tirto.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Washington tengah mempertimbangkan kemungkinan melancarkan serangan terhadap Iran paling cepat pada Minggu (25/10/2026). Di tengah kebuntuan diplomasi, Trump menyatakan AS dapat kembali melancarkan operasi militer atau mencapai kesepakatan dengan Teheran.
“Kami sedang mempertimbangkannya, dan mungkin besok,” kata Trump kepada wartawan pada Sabtu (24/10/2026), ketika ditanya mengenai kemungkinan serangan tersebut, sebagaimana dilaporkan Anadolu.
Meski begitu, Trump juga menolak memberikan kepastian mengenai rencana militer Washington.
“Apakah kalian benar-benar berpikir saya akan memberi tahu kalian jika saya akan melakukannya?” ujarnya.
Meski membuka kemungkinan serangan, Trump mengatakan Iran masih dapat menghindari eskalasi militer dengan mencapai kesepakatan bersama AS. Namun, dia mempertanyakan komitmen Teheran untuk mematuhi kesepakatan yang dicapai.
“Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi masalahnya adalah, apakah mereka akan mematuhi kesepakatan itu?” kata Trump.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump pada Jumat (23/10/2026) mengatakan bahwa dirinya mungkin akan kembali melancarkan serangan melalui operasi yang disebut Epic Fury. Nama tersebut merupakan kode operasi militer AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari.
Iran Ancam Respons Lebih Besar
Di Teheran, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyalahkan AS atas gagalnya perundingan kesepakatan sementara. Dia menyebut Amerika sebagai “pengecut” yang telah “mengacaukan semuanya”. Meski begitu, dia menegaskan Iran tetap harus berupaya menuntaskan kesepakatan.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa serangan terbatas sekalipun akan dibalas dengan respons yang “beberapa kali lebih besar”. Pernyataan itu dilaporkan kantor berita Fars, yang dikenal berafiliasi semiresmi dengan pemerintah Iran, sebagaimana dikutip Al Jazeera.
Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Ali Abdollahi, pada Sabtu menyatakan militer AS tidak akan diizinkan masuk ke kawasan Teluk “dalam keadaan apa pun dan kapan pun”. Dia mengatakan Trump hanya bisa “bermimpi” melihat pasukan AS memasuki Teluk, dan akan membawa mimpi itu sampai ke liang kubur.
Diplomasi di Istanbul
Menurut Al Jazeera, perundingan yang dimediasi antara Iran dan AS belum menunjukkan kemajuan menuju kesepakatan.
Di sisi lain, sejumlah kekuatan regional dan Eropa menggelar pertemuan koordinasi di Istanbul, Turki, pada Jumat. Diplomat senior dari Turki, Arab Saudi, Pakistan, dan Mesir bertemu perwakilan Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia. Baik AS maupun Iran tidak hadir.
“Kami sepakat bahwa serangan baru terhadap Iran akan memperluas perang dan menyebarkan konflik ke seluruh kawasan,” kata Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, seusai pertemuan.
“Intervensi militer di Iran sama sekali bukan solusi. Tidak ada pihak yang mendukungnya saat ini,” tambahnya.
Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, mengatakan pemerintahnya menilai Iran dan kelompok Houthi bertanggung jawab atas ketidakstabilan di Timur Tengah. Namun, para menteri luar negeri empat negara regional dalam pertemuan itu mengeluarkan pernyataan bersama yang menyebut “pendudukan Israel merupakan sumber utama ketidakstabilan di kawasan dan sekitarnya”.
Keempat negara regional tersebut juga mendukung nota kesepahaman Islamabad yang ditandatangani pada Juni, serta penyelesaian melalui perundingan. Mereka menuntut jalur pelayaran di Selat Hormuz dibuka tanpa pembatasan.
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id
































