Menuju konten utama

Singapura Beri Subsidi Berobat bagi Warga Terdampak Kabut Asap

Singapura membatasi biaya berobat akibat kabut asap maksimal SGD10 atau Rp139 ribu. Subsidi diberikan di tengah memburuknya kualitas udara.

Singapura Beri Subsidi Berobat bagi Warga Terdampak Kabut Asap
(DOKUMENTASI) Seorang pejalan kaki yang mengenakan masker berjalan di sepanjang kawasan Marina Bay, sementara gedung-gedung tampak diselimuti kabut asap di Singapura pada 12 Oktober 2026. (Foto oleh Roslan RAHMAN / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Singapura luncurkan subsidi biaya pengobatan bagi warganya yang terdampak kabut asap. Subsidi ini resmi berlaku mulai Senin (12/10/2026), di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda Indonesia.

The Straits Time melaporkan bahwa subsidi ini membuat biaya pengobatan penyakit dampak kabut asap tidak akan lebih dari SGD10 atau sekitar Rp139.000. Sedangkan, para lansia di atas 68 tahun akan mendapatkan subsidi lebih besar, membuat biaya yang perlu dibayar tak lebih dari SGD5 atau sekitar Rp69.000.

Subsidi ini dilaporkan tersedia bagi para penduduk yang memenuhi syarat. Mereka adalah anak-anak di bawah 18 tahun, warga berusia lebih dari 65 tahun, dan mereka yang termasuk penerima manfaat Bantuan Kesehatan Masyarakat dan Kartu Pembebasan Biaya Medis.

Sementara itu, subsidi ini dapat digunakan dalam pengobatan sejumlah kondisi medis, termasuk rinitis alergi, asma, bronkitis, konjungtivitis, penyakit paru obstruktif kronis, dan infeksi saluran pernapasan atas.

Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung, dalam keterangannya pada Minggu (11/10), menyatakan bahwa subsidi ini dirilis imbas kualitas udara Singapura yang terus memburuk akibat kabut asap.

Seturut AP, subsidi tersebut diluncurkan bersamaan dengan situasi kabut asap yang memburuk di Singapura. Pada Senin, kabut asap telah membuat Singapura menjadi kota dengan udara paling tercemar di dunia menurut lembaga pemantau kualitas udara asal Swiss, IQAir.

Singapura sebelumnya pernah menerapkan subsidi serupa pada 2015 lalu. Kala itu, subsidi juga diberikan untuk menangkal dampak kabut asap yang terjadi akibat kebakaran hutan di Indonesia.

Dalam kesempatan berbeda, Ong menyatakan bahwa situasi kabut asap yang kini melanda Singapura diperkirakan akan berbeda dari kondisi serupa pada 2015 lalu. Tahun ini, Pemerintah Singapura memperkirakan kabut asap akan berlangsung lebih lama akibat krisis iklim dan musim kemarau yang lebih panjang di Indonesia.

Menurut laman Sipongi yang dikelola Kementerian Kehutanan RI, jumlah titik api yang tertangkap citra satelit NASA-TERRA/AQUA masih berada di angka 1029, per Selasa (13/10). Kalimantan dan Sumatra juga masih tercatat jadi wilayah dengan wilayah konsentrasi titik api tertinggi dalam laman tersebut.

Singapura Hadapi Peningkatan Jumlah Pasien

Dalam keterangan terpisah pada Minggu, Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung menyebut bahwa pihaknya kini tengah menyoroti peningkatan jumlah pasien dengan masalah pernapasan dalam beberapa pekan terakhir, sebagaimana dilaporkan CNA.

Ong menjelaskan bahwa fenomena peningkatan pasien itu terjadi di fasilitas unit gawat darurat dan poliklinik. Kabut asap akibat karhutla di Indonesia disebutnya turut berperan dalam peningkatan ini, selain fenomena peningkatan infeksi Influenza A yang tengah berlangsung di Asia Tenggara.

Kondisi itu, kata Ong, membuat pihaknya kini mendorong publik Singapura untuk turut membantu ketersediaan slot perawatan di unit instalasi gawat darurat. Ia menyebut unit tersebut kini diprioritaskan untuk perawatan serius.

“Kami sangat berhati-hati dalam melindungi sumber daya tersebut karena orang perlu pergi ke sana untuk situasi hidup dan mati,” katanya.

Baca juga artikel terkait KABUT ASAP atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dipna Videlia Putsanra