Anak-Anak Penyintas Gempa Cianjur

Sejumlah anak-anak penyintas gempa Cianjur mengikuti kegiatan pendidikan di posko pengungsian Lapangan Cariu, Cugenang, Cianjur, Jawa Barat - ANTARA FOTO/ Novrian Arbi
Sejumlah anak bermain saat kegiatan dukungan psikologi anak terdampak gempa di Taman Prawitasari, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kegiatan yang digelar Rappeling Education (RED) tersebut ditujukan untuk mengurangi rasa syok pada anak akibat gempa bumi. - ANTARA FOTO/ Raisan Al Farisi
Seorang anak korban gempa bercerita dengan menggunakan wayang berkarakter hewan bersama Pendongeng keliling satwa langka Indonesia, Samsudin di Posko Pengungsian Sarampad, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Mendongeng tentang satwa dengan melibatkan anak-anak tersebut untuk menghibur serta meringankan trauma korban terdampak bencana gempa bumi di Kabupaten Cianjur. - ANTARA FOTO/ Wahyu Putro A
Anak penyintas gempa Cianjur mengikuti kegiatan menggambar di posko pengungsian Lapangan Cariu, Cugenang, Cianjur, Jawa Barat, Rabu (30/11/2022). - ANTARA FOTO/ Novrian Arbi
Sedikitnya 500 tenaga ahli untuk melakukan dukungan kesehatan jiwa psikososial atau trauma healing. 105 untuk psikiater, 210 untuk psikolog, dan 210 untuk perawat jiwa. - ANTARA
Rabu, 30 November 2022 18:05 WIB
Memasuki pekan kedua gempa Cianjur, pemerintah Indonesia mengaku membutuhkan sedikitnya 500 tenaga ahli untuk melakukan dukungan kesehatan jiwa psikososial atau trauma healing. 105 untuk psikiater, 210 untuk psikolog, dan 210 untuk perawat jiwa.

Kegiatan
trauma healing dilakukan terhadap anak-anak pengungsi di posko-posko terdampak. Respon anak-anak sendiri variatif dan mayoritas tampak senang, mereka terhibur dan merasa dipedulikan.

Mereka diberi hiburan dan diajak bermain supaya trauma yang dirasakan pasca kejadian itu berangsur hilang dengan sendirinya. Beberapa kegiatan mulai belajar, bermain, bernyanyi hingga lomba mewarnai dilakukan agar dapat mengembalikan suasana hati yang gembira pada anak-anak tersebut.

Tidak diketahui berapa jumlah anak-anak yang ikut mengungsi dalam gempa Cianjur.

Namun, menurut lembaga internasional Save The Children, anak-anak paling beresiko terpapar trauma, selain kaum perempuan dan kelompok lanjut usia. - ANTARA



DarkLight