awal 2014 saat Pemerintah Daerah Pandeglang memberi izin lokasi dan izin pengusahaan air tanah kepada PT Tirta Fresindo Jaya (Mayora Group) untuk mendirikan pabrik air minum kemasan Le Minerale. Lokasinya di kawasan sumber mata air dan lahan pertanian berkelanjutan serta kawasan lindung geologi.

Setidaknya ada 8 sumber mata air di kawasan yang menjadi lokasi perusahaan dan 42 pesantren di lingkungan Cadasari (Pandeglang) dan Baros (Serang), pusat penolakan warga dan areal paling terdampak dari rencana ekspansi bisnis anak perusahaan Mayora Group.

Sumber mata air ini bagi warga adalah kawasan suci, berkah yang sekian lama menjadi urat nadi kehidupan warga dan kegiatan pesantren. Sampai perusahaan belum benar-benar angkat kaki, ancaman kehilangan akses terhadap air ini masih membayang.

Sepanjang 2014-2017, warga melancarkan protes. Aksi terbesar pada 6 Februari 2017: 400-an warga mendatangi kantor bupati lalu menuju lokasi perusahaan. Ia berujung pembakaran backhoe dan perusakan bangunan perusahaan. Buntutnya, 3 warga dikriminalisasi: Bima Fahru Aziz (24 tahun), Fuadi (24 tahun), dan Sair Firdaus.

Tindakan ini menambah deretan panjang konflik agraria di Indonesia. Dari Kendeng, Sukamulya, Kulonprogo, Urut Sewu, Tulang Bawang dan Mesuji di Lampung, Serapat di Kalsel, dan puluhan titik konflik lainnya. Kini Pandeglang yang sedang menghadapi persoalan. Ya, Pandeglang, di Tanah Jawara.

Editor: rangga
DarkLight