Menuju konten utama

Wamenko Perekonomian Minta Pelaku Pasar Modal Lebih Independen

Pelaku pasar modal dan broker dinilai harus bisa menghitung beberapa hal secara mandiri seperti modeling atau pun return saham masing-masing.

Wamenko Perekonomian Minta Pelaku Pasar Modal Lebih Independen
Drajad Wibowo di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (14/10/2026). tirto.id/nanda
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Wakil Menteri Koordinator Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo, meminta pelaku pasar modal maupun broker di Indonesia agar lebih independen. Mereka diminta untuk menganalisis sendiri pergerakan pasar modal di Tanah Air.

Menurut dia, pelaku pasar modal dan broker harus bisa menghitung beberapa hal secara mandiri seperti modeling atau pun return saham masing-masing.

"Tolong teman-teman para investor maupun para pelaku pasar modal, para broker di Indonesia, cobalah, kalian bisa lebih independen. Perkuat analisis kalian, perkuat model-model kalian," ucapnya di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (16/10/2026).

"Saya tahu banyak jago-jago matematika kok di Indonesia. Kebetulan saya juga senang modeling. Bisa melakukan modeling sendiri, bisa menghitung return saham kita sendiri, bisa tahu kekuatan kita sendiri," lanjut dia.

Dradjad menyebutkan, ketika dapat menghitung dengan mandiri, pelaku pasar modal serta broker tidak gampang terhasut pengumuman rating agency seperti MSCI.

Kata dia, salah satu hal yang terjadi setelah MSCI mengeluarkan pengumuman soal rencana penyesuaian klasifikasi pasar modal Indonesia adalah sebagian masyarakat belum percaya diri untuk menghitung sendiri.

"Nah kalau kita sudah bisa melakukan hitungan sendiri, Insya Allah kita tidak akan gampang panik ketika ada pengumuman-pengumuman seperti ini," tuturnya.

"Jadi apa yang terjadi sekarang ini adalah karena investor domestik terlalu gampang panik karena nggak ngitung. Bukan nggak ngitung, sorry. Saya ulangi ya. Karena mungkin belum pd untuk berhitung sendiri," sambung Dradjad.

Untuk diketahui, dalam dokumen konsultasinya, MSCI menyoroti berbagai persoalan mendasar yang masih membelenggu pasar keuangan Indonesia. Masalah utama yang disoroti meliputi opasitas struktur kepemilikan saham yang persisten serta dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi (coordinated trading behavior) yang mencederai mekanisme pembentukan harga yang wajar (proper price formation).

"Para pelaku pasar telah mengangkat kekhawatiran yang signifikan mengenai kelayakan investasi di pasar ekuitas Indonesia, termasuk kurangnya transparansi yang persisten dalam struktur kepemilikan dan dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi,” ungkap MSCI dalam laporan peninjauannya, Jumat (16/10/2026).

Meskipun otoritas Indonesia telah mengumumkan serangkaian reformasi, seperti peningkatan keterbukaan pemegang saham di atas 1 persen, pengungkapan klasifikasi investor yang lebih rinci, pelaporan Konsentrasi Kepemilikan Tinggi (High Shareholding Concentration / HSC), serta peta jalan kepemilikan saham publik (free float) minimum 15 persen, pasar menilai langkah tersebut belum menunjukkan hasil yang konsisten.

"Namun, para pelaku pasar telah mengindikasikan bahwa hingga saat ini, kemajuan yang memadai belum terlihat secara konsisten di seluruh pasar ekuitas Indonesia. Kekhawatiran yang signifikan tetap ada seputar disfungsi pasar, termasuk dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi yang masih terus terjadi dan kurangnya bukti penegakan hukum yang berarti," kata pihak MSCI.

Baca juga artikel terkait SAHAM atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Andrian Pratama Taher