Menuju konten utama

Upah Buruh Garmen Bangladesh: Tuk Makan Susah, Boro-Boro Sekolah

Bangladesh adalah negara pengekspor pakaian terbesar kedua di dunia saat ini. Namun, industri garmen di sana tidak memberikan upah layak bagi buruh.

Upah Buruh Garmen Bangladesh: Tuk Makan Susah, Boro-Boro Sekolah
[Ilustrasi] Buruh bekerja di sebuah pabrik garmen di provinsi Bac Giang, dekat Hanoi 21 Oktober 2015.Industri pakaian dan alas kaki Vietnam akan tumbuh pesat dengan adanya Trans Pacific Partnership (TPP), ditunjang oleh ekspor sebesar USD 31 miliar dari merek seperti Nike, Adidas, H&M, Gap, Zara, Armani, dan Lacoste. Foto: REUTERS / Kham TPX OF THE DAY
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Selama empat hari terakhir, para pekerja pabrik garmen di Bangladesh telah menggalang aksi unjuk rasa. Mereka memilih turun ke jalan usai frustrasi dengan upah rendah di tengah biaya hidup yang terus melambung tinggi. Salah satu buruh bahkan menuturkan bahwa kecilnya upah yang ia terima telah memaksa anaknya putus sekolah.

Seturut Reuters, unjuk rasa buruh garmen di Bangladesh dilaporkan berlanjut pada Selasa (3/11/2026). Hal ini membuat gelombang unjuk rasa ini telah memasuki hari keempat sejak pertama pecah pada Sabtu (31/10) lalu.

Para buruh yang marah dilaporkan berupaya untuk memblokade jalan raya utama di sejumlah titik di Ibu Kota Dhaka dan sekitarnya, termasuk kawasan industri Ashulia, Gazipur, dan Mirpur. Hal itu memicu bentrokan terjadi antara para buruh dan polisi di tengah gas air mata yang mengepul di sana sini.

Aksi protes juga disebut mengganggu operasional pabrik-pabrik dan jalur transportasi sektor ekspor. Laporan BBC menyebut bahwa ratusan pabrik garmen di Bangladesh kini terpaksa menangguhkan operasional mereka imbas unjuk rasa yang terus meluas.

Reuters melaporkan para pelaku industri garmen kini mulai mengkhawatirkan gelombang protes yang terjadi dapat berimbas pada pengiriman barang.

Bagi Bangladesh, industri garmen merupakan salah satu penyokong utama ekonomi negara itu. Sedikitnya empat juta orang di Bangladesh bekerja pada sektor garmen dan produk yang mereka hasilkan merupakan muasal dari 80 persen pendapatan ekspor negara.

Garmen yang diproduksi oleh tangan-tangan buruh di Bangladesh juga telah menjadi bahan baku bagi berbagai produsen fesyen di dunia. Mulai dari H&M, Zara, Levi Strauss hingga Gap merupakan beberapa merek fesyen ternama yang memanfaatkan bahan baku produk dari Bangladesh.

Namun, para pelaku usaha garmen di Bangladesh khawatir reputasi itu akan terdampak oleh gelombang protes. Kekhawatiran mereka didasarkan pada ketatnya persaingan dengan negara lain macam Vietnam dan India di pasar global.

Hanya saja, kendati pelaku industri mulai khawatir tentang dampak aksi protes berkepanjangan yang berpotensi memengaruhi bisnis mereka, pilihan para buruh untuk turun ke jalan tidak datang dari ruang hampa. Mereka tak lagi punya pilihan setelah upah yang selama ini mereka terima tak lagi mampu melonggarkan cekikan biaya hidup yang terus melambung.

Upah Tak Lagi Cukup Jadi Nafkah, Anak Terpaksa Berhenti Sekolah

Menukil laporan Al Jazeera, para buruh di Bangladesh menyebut keputusan mereka untuk menggelar aksi protes berkelanjutan muncul karena rendahnya upah yang diterima. Besaran upah tak lagi mampu menyokong kehidupan sehari-hari. Kebutuhan hidup dasar dinilai jadi makin mahal dan tak lagi tergapai oleh para buruh dalam beberapa tahun terakhir.

Laili Begum, salah satu buruh yang turut serta dalam aksi unjuk rasa, mengatakan rendahnya upah yang ia terima bahkan telah berdampak pada anak-anaknya. Dalam keterangannya untuk Al Jazeera, ia mengeluh kesulitan untuk hanya menyediakan makanan yang layak.

“Kami hampir tidak mampu membeli satu kali makan yang layak dalam sehari. Pagi ini, kami hanya makan nasi dan camilan bawang bombay. Tidak ada makan siang. Kami terpaksa menahan lapar,dengan harapan bisa makan layak malam nanti. Kemarin pun sama. Beginilah cara kami bertahan hidup sekarang,” katanya.

Begum merupakan operator jahit berpengalaman yang bekerja di Virtual Bottoms Limited di Ibu Kota Dhaka. Ia mengatakan upah bulanan yang ia terima berkisar pada angka 15.000 taka (sekitar Rp2,1 juta). Jumlah tersebut dapat meningkat jadi 20.000 taka (sekitar Rp2,9 juta) jika bekerja lembur.

Akan tetapi, di tengah inflasi yang terus melambungkan biaya hidup, upah saat ini tak lagi bisa menjamin kehidupan layak keluarga Begum. Dua anaknya, masing-masing berusia 15 dan 12 tahun, disebutnya telah putus sekolah setelah biaya pendidikan menengah tak lagi terjangkau.

“Anak laki-laki saya sangat kurus sampai-sampai tulang rusuk di dadanya bisa dihitung. Apa lagi yang bisa saya lakukan?” katanya.

Rasel Khan, buruh garmen lain di Ashulia, juga menggambarkan situasi serupa Begum. Kepada Al Jazeera, ia menuturkan bahwa upah bulanannya dapat menjadi 20.000 taka (Rp2,9 juta) jika lembur, namun hal itu tak lagi cukup untuk hidup sehari-hari.

Khan menyebut bahwa upah tersebut merupakan tumpuan bagi keluarganya yang terdiri dari istri, anak, ibunya, dan adik laki-lakinya. Uang sebesar 20.000 taka disebutnya tak pernah cukup untuk menafkahi para anggota keluarga tersebut. Ia kini memiliki utang sekitar 100.000 taka (sekitar Rp14 juta) hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Sudah tidak mungkin lagi menghidupi keluarga dengan penghasilan sebesar ini. Harga-harga terus naik, dan kami terpaksa berutang hanya untuk bertahan hidup,” katanya.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI GARMEN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar