tirto.id - Romy Bareno baru-baru ini ditunjuk jadi Komisaris Independen PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau InJourney Airports Indonesia. Romy merupakan seorang politikus partai, namun bagaimana sosoknya selama ini dikenal publik?
Sebelumnya, penunjukkan Romy sebagai komisaris BUMN itu terjadi pada Rabu (16/9/2026). Jabatan itu diberikan kepada anak jurnalis senior Karni Ilyas itu dalam Keputusan Para Pemegang Saham Perusahaan Perseroan PT Angkasa Pura Indonesia tertanggal 16 September 2026
Romy ditunjuk sebagai komisaris untuk menggantikan Abdul Muis. Sebelumnya, Abdul Muis menjabat sebagai komisaris independen PT Angkasa Pura Indonesia sejak 6 September 2024.
Dengan penunjukan itu, Romy kini bersanding dengan sejumlah nama sebagai komisaris independen BUMN pengelola bandara komersial di indonesia itu. Selain Romy, jabatan serupa kini turut dijabat oleh Djamaluddin, Imelda Sari, Eva Yuliana, dan Yunus Nusi.
Profil Romy Bareno
Sebelum kini menjabat sebagai komisaris BUMN, Romy Bareno dikenal sebagai seorang jurnalis yang kemudian banting setir jadi politisi. Ia kini tercatat sebagai kader Partai Amanat Nasional (PAN).
Sebagai seorang anak jurnalis senior nan kondang di Indonesia, Romy memiliki rekam jejak pendidikan yang mentereng. Gelar sarjananya didapat dari Ohio Wesleyan University, Amerika Serikat (AS) di bidang Ilmu Politik. Ia juga memiliki gelar master di bidang media dari University of Westminster, London, Inggris.
Riwayat pendidikan itu semula membawa Romy ke ranah jurnalistik. Seperti ayahnya, Romy juga pernah meniti karier sebagai jurnalis televisi.
Ia tercatat sebagai reporter Metro TV pada 2006-2007. Dari sana, ia kemudian menjadi Asisten Produser TV One pada 2007-2014. Hingga akhirnya, ia menjadi Produser TV One pada 2014 hingga 2019.
Selama menjadi jurnalis untuk TV One, Romy turut terlibat dalam program acara “Indonesia Lawyers Club” yang dipandu ayahnya. Romy disebut sempat menjadi bagian dari tim riset program itu.
Namun, setelah lebih dari satu dekade jadi jurnalis, Romy lalu memilih untuk banting setir. Dari media massa, ia kemudian memilih untuk meniti karier di dunia politik praktis.
Semula, Romy memulai perjalanannya di dunia politik bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Ia bergabung dengan partai berlogo kepala banteng itu sebagai kader.
Akan tetapi pada Maret 2018, Romy mengundurkan diri sebagai kader PDI-P. Pengunduran dirinya itu dilakukan tak lama sebelum ia bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN).
Pada 2019, Romy kemudian mencoba peruntungannya jadi anggota dewan. Ia ikut dalam kontestasi Pemilu Legislatif 2019 sebagai calon anggota DPR RI dari PAN.
Romy kala itu maju sebagai calon legislatif untuk Dapil Jawa Barat VI yang meliputi daerah pemilihan Kota Depok dan Bekasi. Namun, jumlah suara yang dihimpun Romy tak cukup untuk membawanya ke Senayan.
Meski begitu, kegagalan pada pemilu legislatif itu kemudian membawanya ke tempat yang lain. Pada 2021, Romy ditunjuk menjadi komisaris pada PT LRT Jakarta, anak perusahaan BUMD PT Jakarta Propertindo (Jakpro) pengelola moda transportasi LRT.
Jabatan sebagai komisaris pada PT LRT Jakarta itu kemudian membuat Romy berkewajiban untuk melaporkan harta kekayaannya. Hal ini seiring jabatan komisaris pada perusahaan pelat merah termasuk sebagai penyelenggara negara.
Pada 2023, Romy melaporkan harta kekayaannya dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) KPK. Kala itu, ia tercatat memiliki kekayaan senilai Rp4,8 miliar.
Total kekayaan itu dimiliki Romy dari sejumlah aset. Aset dengan nilai terbesar adalah satu aset tanah di Jakarta Selatan yang dibanderol dengan nilai Rp3,4 miliar.
Kemudian, Romy juga melaporkan kepemilikan sebuah mobil tipe Nissan Livina dengan nilai Rp248 juta. Ia juga melaporkan kepemilikan harta berupa kas dan setara kas senilai Rp1,1 miliar kala itu.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id






































