tirto.id - Di tengah kabut asap yang melanda Malaysia, tiga siswa kakak beradik di Pontian, Johor tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas pada Kamis (8/10/2026). Kecelakaan itu dilaporkan terjadi ketika kakak beradik itu sedang memeriksa keabsahan informasi penutupan sekolah imbas kabut asap.
Menukil Malay Mail, insiden tersebut terjadi di Jalan Kampung Parit Haji Siraj, Kayu Ara Pasong, Pontian. Korban merupakan tiga bersaudara yang terdiri dari Nor Daniel Aiman (18), Nor Daniel Fikri (11), dan Puteri Naufa Raisha (8).
Kecelakaan disebut terjadi pada Kamis pagi. Saat itu, Nor Daniel Aiman pergi untuk mengantarkan Nor Daniel Fikri dan Putri Naufa Raisha ke sekolah mereka.
Sekolah Fikri dan Raisha, Sekolah Kebangsaan (SK) Parit Sapran, sebenarnya tengah diliburkan pada hari itu. Pemerintah Johor sebelumnya telah mengumumkan bahwa pembelajaran di negara bagian tersebut diliburkan hingga akhir pekan imbas kabut asap yang melanda wilayah tersebut.
Informasi penangguhan aktivitas pembelajaran ini juga sebenarnya telah diinformasikan kepada kakak beradik itu oleh ibu mereka, Julaiha Munaji (44). Namun, Fikri dan Raisha tak betul-betul yakin dengan informasi tersebut.
Pada Kamis, Fikri bahkan tetap memakai seragam dan meminta untuk diantarkan ke sekolah untuk memeriksa kebenaran informasi tersebut. Hal itu kemudian membuat Raisha juga meminta untuk ikut.
Hal itu kemudian membuat kakak laki-laki mereka, Nor Daniel Aiman, mengantarkan dua adiknya itu ke sekolah. Aiman mengantar adiknya dengan sepeda motor.
Menukil South China Morning Post, ketiga kakak beradik itu kemudian sampai di sekolah dan mendapatinya tutup. Mereka kemudian kembali ke rumah, namun mengalami kecelakaan ketika pulang.
Kepala Kepolisian Pontian Supt Hazrat Hussein Mion Hussain menyatakan bahwa kecelakaan tersebut terjadi sekitar pukul 07.20 waktu setempat. Ketiga kakak beradik itu disebut bertabrakan dengan sebuah truk yang berjalan dari arah berlawanan.
Dalam insiden nahas itu, Fikri dan Raisha tewas di tempat. Sementara kakak mereka, Aiman, meninggal ketika dibawa ke rumah sakit setelah berada dalam kondisi kritis.
“Saya merasa seperti akan pingsan ketika mendengar berita itu. Saya hanya bisa membaca istighfar, dan air mata mengalir di wajah saya tanpa saya sadari,” tutur ibu para korban, Julaiha, pada Jumat (9/10).
Menurut bibi para korban, Norimah Khamis (40), Fikri merupakan keponakannya yang sangat giat sekolah. Anak berusia 11 tahun itu dikenangnya jarang membolos, bahkan ketika jatuh sakit.
“Nordaniel Fikri sangat suka pergi ke sekolah dan jarang bolos kelas. Bahkan saat dia merasa tidak enak badan, dia tetap bersikeras untuk tetap masuk sekolah,” kata Norimah.
Ayah para korban, Norlizan Khamis Norlizan, menyebut bahwa insiden ini membuat semua anggota keluarganya syok. Ketiga anaknya yang tewas itu dikenangnya sebagai anak yang baik hati dengan tutur kata dan perilaku yang juga baik.
“Saya tidak menyangka pagi ini akan menjadi terakhir kalinya saya melihat mereka hidup-hidup,” katanya pada Kamis.
Di Malaysia, Johor merupakan salah satu wilayah yang paling terdampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah terjadi di Pulau Kalimantan dan Sumatra. Indeks kualitas udara di Johor terus berada di tingkat yang tidak sehat selama berminggu-minggu.
Situasi itu pula yang menyebabkan Pemerintah Negara Bagian Johor memilih untuk meliburkan seluruh sekolah di wilayahnya hingga akhir pekan. Hal ini berarti lebih dari 617.000 siswa terpaksa libur dari sekolah.
Pada Kamis, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan telah berkomunikasi dengan Presiden RI Prabowo Subianto terkait situasi kabut asap. Meski tak memberikan rincian lebih lanjut, Anwar Ibrahim menyebut ada kesepakatan yang tercapai dalam komunikasi tersebut.
Malaysia sebelumnya juga mendorong pertemuan para menteri bidang lingkungan se-ASEAN. Pertemuan itu disebut perlu dilakukan demi mengatasi kabut asap imbas karhutla di Indonesia.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































