tirto.id - Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa memimpin partai politik memiliki tanggung jawab lebih besar dibandingkan menjadi menteri.
“Kalau boleh saya katakan, menjadi menteri itu pekerjaan mulia dan tanggung jawabnya besar. Tetapi menjadi Ketua Umum partai itu menambah tugas yang jauh lebih besar,” kata Bahlil dalam acara Do’a Bersama dan Tasyakuran HUT ke-62 Partai Golkar di DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Selasa (20/10/2026) malam.
Bahlil menyebut hal itu disebabkan oleh posisi ketua umum yang mengharuskannya mengelola dan memimpin kader-kader terbaik yang bernaung di bawah Partai Golkar.
Kata dia, memimpin Golkar merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar di tengah dinamika politik global yang tidak menentu. Menteri ESDM itu kemudian menyinggung berbagai konflik geopolitik, mulai dari perang Rusia-Ukraina hingga ketegangan di Timur Tengah.
“Mengelola negara dalam kondisi geopolitik seperti sekarang bukan hal gampang. Dampaknya termasuk ke Indonesia dan hampir semua dunia,” tuturnya.
Dalam situasi itu, Bahlil menyebut kader Golkar yang bertugas di kabinet harus mengutamakan kepentingan rakyat dalam menentukan kebijakan ekonomi.
Lebih jauh, pria yang kini Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi merangkap Menteri ESDM ini mengungkapkan bahwa rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sejak Januari hingga Oktober telah mencapai 91–92 dolar AS per barel. Angka tersebut berada di atas asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dipatok sebesar 70 dolar AS per barel.
Di sisi lain, ia menyebut beban subsidi telah mencapai Rp730 triliun hingga Rp750 triliun, meningkat dari asumsi APBN yang berada di kisaran Rp500 triliun.
“Memang secara ideal itu harus kita naikkan, tetapi Partai Golkar berkomitmen untuk dalam kondisi seperti sekarang, belum waktunya untuk kita menaikkan harga BBM,” kata Bahlil.
Berkaitan dengan ini, Bahlil mengatakan Presiden Prabowo Subianto memintanya mencari sumber pendapatan tambahan untuk menutup defisit akibat peningkatan kebutuhan subsidi apabila pemerintah tidak menaikkan harga BBM.
Dia kemudian menyinggung upaya pemerintah menambah pemasukan negara. Bahlil mengibaratkan upaya tersebut sebagai cara berdagang untuk memperoleh tambahan uang bagi negara.
“Dulu waktu masih aktivis, saya katakan untuk Bapak Presiden, waktu masih aktivis, kertas kop surat dengan cap surat dan kopnya kita cetak di Jalan Pramuka itu bisa mendatangkan uang. Apalagi sekarang ada lencana negara dan kop negara, saya yakin pasti bisa kita menambah anggaran untuk negara,” ujarnya.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id


































